Oleh: Mohamad Baidowi
Penulis adalah Dosen Komunikasi Pertanian Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI)
Jakarta, 10 Februari 2026 – Teropongrakyat.co |
Sektor pertanian Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam beberapa tahun terakhir proporsi petani berusia di atas 45 tahun mendominasi struktur demografi pertanian nasional.
Sementara itu, jumlah petani muda di bawah 40 tahun terus mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini menjadi alarm penting bagi keberlanjutan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Merespons situasi tersebut, Program Brigade Pangan hadir sebagai inisiatif strategis untuk mendorong regenerasi petani melalui pendekatan komunikasi pembangunan dan penyuluhan partisipatif.
Program ini dirancang tidak sekadar sebagai gerakan tanam, tetapi sebagai gerakan sosial yang membangun ekosistem pertanian modern, produktif, dan berorientasi pasar.
Tantangan Regenerasi: Data dan Realitas Lapangan
Struktur usia petani Indonesia menunjukkan fenomena aging farmer. Banyak anak petani memilih bekerja di sektor non-pertanian karena menganggap pertanian kurang menjanjikan secara ekonomi dan kurang prestisius secara sosial. Selain itu, keterbatasan akses terhadap teknologi, pembiayaan, dan pasar menjadi faktor penghambat masuknya generasi muda.
Padahal, sektor pertanian tetap menjadi penopang utama ketahanan pangan dan berkontribusi signifikan terhadap PDB nasional. Dalam konteks ini, regenerasi petani bukan hanya isu sektoral, melainkan agenda strategis pembangunan nasional.
Brigade Pangan dalam Perspektif Komunikasi Pembangunan
Dalam teori komunikasi pembangunan, sebagaimana dikemukakan oleh para pemikir seperti Everett M. Rogers melalui teori Diffusion of Innovations, adopsi inovasi dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh proses komunikasi, peran opinion leader, dan sistem sosial. Brigade Pangan mengadopsi pendekatan ini dengan:
1. Mendorong Agen Perubahan (Change Agents).
Brigade Pangan merekrut dan membina petani muda sebagai motor penggerak di tingkat desa. Mereka berperan sebagai opinion leader yang memperkenalkan praktik pertanian modern, mekanisasi, digital farming, dan model bisnis agribisnis.
2. Komunikasi Partisipatif.
Sejalan dengan paradigma komunikasi partisipatoris, program ini menempatkan petani sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Diskusi kelompok tani, demplot, sekolah lapang, serta mentoring berbasis komunitas menjadi metode utama.
3. Reframing Citra Petani.
Melalui strategi komunikasi publik dan media sosial, Brigade Pangan membangun narasi baru bahwa petani adalah entrepreneur pangan, bukan sekadar pekerja sektor primer. Pendekatan ini penting untuk mengubah persepsi generasi muda terhadap profesi petani.
Integrasi dengan Teori Penyuluhan Pertanian
Dalam perspektif penyuluhan Brigade Pangan mengedepankan model learning by doing melalui:
1. Demonstration plot (demplot) berbasis teknologi
2. Pendampingan intensif oleh penyuluh
3. Penguatan kelembagaan kelompok tani
4. Integrasi hulu–hilir (produksi hingga pemasaran)
Konsep ini selaras dengan prinsip penyuluhan modern yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membangun kapasitas, sikap, dan kemandirian petani. Penyuluh tidak lagi menjadi “pengajar satu arah”, melainkan fasilitator transformasi sosial ekonomi desa.
Dampak Strategis Brigade Pangan
Program Brigade Pangan diharapkan memberikan dampak pada beberapa aspek utama:
1. Peningkatan Partisipasi Petani Muda.
Mendorong generasi muda desa untuk melihat pertanian sebagai sektor masa depan yang berbasis teknologi dan bernilai tambah tinggi.
2. Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi.
Melalui adopsi inovasi, mekanisasi, dan manajemen agribisnis modern.
3. Penguatan Ekosistem Pangan Nasional.
Brigade Pangan tidak hanya menanam, tetapi membangun jejaring distribusi, kemitraan dengan dapur pangan, industri pengolahan, serta akses pasar digital.
4. Ketahanan dan Kedaulatan Pangan .
Regenerasi petani menjadi fondasi jangka panjang bagi stabilitas pasokan pangan nasional.
Program Brigade Pangan merupakan jawaban strategis atas krisis regenerasi petani di Indonesia. Berbasis data, diperkuat teori komunikasi pembangunan, serta dijalankan dengan pendekatan penyuluhan partisipatif, program ini diharapkan menjadi gerakan kolektif yang melahirkan generasi baru petani Indonesia: muda, inovatif, dan berdaya saing.
Regenerasi bukan sekadar pergantian usia, melainkan transformasi cara berpikir, cara berusaha, dan cara membangun masa depan pangan Indonesia.

























































