Ironi Nasionalisme yang Membunuh Anak Kandungnya Sendiri

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 18:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ihwan Kadir

Pendiri Poros Musyawarah Masyarakat Blok Lapaopao (PORMMAL)

Teropongrakyat.co – Ada sesuatu yang mulai terasa ganjil dalam arah hilirisasi nikel Indonesia hari ini. Di depan publik, pemerintah bicara tentang nasionalisme, tentang kedaulatan sumber daya alam, tentang bagaimana Indonesia tidak boleh lagi dijajah asing melalui ekspor bahan mentah.

Tetapi ketika ada perusahaan nasional murni yang benar-benar mencoba membangun smelter dengan darah, keringat, dan modal anak bangsa sendiri – negara justru tampak dingin.

Dan nama yang hari ini paling layak dimintai jawaban atas paradoks itu adalah Bahlil Lahadalia. Karena di tangan Bahlil, hilirisasi berubah menjadi panggung besar nasionalisme industri.

Namun di saat bersamaan, keresahan mulai menjalar pelan di kawasan-kawasan lingkar tambang. Bukan keresahan elite. Tetapi keresahan rakyat biasa.

Pedagang kecil mulai mengeluh omzet turun, kontraktor lokal mulai kehilangan ritme kerja, sopir hauling mulai takut kendaraan mereka berhenti beroperasi, warung-warung mulai sepi, dan masyarakat mulai bertanya:
kalau industri melambat, kami harus makan apa?

Di Morowali Utara, perlambatan industri smelter mulai berdampak nyata terhadap ekonomi masyarakat lingkar tambang. Sejumlah kios dilaporkan terancam tutup akibat stagnasi aktivitas kontraktor tambang dan gejolak PHK pekerja kontrak.

Di Kolaka Sulawesi Tenggara, ratusan masyarakat adat bahkan turun melakukan aksi menuntut aktivitas tambang kembali berjalan karena ekonomi warga ikut lumpuh saat operasi berhenti.

Baca Juga:  KSOP Kelas II Marunda Fokus Tingkatkan Sistem Pelayanan untuk Meningkatkan Kepuasan Masyarakat

Sementara di berbagai wilayah industri nikel, tren PHK mulai menghantui. Empat smelter besar di Sulawesi dilaporkan menghentikan sebagian lini produksi akibat tekanan harga nikel dan lemahnya permintaan global.

Di Bantaeng, Sulawesi Selatan, smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia bahkan menghentikan operasional dan merumahkan pekerja tanpa kepastian waktu.

Di Kabaena, Bombana, lebih dari 800 pekerja terkena PHK setelah penghentian operasi tambang.

Dan sekarang pemerintah justru bicara tentang pemangkasan produksi nasional demi menjaga harga global.

Pertanyaannya sederhana: apakah pemerintah benar-benar menghitung dampak sosial dari kebijakan ini?

Di Jakarta, pengurangan RKAB mungkin hanya terlihat sebagai angka statistik. Tetapi di lingkar tambang, itu berarti: cicilan motor terancam macet, anak sekolah bisa berhenti kuliah,rumah makan kehilangan pelanggan, dan ekonomi desa bisa lumpuh perlahan.

Inilah yang sering tidak terlihat dalam pidato-pidato nasionalisme. Bahwa industri nikel hari ini bukan sekadar soal hilirisasi dan devisa negara.
Ia sudah menjadi denyut hidup masyarakat kawasan tambang.

Ironisnya, di tengah badai itu, perusahaan nasional murni justru terlihat paling rapuh. Ceria Group, melalui proyek Smelter Merah Putih di Kolaka adalah contoh nyata PMDN yang mencoba berdiri di tengah dominasi modal asing. Statusnya bukan hanya merupakan PMDN, PSN, tetapi juga sekaligus Objek Vital Nasional.

Baca Juga:  Ancol Taman Impian: Meriahkan Hari Anak Nasional Dengan Lomba Mewarnai, Lagu Edukasi, dan Hiburan Seru

Dan justru karena itulah publik mulai mempertanyakan: mengapa negara tidak terlihat lebih agresif melindungi industri nasionalnya sendiri?

Semua orang tahu: perusahaan asing punya bantalan modal global.

Mereka punya akses bank internasional.
Mereka punya supply chain lintas negara.
Mereka punya daya tahan panjang.

Tetapi PMDN seperti Ceria? Mereka bertarung sambil menjaga napas. Siapa yang berkewajiban membantunya kecuali Negara? Dan di sinilah luka itu mulai terasa dalam.

Negara begitu keras bicara tentang kedaulatan ekonomi, tetapi ketika ada industri nasional yang benar-benar mencoba membangun “Smelter Merah Putih”, dukungan nyata terasa tidak sebanding dengan risiko yang mereka tanggung.

Nasionalisme akhirnya terdengar seperti slogan yang kehilangan keberpihakan. Padahal, nasionalisme sejati itu bukan sekadar melarang ekspor mentah.

Nasionalisme sejati adalah: memastikan anak bangsa tidak tumbang lebih dulu di rumahnya sendiri.

Sebab kalau perusahaan nasional mulai melemah, lalu masyarakat lingkar tambang mulai resah, sementara pemain asing tetap bertahan dengan kekuatan modalnya, maka sejarah akan mencatat ironi paling pahit dalam hilirisasi Indonesia:
negara terlalu sibuk meneriakkan “Merah Putih”,
tetapi gagal menjaga rakyat dan industri nasional yang benar-benar sedang memikulnya. Gagal menjaga Merah Putih-nya sendiri.

Berita Terkait

Sukseskan Mudik 2026, Pt Api Dukung Penuh Program Mudik Aman Berbagi Harapan Bersama Pelindo Group
Pelindo Berbagi: Pt Akses Pelabuhan Indonesia Bagikan Takjil Dan Sembako Sebagai Wujud TJSL
Dukung Arus Mudik Lebaran 2026, Jalan Tol Cibitung-cilincing (JTCC) Diskon Tarif TOL Mulai 30%
Inovasi Jadi Kunci: SPSL Siapkan SDM Unggul Lewat Program SPRINT yang Berkelanjutan
Delman Kuningan: Bukan Sekadar Transportasi, Tapi Identitas yang Tak Boleh Hilang
PTP Nonpetikemas Cabang Banten Dukung Arus Mudik Motor dan Truk Sembako ke Sumatera
Dukung Ibadah Ramadan Warga Ring 1, IPC TPK Gelar Karpet di 8 Masjid Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok
IPC TPK Fasilitasi 500 Pemudik Tujuan Semarang di Idul Fitri 1447 H

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 18:30 WIB

Ironi Nasionalisme yang Membunuh Anak Kandungnya Sendiri

Senin, 30 Maret 2026 - 12:22 WIB

Sukseskan Mudik 2026, Pt Api Dukung Penuh Program Mudik Aman Berbagi Harapan Bersama Pelindo Group

Senin, 30 Maret 2026 - 11:56 WIB

Pelindo Berbagi: Pt Akses Pelabuhan Indonesia Bagikan Takjil Dan Sembako Sebagai Wujud TJSL

Kamis, 26 Maret 2026 - 12:54 WIB

Dukung Arus Mudik Lebaran 2026, Jalan Tol Cibitung-cilincing (JTCC) Diskon Tarif TOL Mulai 30%

Rabu, 25 Maret 2026 - 15:05 WIB

Inovasi Jadi Kunci: SPSL Siapkan SDM Unggul Lewat Program SPRINT yang Berkelanjutan

Berita Terbaru

Opini

Ironi Nasionalisme yang Membunuh Anak Kandungnya Sendiri

Senin, 18 Mei 2026 - 18:30 WIB

Maritim

Empat Unit QCC Kini Perkuat Kinerja IPC TPK Panjang

Senin, 18 Mei 2026 - 14:38 WIB