Ekspektasi Pasar Bergeser, Pemangkasan Suku Bunga The Fed Mungkin Mundur ke 2026

- Jurnalis

Senin, 17 November 2025 - 17:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

The Federal Reserve Board Building in Washington DC on a bright spring morning. The building was completed in 1937. It was named after Marriner S. Eccles (1890–1977), a former Chairman of the Federal Reserve by an Act of Congress on October 15, 1982.

The Federal Reserve Board Building in Washington DC on a bright spring morning. The building was completed in 1937. It was named after Marriner S. Eccles (1890–1977), a former Chairman of the Federal Reserve by an Act of Congress on October 15, 1982.

Foto:Istimewa

Teropongrakyat.co – Harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kembali bergeser. Jika sebelumnya pelaku pasar optimistis bahwa pelonggaran moneter bisa berlanjut pada akhir 2025, kini skenarionya berubah: pemangkasan berikutnya mungkin baru terjadi pada 2026. Inflasi yang sulit turun, data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan AS, serta perbedaan pandangan internal di tubuh The Fed membuat arah kebijakan semakin sulit diprediksi.

Tiga Kubu di Internal The Fed

Perbedaan pandangan di internal The Fed kini semakin menonjol.

1. Kubu dovish menekankan risiko perlambatan ekonomi dan pelemahan pasar tenaga kerja.

2. Kubu hawkish menilai inflasi masih menjadi ancaman utama dan menolak pelonggaran terlalu cepat.

3. Kubu moderat/undecided memilih menunggu kejelasan data sebelum mengunci sikap.

Keragaman pandangan ini muncul ketika The Fed kembali berupaya menyeimbangkan mandat gandanya: menjaga stabilitas harga dan memastikan kesempatan kerja maksimum. Suku bunga yang terlalu tinggi terlalu lama bisa menekan permintaan dan meningkatkan risiko PHK, tetapi pelonggaran yang terlalu cepat berpotensi membangkitkan kembali inflasi.

Inflasi Masih 3%, Pengangguran Naik ke 4,3%

Data terakhir sebelum shutdown pemerintahan AS menunjukkan inflasi tahunan bertahan di sekitar 3%, sementara tingkat pengangguran naik ke kisaran 4,3%. Kombinasi ini menempatkan The Fed dalam posisi sulit: inflasi belum kembali ke target 2%, tetapi pasar tenaga kerja mulai melemah.

Baca Juga:  Pelindo Tanjung Priok Jadi Sorotan Pemerintah dalam Efisiensi Logistik Nasional

Kebijakan di Tengah ‘Kabut Data’

Penutupan pemerintahan menyebabkan sejumlah rilis ekonomi tertunda, sehingga The Fed harus mengambil keputusan berdasarkan data yang tidak lengkap. Dalam kondisi ini, para pejabat bank sentral mengandalkan survei swasta dan indikator alternatif untuk menilai inflasi, konsumsi, dan aktivitas bisnis.

Pemangkasan seperempat poin yang dilakukan pada Oktober—menurunkan Fed Funds Rate ke 3,75%–4,00%—dimaksudkan untuk memberi ruang bernapas bagi sektor riil, namun belum menghilangkan risiko inflasi. Tekanan harga kini juga dipicu oleh kenaikan biaya jasa seperti perawatan lansia dan layanan penitipan anak. Sementara dari sisi tenaga kerja, perusahaan besar seperti Amazon, UPS, dan Verizon mengumumkan babak baru PHK.

Tarik Ulur Hawkish vs Dovish Jelang Desember

Sikap para pembuat kebijakan FOMC menjelang keputusan Desember sangat beragam.

Presiden The Fed Boston Susan Collins kini lebih berhati-hati dan menilai pelonggaran lanjutan sulit dilakukan tanpa bukti pelemahan pasar kerja yang lebih kuat.

Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic mengisyaratkan bahwa pemangkasan ketiga berturut-turut mungkin tidak lagi realistis.

Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid justru menolak pemangkasan dan ingin suku bunga ditahan karena risiko inflasi masih tinggi.

Sebaliknya, Gubernur The Fed Stephen Miran mendorong pemangkasan agresif 50 basis poin, menilai ekonomi membutuhkan dukungan lebih besar.

Perbedaan pandangan ini menegaskan bahwa konsensus FOMC berada pada titik paling rapuh sejak berakhirnya siklus pengetatan.

Baca Juga:  Thailand Genjot Proyek “Land Bridge” Rp 532 Triliun, Siap Jadi Pesaing Selat Malaka

Pasar Kini Bidik 2026

Ketua The Fed Jerome Powell menepis anggapan bahwa pemangkasan pada Desember adalah sesuatu yang hampir pasti. Pernyataan ini mengubah ekspektasi pasar secara drastis: probabilitas pemangkasan Desember jatuh tajam menurut berbagai indikator pemantau suku bunga.

Sejumlah lembaga keuangan besar di Wall Street kini memperkirakan bahwa pemangkasan mungkin baru terjadi pada awal atau bahkan pertengahan 2026, terutama jika inflasi tetap sulit turun. Namun sebagian manajer aset global masih melihat peluang “soft landing”, dengan suku bunga turun bertahap menuju kisaran 3,4% pada akhir 2026.

Investor Bersiap Terhadap Era ‘Higher for Longer’

Ketidakpastian arah suku bunga The Fed membawa sejumlah konsekuensi bagi pasar global:

1. Imbal hasil dolar tetap menarik, terutama obligasi jangka pendek–menengah.

2. Volatilitas pasar saham dan mata uang meningkat, dipicu setiap rilis data inflasi dan tenaga kerja.

3. Sektor sensitif suku bunga seperti properti, perbankan, dan teknologi berorientasi growth menjadi sorotan investor.

4. Aset lindung nilai seperti emas kembali diminati jika kekhawatiran terhadap pertumbuhan global meningkat.

Pada akhirnya, dinamika inflasi, perbedaan pandangan FOMC, serta penyesuaian ekspektasi investor mengarah pada satu pesan: era suku bunga rendah belum akan kembali dalam waktu dekat. Tahun 2026 kini menjadi horizon baru bagi pasar global dalam menunggu fase pelonggaran moneter yang lebih pasti dari The Fed.

Sumber Berita: Vibiznews

Berita Terkait

Serangan Iran Sebabkan Kerusakan Signifikan di Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Operational Excellence Bawa CTP Tollways Raih Pengakuan Bergengsi Asia
IPC TPK Dukung Pelindo Perkuat Peluang Kerja Sama Internasional dengan Delegasi Amerika Serikat dan Estonia
Thailand Genjot Proyek “Land Bridge” Rp 532 Triliun, Siap Jadi Pesaing Selat Malaka
Manajemen Lalu Lintas Berbasis Kapasitas: Gate Pass Tanjung Priok Atur Arus Kendaraan Secara Terukur
Tak Terganggu! TPK Koja Jelaskan Penyesuaian Arus Logistik Pasca Idul Fitri
Israel Gunakan Amunisi Lawas Hadapi Iran, Biaya Perang Membengkak
AS Tekan Negara Teluk Bayar Triliunan Dolar untuk Perang Iran, Analis Ungkap

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 00:26 WIB

Serangan Iran Sebabkan Kerusakan Signifikan di Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Kamis, 30 April 2026 - 20:38 WIB

Operational Excellence Bawa CTP Tollways Raih Pengakuan Bergengsi Asia

Rabu, 29 April 2026 - 14:41 WIB

IPC TPK Dukung Pelindo Perkuat Peluang Kerja Sama Internasional dengan Delegasi Amerika Serikat dan Estonia

Senin, 27 April 2026 - 23:02 WIB

Thailand Genjot Proyek “Land Bridge” Rp 532 Triliun, Siap Jadi Pesaing Selat Malaka

Kamis, 2 April 2026 - 20:28 WIB

Manajemen Lalu Lintas Berbasis Kapasitas: Gate Pass Tanjung Priok Atur Arus Kendaraan Secara Terukur

Berita Terbaru