Bau Amonia dan Metan Limbah Kotoran Sapi Dikeluhkan Warga Desa Tlekung Kota Batu, Kharisma: Ibu Saya Sakit jadi Terganggu

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 12:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Batu |Teropongrakyat co – Permasalahan sosial akibat bau limbah kotoran sapi sering kali memicu konflik antara peternak dan warga sekitar, seperti yang terjadi di RT 06 RW, 06, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Dampak utamanya meliputi polusi udara akibat gas metan dan amonia yang menyengat, pencemaran air tanah atau got dari limbah yang dibuang sembarangan, serta risiko gangguan kesehatan seperti gangguan pernapasan (ISPA) dan penurunan kualitas lingkungan.

Salah seorang warga setempat, Kharisma mengeluhkan aliran limbah kotoran sapi dari peternakan tetangga yang masuk ke saluran got depan rumahnya, hingga mengakibatkan bau busuk yang membuat mual perut, dan pusing kepala jika terhirup manusia.

Menurutnya, bau yang dihasilkan dari zat amonia dan metan hasil dari limbah pembuangan kotoran sapi mengalir tepat di depan rumahnya yang menganggu pernafasan sekeluarga, apalagi setiap kali tamu datang ke rumahnya juga mencium aroma tidak sedap hingga membuat mual dan muntah.

Tak hanya itu, bahkan sekeluarga juga mengaku terganggu dengan bau kotoran sapi yang mengaliri got depan rumahnya tersebut, setiap hari mengeluarkan bau menyengat terlebih jika mengalir.

“Terus terang ini sudah bertahun-tahun, baunya sangat menyengat sekali, apalagi saya sekeluarga malu kalau ada tamu mereka juga kebauan ditambah ibu saya yang sedang sakit juga merasa terganggu dengan bau kotoran sapi, hingga mengalami sesak nafas,” keluhnya, pada Rabu (10/6/2026).

Baca Juga:  Polda Metro Jaya Bongkar Penyelundupan 439 Ballpress Pakaian Bekas Impor

Wanita yang berprofesi sebagai jurnalis ini menambahkan, jika pagi, siang, sore dan malam sering mengalir. Alhasil, bau aroma tidak sedap yang sangat menyengat sekali membuat sekeluarga tidak nyaman terasa hingga masuk ke dalam rumah.

Kharisma mengatakan, jika ia tidak bisa berani membuka pintu ruang tamu, dan jendela saat ada tamu datang karena bau masuk langsung masuk ke ruangan rumah.

Pantauan awak media di lokasi, kondisi semakin parah ketika tampungan limbah penuh dan merembes hingga ke tembok halaman rumahnya.

“Kami sangat terganggu sekali dan dan tidak nyaman, jadi sangat malu kalau ada tamu datang ke rumah, apalagi ibu saya juga sakit sesak nafas,” ungkapnya.

Atensi DLH Kota Batu Sidak ke Lokasi

Keluhan ini menyoroti persoalan pengelolaan limbah kotoran sapi peternakan di permukiman yang padat penduduk di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Berdasarkan kajian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, amonia dan metan dari kotoran hewan dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta menurunkan kualitas hidup warga di sekitarnya.

Baca Juga:  Panglima TNI dan Kapolri Hadiri Doa Bersama dan Tinjau Kesiapan Pilkada Jatim 2024

“Ya, apalagi yang berdekatan seperti ibu Kharisma ini dan keluarganya. Mereka berharap, ada penanganan dari kami, agar aliran limbah kotoran sapi tidak lagi mencemari saluran got depan rumahnya, maka dari itu hari ini kami sengaja sidak ke lokasi,” kata Sekdis DLH Kota Batu, Latif usai menurunkan tim lapangan bagian peninjauan.

Pihaknya menambahkan, dari hasil sidak diketahui peternak melakukan pembuatan biogas, dengan cara engolah feses sapi melalui tabung digester untuk menghasilkan gas metana yang bisa digunakannya untuk memasak.

“Maka dari itu, kami menyarankan untuk mempunyai Pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dimana salah satu tujuannya untuk memastikan air sisa pembersihan kandang disaring dan dinetalkan sebelum dialirkan ke saluran umum. Jadi, tidak boleh langsung dibuang ke dalam aliran got depan rumah yang menimbulkan bau tidak sedap,” tandasnya.

Hingga berita ini dilansir, saat ini belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Tlekung, terkait mengenai aduan tersebut.

Berita Terkait

Pertamax Naik Rp4.000, Masyarakat Terbebani
Ahli Tergugat Dinilai Blunder di Persidangan, Akui AJB yang Ditandatangani Orang Meninggal “Batal Demi Hukum”
Tragedi Curug Ciparay: Wisatawan Ditemukan Tewas Setelah Diperingatkan Pengelola
Diduga Ada Pungutan SPP dan Uang Pembangunan, Kepala MAN 5 Bogor Belum Berikan Klarifikasi
Realisasi Utang Negara Hingga Mei 2026 Terukur dan Sesuai Kebutuhan
SDN Rawa Badak Utara 15 Gelar Perpisahan dan Pelepasan Siswa Kelas VI, Siswa Berprestasi Raih Penghargaan
Vendor Pertanyakan Nasib Tagihan Rp1,6 Miliar Setelah Bertahun-tahun Menunggu
Siang Bolong Nongkrong Diduga Bawa Sajam, Remaja di Utan Panjang Bikin Warga Khawatir

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 12:38 WIB

Bau Amonia dan Metan Limbah Kotoran Sapi Dikeluhkan Warga Desa Tlekung Kota Batu, Kharisma: Ibu Saya Sakit jadi Terganggu

Rabu, 10 Juni 2026 - 11:37 WIB

Pertamax Naik Rp4.000, Masyarakat Terbebani

Senin, 8 Juni 2026 - 19:50 WIB

Ahli Tergugat Dinilai Blunder di Persidangan, Akui AJB yang Ditandatangani Orang Meninggal “Batal Demi Hukum”

Senin, 8 Juni 2026 - 10:21 WIB

Tragedi Curug Ciparay: Wisatawan Ditemukan Tewas Setelah Diperingatkan Pengelola

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:33 WIB

Diduga Ada Pungutan SPP dan Uang Pembangunan, Kepala MAN 5 Bogor Belum Berikan Klarifikasi

Berita Terbaru

Breaking News

Pertamax Naik Rp4.000, Masyarakat Terbebani

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:37 WIB