CIANJUR, teropongrakyat.co – Makam keramat Raden Natadimanggala yang berada di Desa Kademangan, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diyakini oleh keluarga keturunannya memiliki hubungan genealogis dengan Prabu Siliwangi, tokoh besar dalam sejarah Kerajaan Sunda.
Hingga kini, makam tersebut masih terawat dan menjadi salah satu tempat yang dikunjungi masyarakat untuk berziarah, berdoa, sekaligus mengenal lebih jauh sejarah serta silsilah leluhur yang berkembang di lingkungan keluarga keturunannya.
Juru kunci makam, Ustaz Yanto, mengatakan bahwa Raden Natadimanggala memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat setempat. Menurutnya, sosok tersebut dikenal dalam tradisi keluarga sebagai keturunan Prabu Siliwangi sekaligus tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam di wilayah Cianjur.
“Mbah Raden Natadimanggala masih keturunan Mbah Prabu Siliwangi dan penyebar agama Islam di wilayah Cianjur. Beliau juga masih memiliki hubungan saudara sepupu dengan Raden Arya Wiratanudatar bin Raden Arya Wangsa Goparana Sagala Herang,” ungkap Ustaz Yanto, Selasa (3/11/2026) malam.
Sementara itu, salah seorang keturunannya, Raden Sukayat, memaparkan silsilah garis keturunan Raden Natadimanggala hingga beberapa generasi berikutnya.
Menurut Raden Sukayat, Raden Natadimanggala memiliki putra bernama Mbah Raden Syekh Abdul Karim Banten. Selanjutnya, garis keturunan tersebut berlanjut kepada Mbah Raden Syekh Mohamad Alim Panunggulan, Serang, Banten; Mbah Raden Syekh Muhammad Yusuf Cileungsi, Bogor; Mbah Raden Marfu di Kabupaten Bekasi; Mbah Raden Andun di Setu, Kabupaten Bekasi; hingga Bapak Raden Abdullah di Setu, Kabupaten Bekasi.
Ia juga memaparkan silsilah leluhur Raden Natadimanggala yang menurut catatan dan penuturan keluarga tersambung hingga Prabu Siliwangi.
Adapun urutan silsilah yang disampaikan dimulai dari Mbah Raden Natadimanggala bin Mbah Raden Sawidak Reana bin Mbah Raden Wira Adegdaha Regen Sukapura atau Syekh Muhyi bin Mbah Raden Giri Kedaton bin Mbah Raden Giri Laya bin Mbah Raden Malaya atau Mbah Sunan Kalijaga.
Selanjutnya, silsilah tersebut berlanjut kepada Mbah Raden Tumenggung Singa Ratu ing Mataram bin Mbah Raden Haris Baya bin Mbah Raden Pangeran Sumedang atau Pangeran Geusan Ulun bin Mbah Raden Tapas Watun bin Mbah Raden Singa Manggala bin Mbah Raden Susunan Ronggolawe (Tuban, Jawa Timur).
Kemudian, berlanjut kepada Mbah Raden Pamekel Tempuh bin Mbah Raden Entol Kasub bin Mbah Raden Karta Santika bin Mbah Raden Entol Sambirana bin Mbah Raden Singabangsa atau Mbah Raden Singaperbangsa bin Mbah Raden Nurman ing Batuwangi, Garut bin Mbah Raden Sarevan Nebor bin Mbah Raden Kuda Landjar bin Mbah Raden Ratu Puhun atau Mbah Ratu Buhun bin Mbah Prabu Siliwangi yang disebut beristrikan Mbah Ratu Galuh Mangkualam.
Raden Sukayat menegaskan, pemaparan babad dan silsilah keluarga tersebut dilakukan sebagai upaya mengenalkan kembali sejarah leluhur kepada generasi penerus.
Menurutnya, penelusuran dan penyampaian silsilah ini diharapkan dapat menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan, menjaga persatuan, serta menghindari perbedaan pemahaman di antara para keturunan.
“Kami membuka babad silsilah ini untuk membuka sejarah yang sebenarnya agar ke depan anak cucu beliau tidak bercerai-berai dan selalu menjunjung Bhinneka Tunggal Ika,” pungkasnya.
Keberadaan makam Raden Natadimanggala menjadi bagian dari warisan sejarah dan tradisi ziarah masyarakat setempat. Namun, penelusuran lebih lanjut melalui dokumen sejarah, arsip, dan sumber-sumber yang dapat diverifikasi tetap diperlukan untuk memperkuat kepastian silsilah tersebut.
(Red)












