Bijak Bermedia Sosial di Era AI, Rumah Pena Foundation Ajak Jurnalis dan Konten Kreator Lawan Hoaks

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret: istimewa

JAKARTA, teropongrakyat.co – Yayasan Rumah Pena Nusantara (YRPN) atau yang dikenal dengan Rumah Pena Foundation (RPF) menggelar diskusi daring bertajuk “Bijak Bermedia Sosial di Era AI” melalui platform Zoom, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 insan pers dan konten kreator dari berbagai daerah di Indonesia sebagai upaya meningkatkan literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Acara dibuka secara resmi oleh Pembina Rumah Pena Foundation, Mubinoto Amy, didampingi jajaran pengurus yayasan yang bergerak di bidang literasi, pendidikan, serta pelatihan jurnalistik.

Dalam sambutannya, Amy menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) membawa peluang besar sekaligus tantangan bagi insan pers maupun konten kreator.

Karena itu, kemampuan literasi digital dinilai menjadi bekal penting agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

“Insan pers dan para konten kreator harus memiliki literasi digital yang baik agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” kata Amy.

Pada sesi pemaparan materi, Amy menyampaikan tujuh pokok bahasan mengenai penggunaan media sosial di era kecerdasan buatan. Ia menjelaskan bahwa media sosial kini telah berkembang menjadi ruang publik yang memiliki pengaruh besar terhadap berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, bisnis, hingga pemerintahan.

Baca Juga:  Menaker Kukuhkan 70 Pengurus Lembaga Pelatihan Industri Daerah Periode 2024-2027

Menurutnya, derasnya arus informasi di ruang digital menuntut insan pers dan konten kreator memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang benar, melakukan verifikasi, serta menghindari penyebaran hoaks maupun disinformasi.

“Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan internet atau telepon pintar, tetapi juga mencakup kemampuan mengakses, memahami, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara tepat,” katanya.

Amy juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam bermedia sosial. Ia menekankan bahwa setiap unggahan akan menjadi bagian dari jejak digital yang dapat memengaruhi reputasi seseorang di masa mendatang.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa teknologi AI memberikan banyak manfaat karena mampu membantu berbagai aktivitas, seperti menyusun materi pembelajaran, membuat konten, hingga menganalisis data.

Namun, di sisi lain, AI juga dapat disalahgunakan untuk menghasilkan gambar, video, maupun informasi palsu yang tampak meyakinkan.
Oleh sebab itu, Amy mengajak seluruh peserta untuk selalu melakukan pengecekan fakta sebelum menyebarkan informasi kepada publik.

Untuk mewujudkan ruang digital yang sehat, ia mengimbau insan pers dan konten kreator agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, menghargai karya orang lain, menghindari perundungan siber, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana berbagi pengetahuan dan membangun kolaborasi.

“Dengan meningkatnya literasi digital, masyarakat atau secara khusus insan pers dan para konten kreator diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan AI secara positif, sekaligus berperan aktif menciptakan ekosistem digital yang aman, sehat, dan produktif,” ungkapnya.

Baca Juga:  Prajurit Kodam VI/Mulawarman disiagakan di kawasan Kota Nusantara

Dalam sesi diskusi, jurnalis media online Ifakta.co asal Tangerang, Alex Sibti, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi masyarakat digital saat ini.

Alex menilai media sosial memberikan banyak manfaat, mulai dari memperluas jaringan pertemanan, membangun relasi profesional, hingga memperoleh berbagai informasi yang bermanfaat.

Namun, ia mengingatkan bahwa media sosial juga dapat memunculkan tekanan psikologis apabila seseorang mulai membandingkan dirinya dengan orang lain dan terlalu bergantung pada pengakuan atau validasi dari lingkungan digital.

“Ketika koneksi berubah menjadi tekanan, seseorang akan lebih mudah mengalami gangguan emosional. Karena itu, penting bagi insan pers dan konten kreator memiliki self awareness saat menggunakan media sosial,” kata anggota Pokja Wartawan Gunung Kaler Kresek, Kabupaten Tangerang itu saat sesi tanya jawab.

Melalui kegiatan tersebut, Rumah Pena Foundation berharap insan pers dan para konten kreator semakin bijak dalam memanfaatkan media sosial, mampu meningkatkan literasi digital, serta berkontribusi menciptakan ruang digital yang aman, sehat, produktif, dan saling menghargai di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

(Red)

 

Berita Terkait

Dulu Pilih, Sekarang Disuruh Pulang Bupati Nagekeo : Tangis Warga Nagekeo di Tengah Tenda Darurat. ketum PDKN Ikut Menyoroti
Viral di Medsos, Warga Aesesa Mbay Nagekeo Keluhkan Lambannya Bantuan Bupati Pasca Gempa M7,7
Di Tengah Duka Gempa Flores, PDKN Minta Presiden Prabowo Batalkan Proyek Geothermal Mataloko
Obat Keras Daftar G di Tanah Abang, Publik: Jangan Hanya Tangkap Penjual
SEJARAH BARU: 8 Aras Gereja, 620 Titik, 38 Provinsi Satu Suara Doa Mengguncang Nusantara di HUT ke-81 RI
Love Collection: Wujudkan Kreativitasmu dengan Kaos Custom Berkualitas Premium
Ketua Umum PDKN Dr. Rahman Sabon Nama Jalin Silaturahmi dengan Sultan Jailolo, Perkuat Ikatan Kekerabatan Nusantara
LDII Kota Pasuruan Gelar Bazaar Dan Lomba Juang Kemerdekaan

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:17 WIB

Dulu Pilih, Sekarang Disuruh Pulang Bupati Nagekeo : Tangis Warga Nagekeo di Tengah Tenda Darurat. ketum PDKN Ikut Menyoroti

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:08 WIB

Viral di Medsos, Warga Aesesa Mbay Nagekeo Keluhkan Lambannya Bantuan Bupati Pasca Gempa M7,7

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Di Tengah Duka Gempa Flores, PDKN Minta Presiden Prabowo Batalkan Proyek Geothermal Mataloko

Senin, 17 Agustus 2026 - 21:23 WIB

Obat Keras Daftar G di Tanah Abang, Publik: Jangan Hanya Tangkap Penjual

Senin, 17 Agustus 2026 - 20:49 WIB

SEJARAH BARU: 8 Aras Gereja, 620 Titik, 38 Provinsi Satu Suara Doa Mengguncang Nusantara di HUT ke-81 RI

Berita Terbaru