Nusa Tenggara Timur,TeropongRakyat.co – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) meninggalkan luka mendalam. Berdasarkan data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, setidaknya 47 orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari 5.000 warga terpaksa mengungsi .
Kekuatan gempa yang berpusat di wilayah Nagekeo ini tak hanya meratakan bangunan, tetapi juga memicu rentetan gempa susulan yang mengkhawatirkan. Hingga Minggu dini hari, tercatat 341 kali gempa susulan dengan kekuatan berkisar antara magnitudo 3,7 hingga 6,2 masih terus mengguncang wilayah tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa wilayah itu belum benar-benar aman, dan para ahli memperingatkan jumlah korban kemungkinan masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
“Kondisi di lapangan masih sangat sulit. Banyak warga memilih bermalam di luar rumah karena takut bangunan ambruk sewaktu-waktu. Proses pendataan pun belum tuntas karena akses yang terputus di beberapa titik,” ujar perwakilan BNPB dalam keterangan resminya .
Kabupaten Manggarai tercatat sebagai daerah dengan korban tewas terbanyak, mencapai 24 orang, diikuti Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, serta Ngada dan Ende masing-masing satu orang. Ribuan rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan tempat ibadah rusak berat, membebani warga yang kehilangan tempat berlindung.
Pemerintah pusat dan daerah telah mengerahkan tim gabungan untuk evakuasi serta pendistribusian bantuan, namun tantangan akses jalan yang putus dan pasokan logistik yang terbatas menjadi penghambat utama. Para pengungsi saat ini sangat membutuhkan tenda, makanan, air bersih, dan obat-obatan mengingat cuaca yang tidak menentu dan gempa susulan yang terus berulang.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian korban serta pendataan kerusakan masih berlangsung terus-menerus. Seluruh elemen masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan pihak berwenang demi keselamatan bersama. Bantuan dari berbagai daerah mulai mengalir, namun jalan masih panjang sebelum kehidupan warga NTT dapat kembali normal.
Teguh donie



























































