Jakarta, TeropongRakyat. Co – Kritik yang disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat dukungan dari Direktur Eksekutif Pusat Studi Politik dan Pemerintahan Indonesia (Puspolrindo), Yohanes Oci. Ia menilai suara mahasiswa tersebut perlu dipandang sebagai masukan konstruktif untuk memperbaiki tata kelola program strategis pemerintah.
Menurut Yohanes Oci, kritik yang muncul dari kalangan mahasiswa tidak seharusnya dipersepsikan sebagai bentuk penolakan terhadap program MBG secara keseluruhan. Sebaliknya, pemerintah perlu membaca kritik tersebut sebagai peringatan agar implementasi program benar-benar tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.
“Dalam hal ini, pemerintah perlu membuka ruang evaluasi terhadap program MBG. Kritik dari BEM UGM harus dilihat sebagai energi korektif, bukan ancaman politik. Justru di situlah letak kontrol sosial dalam negara demokratis,” ujar Yohanes Oci (23/02/2026).
Lebih lanjut, Ia mendorong pemerintah untuk membangun komunikasi publik yang lebih terbuka agar tidak terjadi kesenjangan persepsi antara pembuat kebijakan dan masyarakat. Menurutnya, transparansi sejak tahap perencanaan hingga implementasi akan memperkuat legitimasi program dihadapan publik.
“Kritikan ini justru mengingat pemerintah agar lebih membangun komunikasi yang konstruktif dan terbuka untuk mendapatkan legitimasi program dihadapan publik,” tegasnya.
Yohanes juga mengingatkan bahwa partisipasi mahasiswa dan masyarakat sipil merupakan elemen penting dalam menjaga kualitas kebijakan publik. Karena itu, ia berharap pemerintah tidak defensif terhadap kritik, melainkan menjadikannya sebagai bahan penyempurnaan.
“Demokrasi yang sehat justru ditandai oleh pemerintah yang mau mendengar. Kritik BEM UGM ini momentum reflektif agar tata kelola MBG semakin baik, adaptif, dan berpihak pada kepentingan rakyat,” sambungnya.
Terkait dengan adanya tanggapan Istana terhadap kritikan tersebut harus disampaikan dengan penuh etika, Yohanes menegaskan bahwa jangan melihat sisi moralnya tapi lihat subtansi yang disampaikan karena itu kritik terhadap kebijakannya.
“Itu bukan menyerang pribadi Bapak Presiden sehingga dikaitkan ke etika dan moralitas. Yang dikritik oleh BEM UGM itu kan kebijakan pemerintahnya, jadi substansinya disitu,” pintahnya sambil ketawa.
Ia menekankan agar orang disekeliling Presiden Prabowo harus selektif dalam menyikapi kritikan.
“Mereka (orang sekeliling Presiden Prabowo) harus bijak menyikapi setiap kritikan. Bedakan kritik terhadap personal dan kritik terhadap kebijakan akibat dari jabatan yang diemban oleh seseorang” tutupnya.


























































