(potret:ilustrasi)
Jakarta, teropongrakyat.co – Sebuah video dan gambar yang beredar luas di media sosial mengklaim adanya keterlibatan seorang menteri Singapura yang disebut turun tangan membujuk sebuah rumah makan Padang legendaris agar tidak menutup usahanya. Konten tersebut ramai dibagikan dan memicu beragam reaksi warganet.
Dalam unggahan yang viral itu, disebutkan bahwa rumah makan Padang di Singapura berencana menutup operasionalnya. Namun, karena dinilai memiliki cita rasa khas dan digemari banyak kalangan, seorang pejabat tinggi Singapura diklaim ikut turun tangan untuk mempertahankan keberlangsungan usaha tersebut.
Narasi tersebut disertai gambar ilustratif rumah makan Indonesia di Singapura serta sosok pria bersetelan jas yang diklaim sebagai pejabat terkait. Meski demikian, hingga saat ini belum ada keterangan resmi maupun konfirmasi dari otoritas Singapura ataupun pihak pengelola rumah makan mengenai kebenaran klaim tersebut.
Di media sosial, sebagian warganet menyambut unggahan itu dengan rasa bangga. Mereka menilai kuliner Minangkabau telah memiliki daya tarik internasional. Namun, tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran informasi tersebut dan meminta adanya klarifikasi resmi karena konten viral itu tidak disertai sumber yang jelas.
Pengamat media menilai fenomena tersebut mencerminkan besarnya perhatian publik terhadap kuliner Indonesia di luar negeri. Di sisi lain, hal ini juga menjadi pengingat pentingnya verifikasi informasi sebelum disebarluaskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Pernyataan Masyarakat
Sejumlah masyarakat turut menanggapi klaim viral tersebut dengan pandangan beragam.
“Kalau memang benar, tentu ini jadi kebanggaan. Artinya masakan Padang benar-benar diakui sampai pejabat luar negeri ikut peduli,” ujar Rizal (34), warga Jakarta, Selasa (6/2).
Namun, sebagian masyarakat mengingatkan agar publik tetap kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial.
“Sekarang banyak konten dibuat dramatis supaya viral. Harus dicek dulu kebenarannya, jangan langsung dipercaya,” kata Nurhayati (41), warga Bekasi.
Pendapat serupa disampaikan Andi (29), warga Depok, yang menilai klaim tersebut perlu klarifikasi resmi.
“Kalau tidak ada pernyataan dari pemerintah Singapura atau pemilik rumah makan, sebaiknya dianggap sebatas klaim media sosial,” ujarnya.
Sementara itu, Sulastri (47), pelaku UMKM kuliner, melihat isu ini dari sisi positif.
“Benar atau tidak, ini menunjukkan kuliner Indonesia punya nilai kuat di luar negeri. Itu bisa jadi promosi gratis,” katanya.
Masyarakat berharap media dan pembuat konten digital dapat menyajikan informasi secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab agar ruang publik tidak dipenuhi narasi yang menyesatkan.

























































