Potret: dok-ilustrasi
Oleh : Rocky A. Karim / teropongrakyat.co
Teroponkrakyat.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto sejatinya lahir dengan tujuan yang baik, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, berbagai persoalan yang muncul di lapangan menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran publik.
Masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas program tersebut ketika muncul dugaan penyimpangan, ketidaktransparanan pengelolaan anggaran, hingga kekhawatiran adanya pihak-pihak yang memanfaatkan program demi kepentingan pribadi. Apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat, program yang semula bertujuan mulia berpotensi kehilangan kepercayaan publik.
Di sisi lain, kenaikan harga BBM juga menjadi perhatian masyarakat. Meskipun tidak semua jenis BBM mengalami kenaikan, masyarakat masih menghadapi persoalan klasik berupa distribusi yang kerap dikeluhkan. Tidak sedikit warga yang mengaku kesulitan mendapatkan BBM dengan alasan stok masih dalam perjalanan atau sedang kosong. Kondisi seperti ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan distribusi energi yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menilai pemerintah dari besarnya program yang diumumkan, tetapi juga dari hasil nyata yang dirasakan. Program sosial yang baik harus disertai pengawasan yang kuat, transparansi anggaran, serta pelayanan publik yang berjalan tanpa hambatan. Sebab keberhasilan kepemimpinan bukan hanya diukur dari banyaknya janji dan program, melainkan dari kemampuan menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan rasa percaya bagi rakyatnya.
Kritik yang disampaikan masyarakat seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan dianggap sebagai bentuk perlawanan. Dalam negara demokrasi, kritik adalah bagian penting untuk memastikan setiap kebijakan berjalan sesuai tujuan dan benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.



























































