Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
Teropong Rakyat Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Tropong PLUS Masuk
T+
Terkini
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Teropong Rakyat. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTOpini: Sayang Itu Merelakan, Bukan MempertahankanKomentar: 0

Opini: Sayang Itu Merelakan, Bukan Mempertahankan

Teropong Rakyat, 14 Juli 2025, 01:02 WIB · 2 menit bacaBaca di App
Huruf
Foto: Dokumentasi

Oleh: Redaksi Teropongrakyat.co

Di tengah narasi cinta yang kerap dibumbui oleh kalimat “perjuangkan dia sampai akhir,” muncul pandangan berbeda yang justru menantang konsep tersebut: sayang itu merelakan, bukan mempertahankan. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti bentuk menyerah. Namun bagi mereka yang telah mencintai dalam-dalam, merelakan bisa jadi adalah puncak dari kedewasaan.

Seringkali kita terjebak dalam keyakinan bahwa jika benar-benar cinta, maka harus bertahan apapun keadaannya. Padahal, bertahan tidak selalu identik dengan cinta. Kadang justru rasa takut sendirilah yang mendorong kita untuk terus berpegangan, meski hati telah penuh luka. Kita lupa, bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan tentang memberi ruang untuk bahagia—meskipun bukan bersama kita.

Baca Juga:  Aparat Bersenjata Lengkap, Rakyat Jadi Sasaran

Merelakan bukan berarti berhenti mencintai. Tapi itu berarti kita mencintai dengan cukup besar untuk tidak mementingkan ego. Bahwa kita memahami, tidak semua yang kita inginkan harus kita genggam. Terkadang, yang paling kita sayangi adalah yang harus kita lepaskan.

Dan di sinilah letak keberanian yang sebenarnya. Merelakan seseorang yang kita cintai bukan karena kita tak cukup baik, tapi karena kita tahu dia layak tumbuh di tempat yang tidak membebaninya, dan kita pun pantas mendapatkan cinta yang utuh, bukan setengah hati.

Baca Juga:  Dosen Laksanakan Pengabdian Masyarakat di Kebun Jeruk Batu Malang

Dalam dunia yang kian keras dan cepat berubah, mungkin saatnya kita mengubah cara pandang terhadap cinta. Cinta yang sehat tidak menahan, tapi membebaskan. Bukan soal siapa yang paling lama bertahan, tapi siapa yang paling tulus memberi tanpa paksaan.

Maka, jika kamu sedang dalam persimpangan hati, ingatlah: mencintai tidak harus selalu mempertahankan. Kadang, bentuk cinta paling murni adalah saat kita mampu berkata: “Pergilah, dan semoga kamu bahagia.”

 

Lihat Opini Selengkapnya→
Artikel Terkait Opini
Breaking NewsKanal lain
TNI – PolriKanal lain