Malang, 21 April 2026 | teropongrakyat.co — Di tengah gempuran brand besar yang berlomba menguasai kota metropolitan, sebuah strategi berbeda justru menunjukkan hasil menjanjikan. Bukan Jakarta atau Surabaya, melainkan kota-kota second-tier seperti Kediri dan Madiun yang dipilih sebagai ladang ekspansi. Fenomena ini menjadi sorotan dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar dosen Manajemen UPN “Veteran” Jawa Timur melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama Owner CV Brewok Group, Linggar Ramawijaya.
Berawal dari warkop kecil di Malang pada tahun 2017, Brewok Group kini berkembang menjadi jaringan usaha yang memiliki beberapa cabang di Jawa Timur. Perjalanan ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa, melainkan strategi yang berbasis pemahaman pasar lokal dan kekuatan komunitas.
Linggar Ramawijaya mengungkapkan bahwa keputusan untuk tidak langsung masuk ke kota besar merupakan pilihan yang sadar dan strategis.
“Kami tidak ingin ikut ‘berisik’ di pasar yang sudah penuh. Justru di kota seperti Madiun dan Kediri, kami melihat ruang tumbuh yang lebih sehat. Konsumen di sana lebih menghargai kedekatan, bukan sekadar brand besar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan komunitas menjadi kunci utama keberhasilan ekspansi tersebut.
“Kalau masuk daerah, kita tidak bisa bawa identitas kota asal begitu saja. Harus membaur. Kami banyak berinteraksi dengan komunitas lokal, mengikuti ritme mereka, bahkan menyesuaikan konsep tempat agar terasa ‘milik bersama’, bukan pendatang,” tambah Linggar.
Dari perspektif teori bisnis, strategi ini dapat dijelaskan melalui Market Development Strategy dalam kerangka Ansoff Matrix, yakni memperluas pasar ke wilayah baru yang memiliki karakteristik berbeda. Pendekatan ini diperkuat dengan prinsip Blue Ocean Strategy, di mana pelaku usaha menghindari persaingan ketat dan menciptakan ruang pasar baru yang lebih kondusif untuk pertumbuhan.
Selain itu, keberhasilan Brewok Group juga mencerminkan kekuatan Resource-Based View (RBV), di mana keunggulan kompetitif tidak hanya bertumpu pada produk, tetapi pada kemampuan membangun relasi sosial, budaya, dan pengalaman pelanggan yang khas di setiap daerah.
Dari sisi perilaku konsumen, strategi ini selaras dengan Consumer Culture Theory (CCT), yang menekankan bahwa keputusan konsumsi sangat dipengaruhi oleh nilai budaya dan identitas lokal. Hal ini menjelaskan mengapa pendekatan “membumi” lebih efektif dibanding sekadar ekspansi agresif tanpa adaptasi.
Sementara dalam perspektif sumber daya manusia, ekspansi lintas kota ini tidak terlepas dari peran SDM yang adaptif dan kontekstual. Penerapan Human Capital Theory terlihat dari bagaimana tim Brewok mampu memahami karakter masyarakat lokal dan membangun komunikasi yang efektif.
Selain itu, kekuatan jaringan yang dibangun juga mencerminkan Social Capital Theory, di mana kepercayaan, relasi, dan kedekatan sosial menjadi aset utama dalam memperkuat loyalitas pelanggan.
Dosen Manajemen UPN “Veteran” Jawa Timur, Dr. M. Tahajjudi Ghifary, S.AB., M.PSDM., yang terlibat dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa fenomena ini menjadi pembelajaran penting bagi pengembangan UMKM di Indonesia.
“Banyak UMKM berpikir bahwa sukses itu harus masuk kota besar. Padahal, justru kota-kota berkembang memiliki potensi yang sangat besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat. Kuncinya adalah memahami manusia dan komunitasnya, bukan hanya menjual produk,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha dalam menciptakan model bisnis yang berkelanjutan.
“Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading. Melalui kegiatan seperti ini, kami hadir untuk menjembatani teori dan praktik. UMKM butuh pendampingan berbasis riset agar bisa naik kelas secara sistematis,” tambahnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi tridharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan pada penciptaan dampak nyata bagi ekonomi lokal. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi yang menekankan pentingnya sinergi antara kampus, industri, dan masyarakat dalam membangun ekosistem inovasi.
Selain itu, keterlibatan dosen dalam aktivitas langsung bersama pelaku usaha juga mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, yang menekankan dampak nyata terhadap masyarakat serta kolaborasi dengan dunia usaha dan industri.
Dalam konteks global, model kewirausahaan berbasis komunitas ini berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan menjadi fokus utama dalam agenda tersebut.
Lebih jauh, hasil FGD menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM ke depan tidak hanya ditentukan oleh inovasi produk, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari komunitas lokal, akademisi, hingga pemerintah daerah.
Fenomena Brewok Group menjadi bukti bahwa strategi “sunyi” tanpa hiruk pikuk kota besar justru dapat menjadi jalan efektif bagi UMKM untuk tumbuh secara berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, kota-kota second-tier bukan lagi sekadar alternatif, melainkan peluang utama dalam peta ekspansi bisnis Indonesia.
Penulis : M. Tahajjudi Ghifary
























































