Garut – Teropongrakyat.co – 28 Agustus 2026 – Tulisan ini saya buat dan sajikan dalam rangka mensyukuri berkat rahmat AllaaH Yang Maha Kuasa yang berupa nikmat kemerdekaan dan umur panjang RI. Isinya khusus diperuntukkan bagi para pemuda anak bangsa yang di dalam jiwanya terbersit spirit membangun bangsa menjadi bangsa yang maju dan berkehidupan yang cemerlang (bukan hanya cerdas; cerdas saja tidak cukup).
Perlu saya garisbawahi bahwa pengertian bangsa di sini adalah bangsa menurut Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan menurut Teks Proklamasi 17 Agustus 1945.
Generasi penerus bangsa tsb di atas sejak dini perlu dibekali dengan kesadaran yang penuh bahwa:
1. Perjuangan mereka adalah perjuangan menjamin eksistensi bangsa yang cemerlang sepanjang masa. Medannya (the battlefield) adalah arena kompetisi global dalam segala bidang kehidupan bangsa.
2. Modal dasar yang mereka miliki hanya ada dua, yakni waktu (time) dan kesadaran (consciousness) terutama kesadaran akan kekuatan intelektual.
Pembekalan itu membutuhkan sistem pendidikan yang mampu memaksimalkan kedua modal waktu dan kesadaran tsb di atas agar, dengan menu dan dosis akademik yang tepat, generasi itu mampu tampil, eksis, dan cemerlang di panggung global sepanjang masa. Sistem pendidikan yang demikian, secara otomatis, akan membuat mereka mampu berprofesi di manapun di dunia; tidak lagi dibatasi secara geografis hanya dari Sabang s/d Merauke saja. Seluruh penjuru dunia menjadi tempat yang potensial bagi mereka untuk berprofesi sambil mengharumkan nama bangsa.
Nah, seperti itulah sistem pendidikan yang dibutuhkan mereka; sebuah sistem yang ramah dan gaul di kancah global. Dan, khusus untuk pendidikan formal, yang dibutuhkan adalah sistem yang bertumpu pada … CDT (Creative Destruction Theory)…!
Apa itu CDT? Baik, sebelumnya kita recall dahulu apa itu pendidikan.
STREET EDUCATION
Bagi saya, PENDIDIKAN adalah proses bagaimana waktu dan kesadaran digunakan secara maksimal kapanpun, di manapun, dan bagaimanapun kondisinya dalam upaya MENYAJIKAN MASA DEPAN PADA HARI INI.
Melalui pendidikan, masa depan yang terbentang lebar dan panjang tak bertepi (hanya dibatasi oleh kematian) pada hari ini kita sajikan kepada:
1. Siswa/mahasiswa secara terstruktur di lembaga pendidikan formal pada waktu yang terbatas
2. Para peserta secara terstruktur di lembaga pendidikan non-formal pada waktu yang terbatas
3. Sesama anggota masyarakat secara terbuka (tidak terstruktur) di “lembaga” pendidikan informal tanpa ada batas waktu. Lembaga ini berwujud kelas terbuka kehidupan sehari-hari; 24 jam per hari, 7 hari dalam sepekan. Karena itulah, pendidikan ini sering disebut Street Education.
Melalui pendidikan formal, dunia bisa melihat dengan transparan kualitas inteligensia anak bangsa. Sedangkan via Street Education, keluhuran budaya kita menjadi tontonan gratis dunia. Nah, sistem pendidikan yang dibutuhkan generasi penerus bangsa adalah yang memiliki bobot sangat besar pada kualitas pendidikan formal dan pada kualitas Street Education. Adapun terhadap kualitas pendidikan non-formal, dunia tidak begitu peduli.
Street Education adalah etalase utama marwah bangsa; etalase di mana nilai-nilai luhur bangsa dan nilai-nilai luhur umat manusia dipamerkan ke masyarakat dunia melalui praktik kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah, mengapa yang harus tampil sebagai guru utama dalam pendidikan ini adalah semua pejabat dan pengurus negara yang berada di semua lembaga Triaspolitica. Mereka lah penanggungjawab utama terhadap cemerlang tidaknya kehidupan bangsa. Sebagai contoh, kalau di lembaga Eksekutif, jelas sekali mulai dari Ketua RT, Ketua RW, Lurah/Kepala Desa, …, Wakil Presiden s/d Presiden adalah guru utama dalam street education.
APA ITU CDT?
Dengan postulat pendidikan tsb di atas, terus terang, saya sangat bertuah dikirim oleh negara untuk studi lanjut di negara Trois Mousquetaires; salah satu negara produsen Nobel Laureates terbanyak di dunia. Lebih-lebih lagi, saya dibimbing oleh the father of Data Science. Saya katakan bertuah karena di negara itulah untuk pertama kali saya diperkenalkan dengan Teori Kehancuran Kreatif (Creative Destruction Theory, disingkat CDT). Saya sungguh kaget tatkala difahamkan bahwa teori ini menjadi darah daging setiap sarjana (lulusan S1) di sana. Berbasis CDT, kegiatan akademik bermetamorfosis menjadi latihan untuk mendobrak the frontier of science menuju peradaban manusia yang lebih tinggi.
Pada dasarnya, mekanisme CDT amat sangat sederhana, yakni: “Membuat global novelty dalam STEM yang berpotensi memiliki high global impact.” Praktiknya berupa penciptaan teori baru atau pendekatan baru atau metode baru atau teknologi baru, dan mengganti the existing ones karena peformanya menjadi ketinggalan (obsolete).”
Mekanisme itu menuntut kesiapan Dosen, terlebih Guru Besar yang merupakan school of thought, untuk memiliki spirit “don’t be the follower of anyone – any scientists’ thought”. Satu-satunya yang harus diikuti oleh mereka adalah kebenaran (truth) dan kebaikan/keunggulan (superiority). Singkatnya, berbasis CDT, pendidikan berorientasi mencetak extraordinary people. Untuk itulah, di tingkat pendidikan tinggi diperlukan Dosen (disebut ilmuwan di dalam UU No. 14 Tahun 2005) yang ilmuwan kelas atas (ilmuwan hebat dalam istilah Susumu Katagawa, pemenang Nobel Prize bidang Kimia tahun 2025) atau extraordinary scientist dalam istilah Albert Einstein.
Bagi Einstein hanya ada 2 (dua) kategori ilmuwan/scientist, yakni extraordinary scientist dan ordinary scientist. Mereka dibedakan dari hasil KARYA ILMIAHnya. Kata Einstein, karya ilmuwan kategori pertama bersifat “genuinely new” (berorientasi kepada kemajuan ilmu) sedangkan kategori kedua karyanya berada pada tahap “to refine what already exists” (berorientasi kepada pengembangan ilmu). Bagi saya, masih ada kategori ketiga yang saya sebut pseudo-scientist (kayra ilmiahnya tidak mempamerkan pengembangan ilmu apalagi kemajuan ilmu).
Berdasarkan kategorisasi Einstein tsb saya simpulkan bahwa Tridharma Perguruan Tinggi (yang selama ini kita jadikan soko guru Pendidikan Tinggi) ternyata obsolete. Mengapa obsolete? Karena Dosen hanya dituntut mengembangkan IPTEK dan bukan memajukan IPTEK. Satu hal yang tidak boleh kita sangkal bahwa kualitas sebuah karya ilmiah, genuinely new atau tidak, legitimasinya berada di tangan international experts. Artinya, publikasi internasional berkelas is … a must.
MASIH TENTANG CDT
Sebenarnya, CDT sudah lama diperkenalkan secara formal. Ia dicetuskan pertama kali di bidang ekonomi oleh Joseph Schumpeter ekonom asal Austria dalam bukunya “Capitalism, Socialism and Democracy” tahun 1942. Teori ini menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi tatkala teknologi baru yang lebih superior masuk ke pasar menggantikan teknologi lama.
Dan, baru-baru ini dunia dibuat terkejut dengan adanya terobosan terbaru dalam CDT. Tahun 2025 yang baru berlalu, Philippe Aghion dan Peter Howitt dianugerahi Nobel Prize bidang ekonomi berkat karya mereka berupa model matematika untuk CDT.
Sebenarnya, CDT adalah ruh setiap Dosen namun ternyata tidak tercakup di dalam Tridharma. Aneh, bukan? Nah, agar ruh itu tidak lemah dan mekanisme CDT bisa berjalan dengan baik dan benar, maka Dosen (terutama Guru Besar) dituntut untuk kembali ke habitat aslinya yakni L3 atau LALILA (laboratorium, library, dan lapak) dengan tetap menjaga dan mengembangkan tradisi literature reviewing process. Lapak di sini maksudnya adalah events perdebatan ilmiah nasional (dengan sejawat dan melibatkan mahasiswa) dan internasional (di International Scientific Community).
Berikut adalah keanehaWalaupun Walaupun CDT sudah berusia lebih dari 80 tahun, namun tampaknya gaung CDT belum terekam di kurikulum sekolah/perguruan tinggi kita. Mohon dikoreksi bila saya salah.
REKOMENDASI
Jadilah diri sendiri…! Menjadi diri sendiri adalah ukuran integritas seorang Dosen sebagai ilmuwan. Dalam kaitan ini, Susumu Kitagawa memberikan tips berikut: “Jika ingin menjadi ilmuwan hebat, jangan menjadi pengikut (follower) ilmuwan lain. Berpikirlah sendiri, jangan mengikuti riset yang sudah ada.” Bahkan Malcolm Muggeridge, sastrawan kenamaan dari Inggris, mengingatkan dengan sangat lantang: “Hanya ikan mati yang berenang mengikuti arus.” Wow …, kedua pesan ini mengingatkan kita bahwa seorang ilmuwan sejati pasti akan mengikuti bisikan hatinya: “Don’t be the follower of anyone – any scientists’ thought!”
Oleh karena itulah, sebagai konsekuensinya, di lembaga pendidikan formal siswa/mahasiswa harus dibiasakan “berenang melawan arus”. Kondisikanlah agar mereka terbiasa mengembangkan kemampuan dalam membuat IDE BARU untuk mendobrak pikiran (dan buah pikiran) orang lain demi kemajuan peradaban. Salah satu caranya yaitu dengan membuat kombinasi baru dari elemen-elemen lama (tentu, dosis waktunya disesuaikan dengan usia). Kebiasaan inilah yang menjadi pintu gerbang menuju kemampuan mengimplementasikan CDT.
CATATAN PENUTUP
Sayang sekali, praktik pendidikan kita bukan untuk mencemerlangkan kehidupan bangsa (cemerlang di antara bangsa-bangsa maju) tapi untuk sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, just to follow the tracks of others or just for survival. Mengapa terjadi demikian? Ini terjadi akibat kita keliru dalam memaknai amanat “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang tersurat dalam Alinea keempat pada Preambul UUD 1945. Bila Alinea tersebut kita renungkan, maka kita akan sampai kepada makna tersiratnya, yakni “mencemerlangkan kehidupan bangsa”.
Hakekat pendidikan adalah membangun human integrity. Pendidikan akan dianggap gagal kalau menghasilkan manusia-manusia anomaly; manusia error, tak berintegritas. Secara tautologis, mereka yang tidak punya integritas adalah mereka yang tak berpendidikan (walaupun pernah meraih DSc sekali pun; beyond S3).
Dalam 12 tahun terakhir makin banyak indikator yang menunjukkan kegagalan praktik pendidikan kita; baik pendidikan formal apalagi pendidikan di kelas terbuka kehidupan (street education). Bahkan, pada tahun 2016, ada yang mengklaim bahwa pendidikan kita tertinggal 128 tahun dari negara-negara maju. Tampak jelas, makin hari, pendidikan kita makin terisolasi dari pergaulan di tingkat global. Untuk mendobrak isolasi itu, pendidikan berbasis CDT adalah jawaban yang menjanjikan dalam upaya membangun kehidupan bangsa yang cemerlang.
Silahkan renungkan 2 (dua) bait lagu anak-anak murid SD di Perancis tahun 1970an tatkala terjadi krisis minyak dunia; lagu tsb berjudul “On n’a pas de pétrole”:
On n’a pas de pétrole
(Kami tidak punya minyak)
Mais on a des idées
(Tetapi kami punya otak)
Sebuah lagu anak-anak yang menantang kapasitas intelektual mereka. Bagaimana dengan lagu anak-anak murid SD kita?
Demikianlah, semua itu sekadar secuil bahan kontemplasi dalam upaya menyajikan masa depan generasi penerus bangsa yang gemilang pada hari ini. Semoga bermanfaat.
MERDEKA …!
Salam dari Garut,
Maman A. Djauhari (Pensiun dari ITB tahun 2009)
Activist in scientific knowledge production
(kata UNESCO dan juga kata AEGIS; Australian Experts Group in Industry Studies)
Red


























































