JAKARTA, teropongrakyat.co – Pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan seperti saat ini, pemerintah berfokus untuk menjaga fluktuasi harga pangan pokok strategis. Salah satunya bawang putih. Ketersediaan bawang putih secara nasional memang belum dapat terpenuhi dari dalam negeri, sehingga Badan Pangan Nasional (Bapanas) ingin memastikan komitmen importir bawang putih.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menjelaskan para importir bawang putih mempunyai tugas yang tidak hanya memasukkan stok saja. Melainkan juga mereka juga harus mau membantu untuk menstabilkan harga di dalam negeri.
“Kemarin kami mengundang para importir untuk menstabilkan atau menurunkan harga yang tinggi terkait bawang putih, karena fungsi daripada importir tidak hanya memasukkan barang, tapi mereka punya tugas yang mulia. Tugas yang khusus juga untuk menstabilkan harga,” ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa di Jakarta pada Jumat (20/2/2026).
Deputi Bapanas Ketut telah meminta para importir bawang putih untuk memastikan rantai pasok yang mereka jalani dapat menopang kestabilan harga dan pasokan, termasuk hingga ke wilayah Indonesia bagian timur. Harga bawang putih tidak boleh bergejolak yang terlalu berlebihan.
“Kami sudah memanggil para importir untuk meminta, mendorong, dan memastikan agar bawang putih di daerah yang masih tinggi, segera turun harganya. Tentu saya minta mereka mendorong dan memastikan distributornya untuk mendistribusikan bawang putih ke daerah-daerah yang masih tinggi, khususnya timur, dengan harga yang wajar. Jadi harga bawang putih bisa kita kendalikan,” terang Ketut.
Kondisi harga bawang putih menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sampai minggu kedua Februari 2026 terdapat total 130 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Dari total itu, 85 kabupaten/kota atau sekitar 65 persennya masih memiliki IPH sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen di Rp 38.000 per kilogram (kg).
Masih menyadur data dari BPS, untuk wilayah Indonesia timur yang paling mengalami rerata harga bawang putih melebihi HAP tingkat konsumen. Terpantau ada setidaknya sampai 45 kabupaten/kota. Sebagai informasi, HAP tingkat konsumen bawang putih khusus Maluku, Maluku Utara, dan seluruh Papua ditetapkan maksimal di Rp 40.000 per kg.
Untuk itu, konsolidasi komitmen pemerintah bersama importir bawang putih penting dilakukan agar kestabilan harga bawang putih dapar terjaga sampai Indonesia wilayah timur. Dalam hal ini Bapanas mendorong kolaborasi secara gotong royong guna memenuhi panggilan negara ini.

“Nah jadi, harus melibatkan seluruhnya, termasuk para pedagang pasar, distributor, importir, ini harus dilibatkan semua, karena ini adalah panggilan negara. Panggilan negara yang tentu kita harus kerjakan bersama-sama dengan gotong royong,” tambah Deputi Ketut.
Kendati demikian, pemerintah memberikan kepastian bahwa pasokan bawang putih secara nasional masih mencukupi sampai Idulfitri mendatang. Terlebih proyeksi produksi bawang putih dari dalam negeri mulai Maret mendatang akan mulai menanjak secara gradual.
Pemerintah memproyeksikan produksi bawang putih dalam bentuk konde di Maret dapat mencapai 2,4 ribu ton. Kemudian di April semakin naik menjadi 4,2 ribu ton dan diperkirakan menjadi titik puncak panen bawang putih dalam negeri di semester pertama tahun ini.
Pemerintah sendiri pernah melontarkan peringatan tegas kepada pelaku usaha swasta yang diberikan kuota importasi pangan pokok strategis agar dapat membantu untuk saling menjaga harga dan pasokan selama Ramadan sampai Idulfitri mendatang. Tidak boleh ada yang memanfaatkan keadaan pada saat masyarakat sedang berfokus menjalankan ibadah puasa.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengutarakan apabila pihaknya mendapati kalangan swasta pemegang kuota impor pangan tidak mematuhi ketentuan harga pemerintah, maka Amran memastikan izin impornya diberhentikan. Ini berlaku pula bagi importir bawang putih.
“Jadi sekarang, alhamdulillah dalam menghadapi bulan suci Ramadhan, (neraca pangan) kita ini angka-angkanya surplus. Termasuk yang impor, stoknya banyak. Tolong yang impor, jangan permainkan keadaan. Kalau aku dapatkan, anda berakhir menjadi importir. Itu adalah terakhir anda menjadi importir,” tegas Amran saat di acara Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional di Jakarta (13/2/2026).
Menilik data Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026, kuota impor bawang putih konsumsi yang ditetapkan pemerintah dalam Neraca Komoditas Tahun 2026 adalah sekitar 601,5 ribu ton. Ini menurun sekitar 4,35 persen dibandingkan realisasi impor bawang putih sepanjang tahun 2025 yang berada di angka 628,9 ribu ton.


























































