MALANG | Teropongrakyat.co – Musim kemarau mulai membawa ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat dan lingkungan di Kabupaten Malang. Sepanjang Juli 2026, tercatat sebanyak 34 kejadian kebakaran yang ditangani Satuan Polisi Pamong Praja melalui bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Malang.
Data rekapitulasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran menunjukkan, pembakaran sampah menjadi penyebab paling dominan, dengan 14 kejadian. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Damkar, terlebih saat kemarau membuat kondisi lahan kering dan angin berpotensi mempercepat penyebaran api.
Dari 34 kejadian tersebut, kebakaran lahan menjadi objek yang paling banyak terbakar, yakni 15 kejadian. Disusul kebakaran rumah dan permukiman sebanyak 8 kejadian, industri 7 kejadian, pertokoan/kios 1 kejadian, instalasi listrik 1 kejadian, pergudangan 1 kejadian, serta kandang 1 kejadian.
Kebakaran tersebar di sejumlah wilayah. Kecamatan Kepanjen dan Singosari menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, masing-masing 4 kejadian. Selanjutnya Bantur, Dau dan Lawang masing-masing 3 kejadian; Gedangan, Karangploso, Pakisaji dan Sumberpucung masing-masing 2 kejadian. Sedangkan Gondanglegi, Kalipare, Pujon, Turen, Wagir dan Wonosari masing-masing tercatat 1 kejadian.
Dari sisi penyebab, selain pembakaran sampah, kebakaran juga dipicu kelalaian atau kecerobohan sebanyak 6 kejadian, konsleting listrik 3 kejadian, kerusakan alat atau sistem 2 kejadian, kebocoran gas 2 kejadian dan penyalaan sendiri 2 kejadian. Sementara lima kejadian lainnya masih dalam penyelidikan.
Akibat 34 kejadian kebakaran tersebut, total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp4,498 miliar. Meski demikian, tidak terdapat korban meninggal dunia. Sebanyak 83 orang dilaporkan selamat, sementara satu orang mengalami luka-luka.
Kepala Bidang Damkar Kabupaten Malang, Win Haliem, mengatakan pihaknya tidak hanya berfokus pada proses pemadaman ketika kebakaran terjadi. Upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat dinilai jauh lebih penting untuk menekan potensi kebakaran.
“Kalau terjadi kebakaran memang tugas kami adalah menyelesaikan kejadian tersebut. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mencegahnya melalui edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Win menyoroti kebiasaan masyarakat membakar sisa hasil panen, khususnya di lahan tebu. Menurutnya, pembakaran harus dilakukan dengan pengawasan ketat dan tidak boleh ditinggalkan sebelum api benar-benar padam.
“Kalau memang harus membakar sisa hasil panen, lakukan dengan aman. Jangan sampai api ditinggal begitu saja, apalagi jika lahan di sebelahnya belum dipanen. Pembakaran harus dijaga sampai selesai karena jika ditinggalkan dapat memicu kebakaran yang meluas,” tegasnya.
Selain pembakaran sisa hasil panen, pembakaran sampah juga menjadi ancaman besar selama musim kemarau. Bara api yang tertiup angin dapat dengan cepat merambat menuju lahan kering maupun permukiman.
“Musim kemarau dengan angin yang cukup kencang membuat bara api mudah menyebar. Dua faktor dominan yang kami temukan adalah pembakaran lahan dan pembakaran sampah yang tidak diawasi,” jelas Win.
Untuk memperkuat pencegahan, Damkar Kabupaten Malang terus menggencarkan edukasi melalui berbagai media, termasuk penyebaran flyer dan imbauan keselamatan melalui media sosial. Edukasi juga direncanakan diperluas ke sekolah-sekolah agar pemahaman mengenai pencegahan kebakaran dapat ditanamkan sejak dini.
Win juga meminta masyarakat tidak tinggal diam ketika mengetahui adanya aktivitas pembakaran yang berpotensi membahayakan. Peringatan dini dari warga dinilai dapat membantu mencegah api berkembang menjadi kebakaran besar.
Di sisi lain, luas wilayah Kabupaten Malang masih menjadi tantangan tersendiri bagi Damkar. Saat ini, Damkar Kabupaten Malang memiliki sekitar 60 personel yang terbagi dalam empat regu, dengan dukungan tiga pos pemadam.
“Dengan luas wilayah Kabupaten Malang, tentu masih dibutuhkan penambahan pos, personel, serta armada agar respons penanganan bisa lebih cepat,” ungkapnya.
Meski menghadapi keterbatasan personel dan sarana, komunikasi antarpetugas terus diperkuat agar setiap laporan kebakaran dapat segera ditindaklanjuti.
Win berharap masyarakat juga mengambil peran dalam penanganan awal ketika melihat api, dengan tetap mengutamakan keselamatan dan tidak mengambil risiko yang membahayakan diri.
“Karena petugas membutuhkan waktu menuju lokasi, masyarakat diharapkan bisa melakukan upaya pengendalian awal semampunya dengan tetap mengutamakan keselamatan. Setelah itu petugas akan melanjutkan proses pemadaman,” pungkasnya.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa kebakaran bukan semata persoalan kesiapan petugas pemadam, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan masyarakat dalam mencegah munculnya api sejak awal. Terlebih di tengah musim kemarau, tindakan sederhana seperti tidak membakar sampah sembarangan dan memastikan api benar-benar padam dapat mencegah kerugian yang jauh lebih besar.


























































