JAKARTA PUSAT,teropongrakyat.co- Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menggelar rapat kerja Selasa 16 juni 2026 yang dihadiri tokoh-tokoh masyarakat Betawi, jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pengurus organisasi kemasyarakatan, serta para pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan tersebut menjadi forum konsolidasi sekaligus penguatan peran masyarakat Betawi dalam mendukung pembangunan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada budaya lokal.
Ketua Umum Bamus Betawi, Riano P. Ahmad, mengatakan rapat kerja tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas para pengurus dan ketua kelompok masyarakat Betawi terkait perkembangan regulasi, arah pembangunan Jakarta, serta berbagai persoalan yang dihadapi ibu kota.
“Yang penting adalah bagaimana kita memberikan peningkatan kapasitas kepada para pengurus dan ketua kelompok terkait perkembangan ibu kota, regulasi terbaru, serta berbagai persoalan yang ada di Jakarta,” ujar Riano dalam sambutannya.
Menurut dia, Bamus Betawi juga berkomitmen mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang mengatur penguatan kelembagaan adat Betawi melalui pembentukan Majelis Kaum Betawi.
Riano mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap masyarakat dan budaya Betawi. Ia menilai sejumlah kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi putra-putri Betawi untuk mengisi posisi strategis di lingkungan pemerintahan merupakan bentuk nyata keberpihakan terhadap budaya lokal.
“Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga identitas budaya Betawi sebagai budaya asli Jakarta,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Kehormatan Bamus Betawi, Fauzi Bowo, menekankan pentingnya persatuan masyarakat Betawi dalam menghadapi tantangan pembangunan Jakarta ke depan.
Menurut Fauzi, keberadaan Bamus Betawi merupakan salah satu instrumen penting dalam memperkuat persatuan masyarakat Betawi sekaligus menjaga harkat, martabat, dan marwah budaya Betawi.
“Kalau kita bersatu, banyak hal yang bisa kita lakukan bersama untuk kebaikan Jakarta dan masyarakat Betawi,” ujarnya.
Fauzi juga mengajak masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
“Berhijrah dari yang kurang baik menjadi lebih baik merupakan tantangan sekaligus kewajiban kita semua sebagai umat Islam,” tegas Fauzi.
Sementara itu, Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, menyampaikan bahwa visi Jakarta sebagai kota global harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya Betawi.
Ia menegaskan bahwa budaya Betawi harus tampil sebagai budaya lokal yang mampu bersaing di tingkat internasional tanpa kehilangan identitas aslinya.
“Budaya Betawi harus menjadi budaya lokal yang mendunia, bukan budaya Betawi yang kehilangan jati dirinya karena mengikuti budaya luar,” ujarnya.
Ali juga menyoroti pentingnya semangat inklusivitas dalam pembangunan Jakarta. Menurut dia, seluruh warga yang tinggal di Jakarta harus merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kota ini, sementara masyarakat Betawi tetap menjadi tuan rumah yang mampu merangkul seluruh elemen masyarakat.
Selain itu, ia mengajak seluruh pihak mendukung gerakan “Jaga Jakarta”, sebuah program kolaboratif yang mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan, kebersihan, dan kualitas hidup di ibu kota.
“Jakarta tidak bisa dibangun hanya oleh pemerintah atau masyarakat Betawi saja, tetapi oleh seluruh warga yang merasa memiliki kota ini,” ujar Ali.
Rapat kerja tersebut diharapkan menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang dapat memperkuat sinergi antara masyarakat Betawi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama dalam menyongsong lima abad Jakarta sebagai kota global yang berbudaya.
Acara berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan, ditandai dengan komitmen para peserta untuk terus menjaga identitas budaya Betawi sebagai bagian penting dari masa depan Jakarta.



























































