TeropongRakyat.co, JAKARTA— Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau PP IKA ITS mengusulkan penerapan sistem peringatan dini terintegrasi untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api di Indonesia. Usulan ini ditujukan kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai langkah memperkuat keamanan transportasi publik yang makin dibutuhkan masyarakat.
Sistem yang diusulkan bernama Integrated Early Warning System, sebuah teknologi berbasis telemetri atau radio yang memungkinkan peringatan bahaya langsung masuk ke kabin masinis. Jadi, saat kereta mendekati area berisiko, masinis bisa menerima sinyal peringatan lebih cepat untuk mengambil tindakan darurat.
Menurut Wakil Ketua Umum PP IKA ITS, Heru Hermawan, sistem ini diharapkan bisa memberi tambahan waktu respons dalam kondisi genting sehingga potensi kecelakaan dapat ditekan. Konsepnya sendiri mengadopsi filosofi Andon, sistem visual warning yang biasa digunakan di dunia industri untuk mendeteksi gangguan secara cepat.
Usulan ini muncul setelah masih adanya sejumlah risiko di jalur perkeretaapian, mulai dari gangguan di area stasiun, kereta berhenti mendadak di jalur, hingga kendaraan mogok di perlintasan rel. Karena itu, sistem ini juga dirancang terhubung dengan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) agar koordinasi penanganan situasi darurat bisa berjalan lebih cepat dan efektif.
Selain memperkuat sistem persinyalan yang sudah ada, teknologi ini juga diharapkan mampu mendukung target zero accident di sektor perkeretaapian Indonesia. PP IKA ITS bahkan mengusulkan keterlibatan PT INKA (Persero) dan PT LEN Industri (Persero) dalam pengembangan purwarupa sistem tersebut.
Kalau terealisasi, teknologi ini bisa jadi langkah baru dalam menghadirkan perjalanan kereta yang lebih aman, modern, dan responsif terhadap kondisi darurat di lapangan.

























































