Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
Teropong Rakyat Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Tropong PLUS Masuk
T+
Terkini
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Teropong Rakyat. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTJaga Kepentingan Nasional, Hubla Bersiap Hadapi Sidang Maritim InternasionalKomentar: 0
Kementerian perhubungan laut

Jaga Kepentingan Nasional, Hubla Bersiap Hadapi Sidang Maritim Internasional

Teropong Rakyat, 14 April 2026, 13:47 WIB · 3 menit bacaBaca di App
Huruf
Foto: Dokumentasi

JAKARTA -( teropongrakyat.co), 13 April 2026. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menyelenggarakan Konsinyering Penyiapan Bahan Sidang International Maritime Organization (IMO) Marine Environment Protection Committee (MEPC) ke-84. Langkah strategis ini dilakukan untuk menyatukan pandangan lintas sektoral guna memastikan kepentingan nasional terjaga dalam kebijakan perlindungan lingkungan maritim internasional.

Sidang MEPC ke-84 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27 April hingga 1 Mei 2026 di Markas Besar IMO, London, Inggris. Forum tersebut menjadi sangat vital karena akan membahas agenda-agenda besar yang berdampak langsung pada operasional *industri* pelayaran nasional.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Lollan Andy Sutomo Panjaitan, dalam pembukaan kegiatan tersebut menekankan bahwa forum MEPC merupakan panggung krusial karena membahas agenda yang berdampak langsung terhadap operasional pelayaran nasional.

Jaga Kepentingan Nasional, Hubla Bersiap Hadapi Sidang Maritim Internasional - Teropong Rakyat

“Sidang ini merupakan forum yang sangat strategis karena akan membahas berbagai agenda penting berkaitan dengan kebijakan perlindungan lingkungan maritim internasional, termasuk yang berdampak terhadap penyelenggaraan pelayaran nasional dan operasional kapal berbendera Indonesia,” ujar Lollan di Jakarta, Senin (13/4).

Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah kelanjutan pembahasan IMO Net-Zero Framework sebagai implementasi dari IMO GHG Strategy 2023. Lollan menyebutkan bahwa isu dekarbonisasi ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi industri maritim Indonesia.

Baca Juga:  Regional Marpolex 2026 Sukses Digelar, 21 Kapal Terlibat Dalam Latihan Penanggulangan Pencemaran Laut

Selain emisi gas rumah kaca, delegasi Indonesia juga bersiap membahas isu teknis lainnya seperti pengelolaan organisme akuatik berbahaya dalam air ballast (ballast water), pencegahan pencemaran udara dari kapal, efisiensi energi, penanganan sampah plastik di laut, hingga perlindungan area laut khusus seperti Emission Control Areas (ECA) dan Particularly Sensitive Sea Areas (PSSA).

“Isu utama yang menjadi perhatian adalah IMO Net-Zero Framework. Namun, kita juga akan membahas pengelolaan organisme akuatik dalam air ballast, pencegahan pencemaran udara dari kapal, efisiensi energi, hingga penanganan sampah plastik di laut,” tambahnya.

Lollan menggarisbawahi bahwa perlindungan lingkungan maritim saat ini tidak lagi bisa ditangani secara sektoral karena menyentuh dimensi hukum, ekonomi, diplomasi, hingga ketahanan energi.

“Konsinyering ini harus dimanfaatkan untuk menelaah seluruh agenda sidang secara cermat. Setiap dokumen perlu dibaca bukan hanya dari sisi ringkasan, tetapi juga implikasi kebijakan, kesiapan implementasi, serta potensi dampaknya terhadap sektor pelayaran nasional,” tegasnya.

Baca Juga:  Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Hadiri Ground Breaking Penataan Kawasan Kolong Tol Jl. Yos Sudarso

Lebih lanjut, Lollan menginstruksikan agar tim delegasi menghasilkan bahan yang operasional dan memiliki posisi yang konsisten. Menurutnya, kekuatan Indonesia di meja perundingan internasional sangat bergantung pada kejelasan pesan dan keterpaduan pandangan antarinstansi.

Jaga Kepentingan Nasional, Hubla Bersiap Hadapi Sidang Maritim Internasional - Teropong Rakyat

“Hasil konsinyering ini harus menjadi pedoman kerja yang mendukung efektivitas partisipasi Indonesia. Kita harus mampu mengidentifikasi isu prioritas dan sensitif agar suara Indonesia memberikan kontribusi nyata bagi perlindungan laut dunia sekaligus melindungi kepentingan industri dalam negeri,” tambah Lollan.

Sebagai informasi, kegiatan konsinyering ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai instansi terkait, di antaranya Kementerian Luar Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, BRIN, Badan Karantina Indonesia, PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), PT Pertamina International Shipping, DPP INSA, hingga Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI).

“Dengan keterlibatan multipihak ini, kami berharap Indonesia dapat menunjukkan peran aktif dan kontribusi konstruktif dalam mewujudkan pelayaran dunia yang berkelanjutan, sekaligus memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi di kancah internasional,” tutup Lollan.(SKY/ETJ/HJ).

Lihat Maritim Selengkapnya→
Artikel Terkait Maritim
Breaking NewsKanal lain
TNI – PolriKanal lain