Dari Luka Menjadi Berkat — Pendeta Yansen Bagikan Kesaksian Hidup di Ibadah Minggu Gereja Allah Baik

- Jurnalis

Minggu, 16 Agustus 2026 - 12:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Teropongrakyat.co – 16 Agustus 2026 — Ibadah Minggu di Jemaat Spot of God, Gereja Allah Baik, Jakarta Timur, berlangsung luar biasa menyentuh dan memberkati. Pada kesempatan itu, Pendeta Yansen menyampaikan firman Tuhan sekaligus membagikan kesaksian hidup yang menguatkan iman seluruh jemaat.

Dalam perkenalannya, Pendeta Selinanda berterus terang bahwa dirinya adalah mantan pecandu narkoba yang hidup di masa 1990-an — masa yang disebut sebagai The Lost Generation, ketika Indonesia dilanda gelombang narkoba yang begitu dahsyat, dan bangsa maupun gereja belum siap menghadapinya. Banyak nyawa melayang, termasuk belasan temannya yang tewas karena narkoba. Hari ini, bisa berdiri melayani Tuhan, memiliki istri dan dua anak, serta menjadi hamba Tuhan — semuanya dinyatakan sebagai anugerah yang luar biasa dari Tuhan.

Pendeta Yansen mengingatkan jemaat akan tiga ancaman besar yang sedang melanda generasi masa kini. Pertama, masalah narkoba yang terus naik — setiap tahun tercatat 18.000 orang meninggal dunia di Indonesia akibat narkoba, jumlah yang melebihi korban bencana alam terbesar sekalipun. Jenisnya kini telah mencapai 644 dan dikemas sedemikian rupa sehingga dianggap sebagai gaya hidup, bukan bahaya.

Baca Juga:  Tanamkan Semangat Kebangsaan, Koramil Pakisaji Ajak 90 Anak Disabilitas Belajar dan Bermain di Yonif 512/QY

Dari Luka Menjadi Berkat — Pendeta Yansen Bagikan Kesaksian Hidup di Ibadah Minggu Gereja Allah Baik - Teropong Rakyat

Kedua, ancaman judi online yang menghancurkan secara tak kasat mata. Satu miliar rupiah bisa habis dalam waktu 24 jam, dan ujung dari ketergantungan ini seringkali berujung pada keputusasaan yang mengerikan. Ketiga, gangguan kesehatan mental — depresi dan kecemasan yang kini menjangkau bahkan anak-anak remaja hingga usia kuliah, banyak yang menarik diri dan menutup diri di kamar karena ketidakmampuan menghadapi tekanan hidup.

“Gereja tidak boleh menutup mata. Kita harus memahami situasi ini dan hadir bagi generasi muda kita,” tegas Pendeta Yansen.

Mengangkat firman dari Efesus 4:13–17 dan Matius 5:48, Pendeta Yansen mengajak seluruh jemaat memahami makna kedewasaan yang sejati — bukan soal usia, bukan penampilan fisik, melainkan kedewasaan karakter yang diukur dari standar Kristus. “Kesempurnaan yang Tuhan maksud bukan berarti kita langsung sempurna dalam sekejap, melainkan kita tidak boleh berhenti berjalan menuju kedewasaan — seumur hidup,” jelasnya.

Yesus Kristus adalah cetak biru manusia yang sejati — manusia 100% dan Allah 100%. Di dalam-Nya kita melihat seperti apa manusia yang utuh dan berkenan di hadapan Tuhan. Kedewasaan yang sejati terlihat dari sikap hati: tidak lagi berselisih dan mencari konflik, tidak lagi melayani demi panggung atau pengakuan, melainkan melayani demi memuliakan Tuhan dan memberkati sesama.

Baca Juga:  KJP Plus Tahap 1 Tahun 2024 Akan Cair

Pendeta Yansen juga menekankan perbedaan antara sekadar mengetahui tentang Tuhan dengan mengalami Tuhan. “Mengetahui Firman itu penting, tetapi mengalami Firman di dalam hidup jauh lebih mendalam. Hubungan intim dengan Tuhan tidak bisa digantikan oleh pengetahuan saja,” pesannya.

Di akhir khotbah, Pendeta Yansen menutup dengan kisah tradisi suku Apache yang menguji kedewasaan seorang pemuda — ditinggal sendirian di hutan pada malam hari, terikat namun tidak boleh melepaskan diri, dan harus bertahan menghadapi ketakutan tanpa melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika pagi tiba dan ia membuka mata, ternyata orang yang menjaganya sepanjang malam dan melindunginya dari bahaya adalah ayahnya sendiri.

“Begitulah Tuhan bersama kita. Di tengah ketakutan, kegelapan, dan masa depan yang tak pasti — Dia selalu ada, menjaga, dan memimpin kita bertumbuh menjadi dewasa sesuai dengan citra Kristus,” tutup Pendeta Selinanda dengan penuh pengharapan.

Ibadah ditutup dengan doa syafaat yang menguatkan iman jemaat untuk terus bertumbuh dalam iman, menuju kedewasaan yang utuh di dalam Kristus.

Reporter: Johan Sopaheluwakan

Berita Terkait

Mahasiswa UB Terjatuh dari Lantai 6 Gedung FBiPK
Situs Watu Lumpang hingga Linggayoni Dikenalkan ke Siswa, Museum Keliling Telusuri Jejak DAS Metro
507 Mahasiswa Baru Ikuti Pembukaan PKKMB UNIRA Malang 2026
Siswa SDIT Bina Insani Sukun Rayhan Farrel Dipercaya Bacakan Teks Pancasila di Barikan Anak Nusantara
MPLS Hari Kedua di Sekolah Rakyat Terintergrasi 1 Kabupaten Malang Diisi Salat Subuh dan Senam Pagi
Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Fesal Musaad, menjadi narasumber dalam Program Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Bupati Cup Pencak Silat 2026 Resmi Dibuka Pendaftaran, IPSI Kabupaten Malang Ajak Atlet Terbaik Rebut Tiket Menuju POPDA
Tanpa Batas Wilayah: Pembelajaran Hibrida UNIS Bawa Mahasiswa Luar Daerah Raih Gelar Magister

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 14:34 WIB

Mahasiswa UB Terjatuh dari Lantai 6 Gedung FBiPK

Selasa, 8 September 2026 - 20:14 WIB

Situs Watu Lumpang hingga Linggayoni Dikenalkan ke Siswa, Museum Keliling Telusuri Jejak DAS Metro

Sabtu, 5 September 2026 - 20:12 WIB

507 Mahasiswa Baru Ikuti Pembukaan PKKMB UNIRA Malang 2026

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Siswa SDIT Bina Insani Sukun Rayhan Farrel Dipercaya Bacakan Teks Pancasila di Barikan Anak Nusantara

Rabu, 19 Agustus 2026 - 06:28 WIB

MPLS Hari Kedua di Sekolah Rakyat Terintergrasi 1 Kabupaten Malang Diisi Salat Subuh dan Senam Pagi

Berita Terbaru