Ketika Akal Bertemu Nurani: Einstein, Al-Qur’an, dan Ujian Peradaban

- Jurnalis

Sabtu, 31 Januari 2026 - 07:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto:ilustrasi)

Oleh : Jo (Pewarta Ifakta)

Teropongrakyat.co – Nama Albert Einstein kerap dipanggil sejarah sebagai lambang kejernihan akal. Ia adalah mata yang menatap semesta dengan rumus, telinga yang mendengar dentum kosmos sebagai harmoni. Maka ketika beredar kisah bahwa Einstein pernah membuka lembar-lembar Al-Qur’an, publik pun terbelah. Antara percaya, ragu, dan bertanya lebih dalam.

Kisah itu, entah benar sepenuhnya atau sekadar gema dari hasrat manusia mencari pertemuan iman dan nalar, menyisakan satu perkara penting, serta kerinduan pada makna.

Einstein sendiri berkali-kali menegaskan bahwa sains tanpa nilai akan timpang, dan agama tanpa nalar berisiko buta.

Dalam celah itulah, Al-Qur’an sebagai teks yang menantang manusia untuk berpikir, merenung, dan membaca tanda-tanda alam yang sering dipahami bukan sekadar kitab ibadah, melainkan undangan intelektual.

Baca Juga:  Di Balik Kebijakan Purbaya Yudhi: Kenapa Kita Harus Berubah?

Tentang ramalan “Barat akan luluh lantah”, barangkali ia bukan nubuat literal yang menunggu tanggal. Ia lebih menyerupai peringatan moral.

Peradaban tidak runtuh oleh musuh dari luar semata, melainkan oleh retaknya kompas etika di dalam keserakahan yang mengeras, teknologi yang berlari tanpa kebijaksanaan, dan kemajuan yang menafikan kemanusiaan.

Jika barat atau siapa pun yang mengukur kejayaan hanya dengan angka dan kekuatan, maka keruntuhan itu bukan kutukan, melainkan konsekuensi.

Einstein, dalam banyak surat dan pernyataannya, mengingatkan dunia agar tak memisahkan kecerdasan dari tanggung jawab.

Baca Juga:  Mutasi Pejabat Polri 2026: Selaraskan Kapasitas SDM dengan Prioritas Keamanan dan Pembangunan

Al-Qur’an, dalam bahasa yang puitik sekaligus tegas, mengajak manusia membaca alam sebagai ayat dan tanda, bukan sekadar objek. Keduanya bertemu pada satu simpul, yakni akal yang tunduk pada nurani.

Maka kolom ini tidak hendak mengukuhkan klaim, melainkan mengajak merenung. Bahwa peradaban apa pun. Baik barat, timur, atau yang mengaku netral akan bertahan sejauh ia merawat keadilan, membatasi kesombongan, dan menautkan ilmu dengan hikmah.

Jika tidak, runtuhnya bukan soal siapa membaca kitab apa, melainkan siapa yang lupa membaca dirinya sendiri.

Sumber Berita: Jo Pewarta Ifakta

Berita Terkait

Solusi Awal Pembatalan SHM Ganda di Atas Tanah yang Sama
Sajikan Masa Depan Gemilang Hari Ini
Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta
NEGERIKU TERGULUNG
Ketika Kode Etik Jurnalistik Mulai Ditinggalkan
Ujian Kepastian Hukum dan Reforma Agraria
Ucapan Selamat dari LBH No Viral No Justice DKI Jakarta atas Pelantikan Pengurus DPW IPJI Provinsi Kepulauan Riau Periode 2026–2030
Zoon Politicon di Tengah Panggung Informasi: Menyalurkan Aspirasi Hak Politik Jurnalis Tanpa Melanggar Kode Etik Jurnalistik

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 11:11 WIB

Solusi Awal Pembatalan SHM Ganda di Atas Tanah yang Sama

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:28 WIB

Sajikan Masa Depan Gemilang Hari Ini

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:09 WIB

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:24 WIB

NEGERIKU TERGULUNG

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:56 WIB

Ketika Kode Etik Jurnalistik Mulai Ditinggalkan

Berita Terbaru