Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
Teropong Rakyat Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Tropong PLUS Masuk
T+
Terkini
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Teropong Rakyat. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTQRIS Bikin Tambal Ban Pak Soleh Lebih Praktis, Bina Desa Manajemen UPN Veteran Jatim Hadirkan Dampak NyataKomentar: 0

QRIS Bikin Tambal Ban Pak Soleh Lebih Praktis, Bina Desa Manajemen UPN Veteran Jatim Hadirkan Dampak Nyata

Teropong Rakyat, 7 November 2026, 10:25 WIB · 6 menit bacaBaca di App
Huruf
Foto: Dokumentasi

SURABAYA,
teropongrakyat.co — Bagi Soleh, pemilik usaha tambal ban, perubahan kecil ternyata bisa memberi dampak yang cukup terasa. Sejak usahanya mulai menerima pembayaran melalui QRIS, pelanggan yang tidak membawa uang tunai tetap bisa menggunakan jasanya tanpa harus pergi mencari uang terlebih dahulu.

Kemudahan itu menjadi salah satu hasil pendampingan Kelompok Bina Desa Program Studi Manajemen UPN Veteran Jawa Timur yang dilakukan mahasiswa di bawah bimbingan Dr. M. Tahajjudi Ghifary, M.PSDM.

Kunjungan dan pendampingan kepada usaha tambal ban milik Soleh dilakukan pada Senin (12/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, tim menyerahkan QRIS kepada Soleh, sekaligus menyerahkan dan memasang banner usaha tambal ban agar lokasi usahanya lebih mudah dikenali masyarakat.

Soleh mengaku fasilitas QRIS memberi manfaat yang langsung dirasakan dalam aktivitas usahanya sehari-hari.

“QRIS ini sangat membantu. Setiap hari kurang lebih ada Rp100.000 yang masuk melalui QRIS. Pelanggan juga jadi lebih mudah membayar karena tidak harus selalu membawa uang cash,” ujar Soleh.

Menurut dia, sebelumnya ada pelanggan yang kesulitan membayar ketika tidak membawa uang tunai. Kini, situasinya berbeda. Pelanggan cukup memindai QRIS melalui telepon seluler dan transaksi dapat langsung dilakukan.

Bagi usaha kecil seperti tambal ban, kemudahan tersebut bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga berkaitan dengan pelayanan.

Pilihan pembayaran yang lebih fleksibel membuat Soleh dapat melayani pelanggan dengan lebih praktis, termasuk mereka yang mulai terbiasa menggunakan pembayaran digital dalam aktivitas sehari-hari.

Soleh juga menyampaikan rasa terima kasih kepada mahasiswa Bina Desa yang telah mendampingi usahanya.

Ia bahkan sempat meminta maaf karena merasa cukup sering merepotkan mahasiswa selama proses pendampingan berlangsung.

“Saya minta maaf kalau selama ini sering merepoti anak-anak Bina Desa. Tapi saya juga sangat berterima kasih karena sudah banyak dibantu oleh rekan-rekan mahasiswa,” kata Soleh.

Menurutnya, bantuan yang diberikan mahasiswa terasa nyata karena langsung dapat digunakan dalam kegiatan usahanya sehari-hari.

Mahasiswa Belajar, UMKM Ikut Berkembang

Rayyan Alkatiri, Ketua Kelompok Bina Desa Benowo, menjelaskan bahwa peran mahasiswa dalam program tersebut bukan sekadar datang membawa bantuan, tetapi juga mendampingi proses belajar dan pengembangan UMKM secara bertahap.

Menurut Rayyan, mahasiswa berupaya mengedukasi pelaku usaha agar lebih memahami pentingnya adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen, termasuk dalam penggunaan pembayaran digital dan penguatan identitas usaha.

“Peran kami bukan hanya membantu menyediakan QRIS atau banner, tetapi juga memberi pemahaman kepada pelaku UMKM tentang bagaimana hal-hal sederhana ini bisa mendukung perkembangan usaha mereka,” ujar Rayyan.

Ia menambahkan, pendampingan dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.

“Setiap UMKM punya tantangan yang berbeda. Karena itu kami mencoba mendengarkan terlebih dahulu, kemudian mencari solusi yang paling realistis dan bisa langsung digunakan. Harapannya UMKM tidak hanya terbantu saat program berjalan, tetapi juga bisa terus berkembang setelah pendampingan selesai,” katanya.

Baca Juga:  Dirjen IKP Dukung Program Edukasi Satgas Anti Hoax PWI

Rayyan menilai kegiatan Bina Desa juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu manajemen secara nyata.

“Di sini mahasiswa belajar bahwa mengembangkan UMKM tidak cukup hanya dengan teori. Kami harus memahami kondisi usaha, kebiasaan pelanggan, kemampuan pelaku usaha, lalu menerjemahkan itu menjadi solusi yang sederhana tetapi berdampak,” ujarnya.

Garneta Belva Azzura, mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Bina Desa, menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi usaha tidak selalu harus dimulai dengan perubahan yang rumit.

“Kadang yang dibutuhkan UMKM itu sederhana, tetapi tepat guna. QRIS misalnya, kelihatannya sederhana, tetapi ternyata bisa membuat pelanggan tetap bertransaksi meskipun tidak membawa uang tunai,” ujar Garneta.

Naura Rafa Callista menambahkan, tim juga memberikan perhatian pada tampilan fisik usaha melalui pemasangan banner.

Menurut dia, keberadaan banner membantu pelanggan mengenali lokasi usaha dengan lebih mudah.

“Usaha kecil juga perlu identitas yang jelas. Banner mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi pelanggan yang lewat, itu bisa menjadi penanda bahwa di tempat tersebut tersedia jasa tambal ban,” kata Naura.

Al Baihaqi Ibnu Fajar melihat kegiatan tersebut sebagai pengalaman yang memperlihatkan bagaimana ilmu manajemen dapat diterapkan dalam persoalan sehari-hari.

“Di kelas kami belajar tentang pelayanan konsumen dan proses bisnis. Ketika turun langsung, kami jadi melihat bahwa pengalaman pelanggan bisa dipengaruhi oleh hal-hal kecil, termasuk cara pembayaran,” ujarnya.

Sementara itu, Muttaqie Al Azzam Ambarak menilai pendampingan seperti ini membuat mahasiswa belajar untuk tidak memberikan solusi berdasarkan asumsi.

Menurut dia, mahasiswa harus terlebih dahulu memahami kebutuhan pelaku usaha.

“Yang kami pelajari justru bagaimana mendengar kebutuhan mereka. Tidak semua UMKM membutuhkan hal yang sama. Untuk usaha Pak Soleh, QRIS dan banner ternyata memang sangat membantu,” katanya.

Indiarto Prihadi menambahkan, pembayaran digital juga membawa manfaat lain karena sebagian transaksi dapat tercatat secara otomatis.

“Selain memudahkan pelanggan, QRIS juga membantu pelaku usaha melihat transaksi yang masuk. Jadi sedikit demi sedikit pengelolaan usahanya juga bisa menjadi lebih tertata,” ujarnya.

Pemberdayaan Tidak Selalu Berupa Modal

Dosen pembimbing Bina Desa, Dr. M. Tahajjudi Ghifary, M.PSDM., mengatakan pengalaman Soleh menunjukkan bahwa pemberdayaan pelaku usaha tidak selalu harus dimulai dengan bantuan modal dalam jumlah besar.

Menurut Ghifary, pemberdayaan dapat dilakukan dengan membantu masyarakat memperoleh akses terhadap teknologi, informasi, sarana usaha, dan keterampilan yang membuat mereka lebih mandiri.

“Dalam konsep human resource empowerment, yang kita dorong bukan ketergantungan. Justru masyarakat perlu memiliki kemampuan dan akses yang membuat mereka semakin percaya diri dalam mengelola usahanya sendiri,” ujar Ghifary.

Baca Juga:  Polsek Kepulauan Seribu Utara Gelar Patroli Malam Perintis Presisi, Cegah Tawuran dan Penyalahgunaan Narkoba

Ia menambahkan, pendekatan tersebut juga sejalan dengan konsep capacity building atau peningkatan kapasitas.

Ketika pelaku usaha mampu menggunakan QRIS sendiri, memahami manfaatnya, dan menjadikannya bagian dari pelayanan sehari-hari, maka ada peningkatan kapasitas yang terjadi secara nyata.

“Pemberdayaan itu kadang terlihat dari perubahan kecil. Kalau sebelumnya hanya menerima uang tunai, sekarang bisa menerima pembayaran digital. Kalau sebelumnya usahanya kurang terlihat, sekarang ada banner. Hal sederhana seperti ini bisa menjadi fondasi untuk perkembangan berikutnya,” katanya.

Berangkat dari UMKM, Mendukung SDGs

Ghifary juga menilai pendampingan tersebut memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals atau SDGs.

Menurut dia, keberlanjutan usaha mikro memiliki hubungan erat dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth, karena usaha kecil menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kalau usaha kecil mampu bertahan, melayani konsumen lebih baik, dan memperoleh tambahan peluang transaksi, sebenarnya kita sedang mendukung pertumbuhan ekonomi dari level yang paling dekat dengan masyarakat,” ujar Ghifary.

Penggunaan QRIS juga mencerminkan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, terutama dalam mendorong pemanfaatan teknologi pada sektor usaha mikro.

Sementara itu, keterlibatan mahasiswa, dosen, dan pelaku usaha mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, yakni pembangunan melalui kolaborasi.

“SDGs tidak selalu harus diterjemahkan dalam proyek yang besar. Membantu satu pelaku usaha beradaptasi dengan teknologi juga menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan ketika manfaatnya benar-benar dirasakan,” katanya.

Kampus Belajar Bersama Masyarakat

Bagi Ghifary, kegiatan Bina Desa bukan hanya soal kampus memberikan bantuan kepada masyarakat.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi proses belajar bersama.

Mahasiswa belajar memahami realitas usaha kecil, sementara masyarakat memperoleh akses terhadap pengetahuan dan solusi yang dapat membantu aktivitas usahanya.

“Kampus tidak cukup hanya hadir dengan teori. Mahasiswa perlu belajar bahwa ilmu manajemen harus bisa diterjemahkan menjadi sesuatu yang bermanfaat, bahkan dari hal yang sangat sederhana,” ujar Ghifary.

Pengalaman Soleh menjadi salah satu gambaran bagaimana transformasi usaha mikro dapat dimulai dari kebutuhan sehari-hari.

QRIS membuat pembayaran menjadi lebih mudah. Banner membuat usaha lebih mudah dikenali. Sementara interaksi antara mahasiswa dan pelaku usaha membuka ruang pembelajaran yang tidak selalu ditemukan di dalam kelas.

Melalui program Bina Desa, Program Studi Manajemen UPN Veteran Jawa Timur berharap pendampingan kepada usaha-usaha kecil dapat terus berkembang dengan pendekatan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Sebab, bagi pelaku usaha seperti Soleh, satu perubahan sederhana dapat menjadi sesuatu yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. (Ghifary)

Lihat Edukasi Selengkapnya→
Artikel Terkait Edukasi
Breaking NewsKanal lain
TNI – PolriKanal lain