Oleh: Mohamad Baidowi
Penulis adalah Dosen Komunikasi Pertanian Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI)
Jakarta, 16 Februari 2026 – teropongrakyat.co | Menilik ambisi besar Indonesia untuk mewujudkan Swasembada Pangan yang Berkelanjutan, kita sering kali terjebak pada narasi mekanisasi, pembangunan bendungan, atau perluasan cetak sawah baru. Padahal, ada satu variabel fundamental yang sering kali terlupakan atau dianggap “sudah semestinya ada” yakni kesuburan tanah.
Tanah bukan sekadar media tanam yang pasif, tetapi ekosistem hidup. Tanpa upaya penyuburan yang terukur dan berbasis sains, swasembada pangan yang berkelanjutan tidak akan optimal. Bahkan bisa runtuh dalam hitungan dekade. .
Paradoks Revolusi Hijau
Kita tidak bisa memungkiri bahwa Revolusi Hijau pada era 1970-an membawa Indonesia mencapai Swasembada Beras. Namun, keberhasilan itu dibayar mahal dengan ketergantungan akut pada pupuk kimia (anorganik) seperti Urea, SP-36, dan KCl. Teori “Law of the Minimum” dari Justus von Liebig menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman tidak ditentukan oleh total sumber daya yang tersedia, tetapi oleh nutrisi yang paling langka (faktor pembatas).
Masalahnya, penggunaan pupuk NPK secara masif selama puluhan tahun tanpa diimbangi bahan organik telah menyebabkan fenomena leveling off (stagnasi hasil panen). Data menunjukkan bahwa lebih dari 70% lahan sawah di Indonesia saat ini memiliki kadar Karbon Organik (C-Organik) di bawah 2%. Padahal, tanah yang sehat idealnya memiliki kadar C-Organik di atas 5%. Kondisi ini membuat tanah menjadi keras, masam, dan kehilangan kemampuan menahan air.
Kesalahan umum dalam kebijakan pertanian kita adalah memandang kesuburan tanah hanya dari kacamata kimiawi (kadar N, P, K). Padahal, kesuburan tanah mencakup tiga pilar yang saling terkait: Fisika, Kimia, dan Biologi. Upaya penyuburan tanah yang berkelanjutan harus mengedepankan Soil Food Web (Jaring Makanan Tanah). Di dalam segenggam tanah yang sehat, terdapat miliaran mikroba, fungi, dan fauna tanah yang bekerja mengonversi mineral menjadi nutrisi yang siap diserap tanaman.
Strategi Penguatan Biologi Tanah
Pertama, aplikasi Bio-fertilizer. Menggunakan mikroba penambat nitrogen (seperti Azotobacter) dan pelarut fosfat untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis. Kedua, restorasi karbon. Pengembalian sisa panen (jerami) ke lahan. Membakar jerami bukan hanya polusi, tapi “pencurian” nutrisi dari masa depan.
Berdasarkan itu, Swasembada Pangan yang berkelanjutan tidak akan tercapai selama pemberian pupuk masih menggunakan metode “pukul rata”. Kebutuhan tanah di setiap daerah dan hamparan berbeda. Disinilah Precision Agriculture (Pertanian Presisi) masuk. Kita memerlukan pemetaan tanah digital yang akurat. Jika kita tahu persis berapa dosis yang dibutuhkan melalui uji tanah di tempat (on-site soil testing), kita bisa menghemat penggunaan pupuk hingga 20-30% tanpa mengurangi hasil.
Penggunaan rumus kimia sederhana dalam pemupukan sering kali diabaikan. Misalnya, keseimbangan rasio Nitrogen dan Karbon (C:N ratio) dalam pupuk organik sangat krusial. Jika rasio C:N terlalu tinggi, mikroba justru akan “mencuri” nitrogen dari tanaman untuk mendekomposisi bahan organik tersebut, yang berakibat tanaman menguning.
Swasembada pangan sejati bukan tentang berapa banyak ton yang kita hasilkan setiap tahun. Tetapi apakah kita bisa menghasilkan jumlah yang sama (atau lebih) 50 tahun lagi di lahan yang sama.
Langkah Strategis
Pertama, subsidi dialihkan ke pemulihan tanah. Mengalihkan sebagian subsidi pupuk kimia untuk subsidi pupuk organik dan edukasi pembuatan kompos skala komunitas. Kedua, diversifikasi tanaman (Crop Rotation). Menanam kacang-kacangan (Leguminosae) untuk memfiksasi Nitrogen secara alami ke dalam tanah melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium.
Ketiga, konservasi tanah. Teknik tanpa olah tanah (No-till farming) pada lahan tertentu untuk mencegah erosi lapisan topsoil yang kaya nutrisi. Upaya penyuburan tanah adalah investasi infrastruktur yang paling dasar. Jika jembatan dan jalan adalah nadi distribusi, maka tanah yang subur adalah jantung produksi. Kita tidak bisa terus-menerus “memeras” tanah tanpa memberinya asupan yang seimbang.
Penyuburan tanah secara organik dan hayati bukan berarti kita kembali ke zaman batu, melainkan kita bergerak maju menuju masa depan dengan sains yang lebih bijaksana. Swasembada pangan yang berkelanjutan hanya bisa tegak di atas tanah yang sehat, bukan di atas tanah yang sekarat karena overdosis bahan kimia. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan tanah seperti mesin, dan mulai memperlakukannya seperti titipan untuk generasi kedepan.

























































