Jakarta, TeropongRakyat.co – Kemacetan parah kembali terjadi di Jalan Akses Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Pada pantauan di lokasi, antrean kendaraan mengular dari kawasan depan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) hingga kawasan KBN Marunda. Kondisi lalu lintas dilaporkan nyaris tidak bergerak, membuat ribuan pengguna jalan terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam. Sabtu, (25/07/2026).
Akibat kemacetan yang semakin tidak terkendali, banyak pengendara sepeda motor maupun mobil nekat melawan arah untuk mencari jalur alternatif. Bahkan sejumlah sopir JakLingko terlihat turun dari kendaraannya karena kendaraan yang mereka kemudikan tidak mengalami pergerakan sama sekali.
Dugaan sementara, kemacetan dipicu oleh antrean kendaraan berat yang menuju salah satu depo di dalam kawasan KBN Marunda, ditambah dengan aktivitas keluar-masuk kendaraan melalui pintu masuk KBN Marunda baru yang berada di bawah Flyover Cilincing. Kondisi tersebut memperparah titik simpul kemacetan yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan macet di koridor logistik Jakarta Utara.
Ironisnya, persoalan kemacetan di kawasan Cakung-Cilincing bukanlah masalah baru. Keluhan masyarakat dan pengguna jalan sudah berulang kali disampaikan, namun hingga kini belum terlihat solusi yang mampu mengurai kepadatan secara signifikan.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pernah menyoroti persoalan kemacetan akibat aktivitas truk kontainer di kawasan Cakung-Cilincing. Ia bahkan menyatakan perlunya penataan parkir dan aktivitas logistik agar tidak membebani jalan umum. Namun kondisi yang terjadi di lapangan saat ini justru menimbulkan pertanyaan besar, apakah solusi yang disiapkan pemerintah benar-benar menyentuh akar persoalan atau hanya sebatas penanganan sementara.
Masyarakat menilai solusi berupa penyediaan lahan parkir kontainer tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan depo-depo atau pelaku usaha logistik yang diduga menjadi penyebab antrean kendaraan terus beroperasi tanpa evaluasi dan pengawasan ketat.
“Jangan hanya bicara parkir kontainer. Yang dibutuhkan masyarakat adalah ketegasan pemerintah untuk menindak dan membenahi depo-depo yang menyebabkan antrean panjang hingga melumpuhkan jalan umum. Jalan ini milik masyarakat, bukan tempat antre kendaraan logistik tanpa batas,” ujar salah seorang pengguna jalan yang terjebak kemacetan.
Kondisi ini juga menjadi tamparan bagi instansi terkait, mulai dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Perhubungan, pengelola kawasan industri, hingga Satlantas Polres Metro Jakarta Utara. Pasalnya, kemacetan yang terus berulang menunjukkan belum adanya langkah terpadu yang efektif dalam mengendalikan aktivitas logistik di kawasan tersebut.
Masyarakat mendesak pemerintah dan aparat terkait tidak hanya hadir saat kemacetan sudah terjadi, tetapi melakukan pengawasan ketat terhadap operasional depo, pengaturan jam operasional kendaraan berat, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem keluar-masuk kendaraan di kawasan KBN Marunda.
Jika persoalan ini terus dibiarkan, bukan hanya merugikan pengguna jalan, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi, mengganggu transportasi umum, dan meningkatkan risiko kecelakaan akibat banyaknya kendaraan yang nekat melawan arus.
Kini publik menunggu tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Sebab kemacetan kronis di Akses Marunda telah berlangsung terlalu lama dan menjadi bukti bahwa persoalan logistik di Cakung-Cilincing masih jauh dari kata selesai.



























































