Jakarta Utara, TeropongRakyat.co – Persoalan akses penyeberangan warga di wilayah Cilincing, Jakarta Utara, hingga kini belum juga mendapatkan solusi permanen. Memasuki tahun 2026, masyarakat masih harus mengandalkan eretan atau kapal getek untuk menyeberangi kali dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kamis, (27/08/2026).
Warga dari kawasan Rawa Malang, Kampung Sawah, dan wilayah sekitarnya masih menggunakan jasa eretan sebagai akses penghubung. Untuk sekali menyeberang, warga dikenakan biaya sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000.
Kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri di tengah ambisi Jakarta membangun citra sebagai kota global. Sebab, kebutuhan yang dihadapi masyarakat bukanlah fasilitas mewah, melainkan infrastruktur dasar berupa jembatan yang aman dan dapat digunakan tanpa harus membayar setiap kali menyeberang.
Eretan sendiri bukanlah moda transportasi baru. Keberadaannya telah dikenal masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Namun hingga kini, sarana tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan warga Cilincing.
Pertanyaannya, mengapa setelah puluhan tahun pembangunan Jakarta berjalan, masyarakat di kawasan tersebut masih belum mendapatkan akses jembatan yang layak?
Pembangunan kota seharusnya tidak hanya diukur dari megahnya proyek infrastruktur, gedung bertingkat, pelebaran jalan, maupun kawasan yang berkembang pesat. Pemerataan juga semestinya terlihat dari terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat di wilayah yang selama ini berada di pinggiran pusat pembangunan.
Bagi warga yang setiap hari harus menyeberang, keberadaan jembatan bukan sekadar persoalan fasilitas. Jembatan merupakan akses penting untuk bekerja, bersekolah, berdagang, serta menjalankan berbagai aktivitas lainnya.
Jika akses sederhana seperti jembatan saja belum tersedia, maka pemerintah perlu kembali melihat apakah pembangunan benar-benar telah dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Jakarta.
Kondisi ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah kota administrasi terkait. Perlu ada penjelasan mengenai status kebutuhan jembatan tersebut, apakah sudah pernah diusulkan, apakah telah masuk perencanaan pembangunan, serta kapan masyarakat dapat memperoleh akses penyeberangan yang lebih layak.
Jangan sampai masyarakat terus diminta menunggu sementara setiap hari mereka harus mengeluarkan uang hanya untuk berpindah dari satu sisi kali ke sisi lainnya.
Di tahun 2026, ketika Jakarta terus berbicara tentang transformasi menjadi kota global, masih adanya warga yang bergantung pada eretan menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak cukup hanya terlihat dari pusat kotanya. Kemajuan juga harus dirasakan oleh masyarakat yang berada di pelosok wilayahnya.
TeropongRakyat.co akan terus memantau persoalan akses penyeberangan warga Cilincing dan menunggu langkah konkret pemerintah dalam menjawab kebutuhan infrastruktur dasar tersebut.


























































