KERAJAAN PAJAJARAN DIAKHIR MASA KEJAYAAN

- Jurnalis

Minggu, 15 Desember 2024 - 07:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah – TeropongRakyat.co || Pada tahun 1579, Kerajaan Sunda yang megah, dengan ibukotanya di Pakuan Pajajaran, akhirnya runtuh. Setelah bertahan selama 909 tahun (669-1579 M), kerajaan ini sirna dari bumi, meninggalkan jejak sejarah yang penuh kisah heroik, kesedihan, dan perjuangan panjang menghadapi gempuran dari luar.

Namun jauh sebelum keruntuhannya, tanda-tanda kemunduran sudah mulai tampak, terutama sejak masa pemerintahan Prabu Surawisesa (1521–1535). Surawisesa adalah putra Prabu Sri Baduga Maharaja, lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi, seorang raja besar yang dikenang karena berbagai karya monumental seperti hutan Samida dan parit pertahanan Pakuan.

Surawisesa: Sang Pejuang Tak Kenal Lelah

Dalam naskah Carita Parahiyangan, Surawisesa dikenang sebagai raja pemberani, terlibat dalam 15 pertempuran selama 14 tahun pemerintahannya. Perang demi perang melawan kekuatan gabungan Demak dan Cirebon membuat kerajaannya terkikis sedikit demi sedikit. Armada Demak, di bawah pimpinan Fadillah Khan (yang disebut oleh Portugis sebagai Faletehan), menyerang wilayah Sunda dari pesisir utara, dengan serangan besar-besaran ke Banten dan Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).

Kerajaan Sunda sebenarnya telah mencoba mempertahankan diri melalui aliansi internasional dengan Portugis. Pada tahun 1522, perjanjian penting ditandatangani antara kedua pihak, yang memungkinkan Portugis mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Namun, upaya ini gagal membendung kekuatan Demak dan Cirebon yang terus merangsek ke wilayah-wilayah strategis.

Baca Juga:  DPD AKPERSI Sikapi Laporan Masyarakat, Lakukan Audensi Dengan BPJS Kesehatan

Kendati demikian, Surawisesa tidak menyerah begitu saja. Ia melakukan perlawanan gigih, termasuk mengerahkan pasukan dari Pakuan untuk mempertahankan pelabuhan penting seperti Kalapa dan Galuh. Namun, tekanan yang terus-menerus membuat wilayah kekuasaan Sunda tergerus sedikit demi sedikit.

Prasasti Batutulis: Kenangan di Tengah Kepiluan

Pada tahun 1533, Surawisesa mengabadikan jasa-jasa ayahnya dalam sebuah prasasti yang kini dikenal sebagai Prasasti Batutulis. Teks di prasasti ini memuat penghormatan kepada Sri Baduga Maharaja, menyebutkan berbagai pencapaian monumental yang ia tinggalkan. Kemungkinan besar, prasasti ini dibuat bertepatan dengan upacara srada, ritual penyempurnaan sukma setelah 12 tahun seorang raja wafat.

Prasasti ini menjadi saksi bisu kejatuhan Pakuan Pajajaran, menggambarkan sebuah masa di mana kemegahan perlahan digantikan oleh kehancuran.

Dari Ratu Dewata hingga Prabu Nilakendra: Perjalanan Menuju Akhir

Setelah Surawisesa, Pajajaran dipimpin oleh serangkaian raja yang menghadapi tantangan besar, baik dari luar maupun dari dalam. Ratu Dewata, penerus Surawisesa, berhadapan dengan serangan mendadak hingga ke alun-alun Pakuan. Walau serangan ini berhasil dipukul mundur, kerusakan yang ditimbulkan menunjukkan lemahnya pertahanan kerajaan saat itu.

Keadaan semakin memburuk pada masa pemerintahan Ratu Sakti (1543–1551) dan Prabu Nilakendra (1551–1567). Prabu Nilakendra mencoba memulihkan Pakuan dengan memperindah keraton dan memperbaiki infrastruktur, tetapi serangan musuh dari Cirebon dan Banten terus menghantui kerajaan.

Baca Juga:  Satpolairud Polres Kepulauan Seribu Gencarkan Patroli Dialogis Laut, Antisipasi Kejahatan dan Cuaca Buruk

Masyarakat mulai kehilangan kepercayaan pada pemerintahan. Pembangkangan meluas, sementara rakyat hidup dalam ketakutan akan serangan musuh yang datang sewaktu-waktu. Pajajaran semakin melemah, baik secara militer maupun spiritual.

Sirna Ing Bhumi: Keruntuhan yang Tak Terelakkan

Pada tahun 1579, pasukan Banten di bawah Maulana Yusuf melancarkan serangan besar-besaran ke Pakuan Pajajaran. Dengan kekuatan penuh, mereka berhasil menembus pertahanan yang selama ini menjadi kebanggaan kerajaan. Menurut naskah-naskah lama, termasuk Carita Parahiyangan, benteng Pakuan akhirnya jatuh karena pengkhianatan seorang komandan yang membuka gerbang bagi pasukan musuh.

Dengan jatuhnya Pakuan, kerajaan Hindu terakhir di Tanah Sunda pun lenyap. Pajajaran sirna ing bhumi, hilang dari muka bumi, meninggalkan kenangan pahit bagi rakyatnya. Pada saat itu, tanggal 11 Rabiulawal 987 Hijriah atau 8 Mei 1579 M menjadi penanda akhir dari sebuah peradaban besar.

Peninggalan yang Tak Ternilai

Meskipun telah sirna, jejak-jejak Pajajaran masih terasa hingga kini, baik melalui prasasti seperti Batutulis maupun kisah-kisah yang tertulis dalam naskah kuno. Nilai-nilai yang diwariskan oleh para raja Sunda, seperti keberanian, kehormatan, dan cinta terhadap tanah air, tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Keruntuhan Pajajaran bukan sekadar akhir sebuah kerajaan, melainkan awal dari babak baru sejarah Nusantara, yang terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa ini.

Penulis : Romli S.IP

Editor : Romli S.IP

Sumber Berita: Carita Parahiyangan / Arsip Nasional Indonesia

Berita Terkait

Owrite Goes to Campus Hadir di UI, Dorong Mahasiswa Berani Suarakan Isu Ekonomi dan Kreativitas
Sempat Diremehkan, Pemilah Sampah Surya bin Samid Terpilih Jadi Kades Mekarwangi Bekasi
Mabes Polri Janji Tangani Dugaan Penipuan Investasi Tambang Emas, Kuasa Hukum: Kami Pegang Komitmen Profesionalisme
Polsek Pondok Gede Gelar Sosialisasi Kamtibmas di SMKS Hutama, Ajak Pelajar Tolak Provokasi Unjuk Rasa dan Tawuran
Tiga Saksi Diperiksa dalam Sidang Nana Sutisna di PN Serang, Kuasa Hukum Soroti Perbedaan Keterangan dengan BAP
Hak Adat Dipersoalkan, Prianto Minta Aktivitas PT NPR Ditunda hingga Sengketa Lahan Tuntas
Kontingen Persinas ASAD Kota Pasuruan Raih 19 Medali di Madinah Van Java 2
Ahli Waris Natadipura Angkat Bicara, Soroti Penguasaan Lahan yang Diklaim Milik Keluarga di Warungkiara

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 14:26 WIB

Sempat Diremehkan, Pemilah Sampah Surya bin Samid Terpilih Jadi Kades Mekarwangi Bekasi

Jumat, 25 September 2026 - 13:56 WIB

Mabes Polri Janji Tangani Dugaan Penipuan Investasi Tambang Emas, Kuasa Hukum: Kami Pegang Komitmen Profesionalisme

Jumat, 25 September 2026 - 13:49 WIB

Polsek Pondok Gede Gelar Sosialisasi Kamtibmas di SMKS Hutama, Ajak Pelajar Tolak Provokasi Unjuk Rasa dan Tawuran

Kamis, 24 September 2026 - 23:17 WIB

Tiga Saksi Diperiksa dalam Sidang Nana Sutisna di PN Serang, Kuasa Hukum Soroti Perbedaan Keterangan dengan BAP

Kamis, 24 September 2026 - 13:28 WIB

Hak Adat Dipersoalkan, Prianto Minta Aktivitas PT NPR Ditunda hingga Sengketa Lahan Tuntas

Berita Terbaru

Seputar Desa

Bina Desa UPN “Veteran” Jatim Dorong UMKM Benowo Naik Kelas

Jumat, 25 Sep 2026 - 16:19 WIB