Yogyakarta – Teropongrakyat.co – (16/6/02026) – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Santri Indonesia (DPP FOKSI) sekaligus mantan Aktivis Mahasiswa Jogja, Muhammad Natsir, menyesalkan sekaligus mengecam keras aksi pembubaran diskusi Total Politik di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menghadirkan narasumber Sudaryono, Budiman Sudjatmiko, dan Nusron Wahid.
Muhammad Natsir menilai tindakan sekelompok oknum mahasiswa tersebut merupakan bentuk standar ganda dan kontradiksi nyata dalam berdemokrasi.
“Ini adalah ironi yang memalukan dalam dunia pergerakan. Selama ini, mahasiswa selalu berteriak paling lantang dan marah besar jika ada diskusi mereka yang dilarang atau dibubarkan oleh aparat atau pemerintah. Mereka selalu menuduh pihak lain anti-demokrasi. Tapi hari ini, di kampus UGM, mahasiswa justru memosisikan diri mereka sendiri sebagai pelaku pembubaran diskusi ilmiah hanya karena tidak siap mendengar pandangan politik yang berbeda,” ujar Natsir dalam keterangan resminya di Yogyakarta.

Natsir menegaskan bahwa esensi dari Reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pendahulu di Yogyakarta adalah untuk menjamin kebebasan mimbar akademik, bukan untuk membenarkan tindakan fasisme jalanan oleh sesama mahasiswa.
Tindakan anarkis seperti merusak fasilitas kampus, memukuli mobil menteri, hingga melontarkan umpatan kasar amoral dinilai telah mencoreng nama baik UGM sebagai kampus kerakyatan dan kebudayaan.
“Demokrasi itu menjamin kebebasan berekspresi, namun harus dipertanggungjawabkan secara akademik, bukan dengan premanisme dan pemaksaan kehendak. Jika mereka punya kajian yang kuat, datangi forum itu, bantah argumen narasumber di meja debat.
Bukan malah bertindak tolol dengan membubarkannya,” tambahnya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, Muhammad Natsir secara terbuka menantang oknum-oknum mahasiswa pelaku pembubaran tersebut untuk melakukan debat ilmiah secara terbuka dengan dirinya kapan saja. DPP FOKSI juga mendesak Rektorat UGM untuk segera mengusut tuntas dan menjatuhkan sanksi disiplin yang tegas kepada para oknum yang terlibat demi menjaga marwah akademis kampus.
Narahubung:
Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Santri Indonesia (DPP FOKSI) (Red)



























































