Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
Teropong Rakyat Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Tropong PLUS Masuk
T+
Terkini
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Teropong Rakyat. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTMengenang 26 Tahun Silam Tragedi Kemanusiaan Berbau Rasial yang Lebih di Kenal Tragedi Kerusuhan Mei 1998.Komentar: 0
#TragediKemanusaian #Pemerkosaan #pembantaian # Reformasi #Kudeta

Mengenang 26 Tahun Silam Tragedi Kemanusiaan Berbau Rasial yang Lebih di Kenal Tragedi Kerusuhan Mei 1998.

Teropong Rakyat, 13 Mei 2024, 18:34 WIB · 3 menit bacaBaca di App
Huruf
Foto: Dokumentasi

Teropongrakyat.co

Jakarta – Tepat Hari ini, 26 tahun silam, 13 Mei 1998 bangsa Indonesia terguncang dengan tragedi kemanusiaan yang mencoreng sejarah, Kerusuhan Mei 1998 dan Tragedi Trisakti. Tragedi ini menjadi luka mendalam bagi bangsa, meninggalkan kenangan pahit tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), rasisme, dan kekejaman.

Kerusuhan Mei 1998, sebagai bagian dari gelombang perubahan besar-besaran, mencatat pelanggaran HAM yang memilukan. Dalam rentang waktu 13 hingga 15 Mei 1998, suasana panas kerusuhan menghantam berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta dan Solo, mengguncang sendi-sendi masyarakat.

12 Mei 1998

Berawal dari krisis moneter 1997-1998 yang melanda Indonesia, rakyat dilanda keresahan dan frustrasi. Di tengah situasi tersebut, aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 menuntut perubahan dan reformasi.

Empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak dalam aksi demonstrasi yang semula damai. Mereka, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.

Baca Juga:  Karnaval Pesona Gondanglegi XII Digelar Meriah, Bupati Sanusi Lepas 38 Peserta di Tengah Guyuran Hujan

13 Mei 1998

Kerusuhan bermula pada 13 Mei 1998, sehari setelah Tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti. Kemarahan rakyat terhadap rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun dan krisis moneter 1997/1998 yang melumpuhkan ekonomi, meledak dalam aksi demonstrasi di berbagai daerah.

Di Jakarta, aksi berkabung di depan Universitas Trisakti dihalangi aparat keamanan, memicu amarah massa. Sebuah truk sampah yang ada di perempatan jalan layang Grogol dibakar, rambu-rambu dicabut dan pagar pembatas jalan dicabuti, bahkan gedung dan mobil di halaman parkir Mal Ciputra dirusak.

14 Mei 1998

Di Jakarta, situasi kian memanas pada 14 Mei 1998. Kerusuhan mulai menyasar etnis Tionghoa, diwarnai dengan penjarahan, pembakaran toko dan rumah, serta pelecehan seksual. Kebencian dan sentimen anti-Tionghoa yang telah lama menumpuk, dipicu oleh tuduhan palsu bahwa etnis Tionghoa merupakan dalang krisis moneter.

Baca Juga:  BRI Kanca Tangerang Merdeka Gelar Sparing Mini Soccer Bertema Trofeo

15 Mei 1998

Puncak kerusuhan terjadi pada 15 Mei 1998. Sedikitnya 273 orang tewas terpanggang api di dua pusat perbelanjaan akibat dijarah dan dibakar massa, yakni Sentra Plaza Klender Jakarta Timur yang dikenal sebagai tragedi Mall Klender dan juga Ciledug Plaza Tangerang.

Bank-bank bahkan terpaksa ditutup karena ancaman pembakaran, perusuh juga memblokir jalan dari Semarang ke Surakarta. Kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa menjadi puncak kekejaman, dengan korban dilecehkan, disekap, bahkan dibunuh secara biadab.

Terpisah, Aktivis 98 dan pelaku sejaran yang akrab di sapa Kamper mengatakan,” Tragedi kemanusiaan atau lebih dikenal kerusuhan Mei 1998 setidaknya menelan korban jiwa mencapai 1.188 orang”.

“Dan setidaknya kontras mencatat 85 wanita etnis Tionghoa dilaporkan mengalami pelecehan seksual. Luka mendalam dan trauma yang dialami para korban masih membekas hingga saat ini,”pungkas Kamper kepada TeropongRakyat.co, Senin (13/05).

Lihat Breaking News Selengkapnya→
Artikel Terkait Breaking News
TNI – PolriKanal lain
BisnisKanal lain