Dugaan Proyek Pedestrian Rp5,19 M di Bekasi Disorot, BPIKPNPA RI Minta APH Usut Tuntas

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 20:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi .Teropongrayat.co — Proyek pembangunan pedestrian di Jalan Kemakmuran, Bekasi Selatan, senilai Rp5,19 miliar menuai sorotan tajam dari Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPIKPNPA RI). Lembaga tersebut mendesak aparat penegak hukum segera turun tangan mengusut dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek.

Ketua Umum BPIKPNPA RI, Rahmad Sukendar, meminta pihak kepolisian dan kejaksaan untuk mengusut tuntas persoalan ini hingga ke akar-akarnya.

“Kami meminta aparat penegak hukum, baik kepolisian maupun kejaksaan, segera membongkar persoalan ini secara menyeluruh agar terang benderang dan tidak merugikan keuangan negara,” tegas Rahmad, Minggu (3/5/2026).

Menurutnya, BPIKPNPA RI sebagai garda terdepan dalam pengawasan penggunaan anggaran negara, baik APBN maupun APBD, akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan pada 1 Mei 2026, ditemukan sejumlah kejanggalan pada proyek yang berada di bawah tanggung jawab Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi tersebut. Meski diduga tidak sesuai spesifikasi teknis, pekerjaan justru tetap dilanjutkan tanpa perbaikan.

Baca Juga:  Dua Mobil Tabrakan di Tol Cikampek KM 6B Mengundang Maut

“Sudah diinfokan ada masalah, namun pekerjaan tetap berjalan tanpa pembenahan, baik pada struktur besi maupun cerucuk. Ini sangat berisiko terhadap kualitas konstruksi,” ungkap Rahmad.

Sehari setelah temuan tersebut, proyek bahkan sudah memasuki tahap pemasangan bekisting untuk pengecoran. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa potensi cacat konstruksi akan tertutup permanen.

Temuan di lapangan menunjukkan penggunaan besi polos yang dipasang berdampingan dengan besi ulir berdiameter 12 milimeter. Selain itu, jarak anyaman besi pada talud tidak seragam, berkisar antara 20 hingga 30 sentimeter, yang berpotensi melemahkan struktur.

Masalah lain ditemukan pada penggunaan cerucuk bambu. Material yang digunakan dinilai tidak memenuhi standar, karena berdiameter kecil, pendek, serta dipasang renggang. Proses pemancangan pun dilakukan secara manual tanpa alat berat, sehingga diragukan mampu mencapai lapisan tanah keras.

Secara teknis, pemasangan cerucuk pada tanah lunak seharusnya menggunakan bambu berdiameter besar, panjang memadai, dan dipasang rapat guna menopang beban konstruksi secara optimal.

Baca Juga:  Poros 98 : Bubarkan Badan Gizi Nasional atau Presiden Prabowo Mundur

Tak hanya itu, papan proyek juga tidak mencantumkan masa pelaksanaan, sehingga memicu pertanyaan terkait transparansi.

“Kalau tidak ada masa pelaksanaan, publik tidak tahu kapan proyek ini dimulai dan selesai,” ujar Andi, salah satu warga setempat.

Sorotan juga datang dari Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Efendi, yang mempertanyakan fungsi pengawasan dari dinas terkait.
“Kalau memang tidak sesuai, seharusnya ada pengawas kegiatan yang bertindak,” katanya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana proyek, PT Locita Maha Dana, maupun BMSDA Kota Bekasi belum memberikan klarifikasi resmi.

BPIKPNPA RI menegaskan akan terus mengawal kasus ini sebagai bentuk komitmen dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara.

“Setiap laporan masyarakat akan kami tindak lanjuti. Kami pastikan kasus-kasus dugaan korupsi seperti ini tidak berhenti di tengah jalan, tetapi sampai pada proses hukum dan putusan tetap,” pungkas Rahmad.**

Berita Terkait

Camat Lahei Tuding Prianto Terima Tali Asih – Prianto: FITNAH! Saya Bawa ke Jalur Hukum Jika Tak Minta Maaf
Bea Cukai Malang Amankan 73.280 Batang Rokok Ilegal dari Jasa Ekspedisi
Kajian Hukum Pelanggaran Prosedur dan Kinerja Kepolisian serta Solusinya:  Pandangan dan Langkah Hukum Sesuai KUHP Baru Oleh Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC., CPL — Ketua LBH No Viral No Justice DKI Jakarta
IWPI Ajukan Uji Materi UU KUP, Minta Batas Jelas Kewenangan Menteri Keuangan dalam Aturan Kuasa Wajib Pajak
“Jangan Ajari Anak Integritas, Kalau LHP Rp631 Juta Masih Tidur di Meja” Arjuna Sitepu Bongkar Dualisme Kepala Inspektorat Rokan Hilir: Di Kelas Bicara Anti-Korupsi, di Kantor Biarkan Kerugian Negara Mengendap Tiga Tahun
Streskrim Polres Batu Periksa Sejumlah Saksi Pelapor Terkait Dugaan Penipuan dan Jual Beli Lapak PKL Alun-Alun 
Dana Rakyat Rp631 Juta Mengalir ke Kantong Tak Bertanggung Jawab, Inspektorat Pilih Bisu
Sidang Jawaban Eksepsi Nana Sutisna (Kades Parakan): Kuasa Hukum Sorot Jawaban JPU, Putusan Sela 17 September 2026

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 15:11 WIB

Camat Lahei Tuding Prianto Terima Tali Asih – Prianto: FITNAH! Saya Bawa ke Jalur Hukum Jika Tak Minta Maaf

Kamis, 17 September 2026 - 10:05 WIB

Bea Cukai Malang Amankan 73.280 Batang Rokok Ilegal dari Jasa Ekspedisi

Kamis, 17 September 2026 - 01:07 WIB

Kajian Hukum Pelanggaran Prosedur dan Kinerja Kepolisian serta Solusinya:  Pandangan dan Langkah Hukum Sesuai KUHP Baru Oleh Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC., CPL — Ketua LBH No Viral No Justice DKI Jakarta

Senin, 14 September 2026 - 19:02 WIB

IWPI Ajukan Uji Materi UU KUP, Minta Batas Jelas Kewenangan Menteri Keuangan dalam Aturan Kuasa Wajib Pajak

Senin, 14 September 2026 - 13:06 WIB

“Jangan Ajari Anak Integritas, Kalau LHP Rp631 Juta Masih Tidur di Meja” Arjuna Sitepu Bongkar Dualisme Kepala Inspektorat Rokan Hilir: Di Kelas Bicara Anti-Korupsi, di Kantor Biarkan Kerugian Negara Mengendap Tiga Tahun

Berita Terbaru