Malang | Teropongrakyat.co – Kesuksesan tidak selalu lahir dari kemewahan. Itulah kisah hidup Suyono kelahiran Tahun 1968 asal Dusun Bandung Desa Donomulyo, perintis Bakso Krimon, yang membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa mampu mengubah kehidupan.
Suyono lahir dari keluarga sederhana. Sejak kecil, ia hidup dalam keterbatasan dan dibesarkan oleh sang ibu. Setelah lulus Sekolah Dasar pada tahun 1982, ia memutuskan merantau ke Jakarta demi mengubah nasib. Dengan bekal tekad yang kuat dan ongkos kereta api sekitar Rp3.800, ia mengikuti ajakan seorang bos asal Trogosari untuk belajar sekaligus berjualan bakso.

Selama enam tahun, dari 1982 hingga 1988, Suyono menimba pengalaman berjualan bakso di Jakarta. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang kelak mengantarkannya menjadi pengusaha bakso mandiri.
Pada 1989, atas ajakan sang kakak yang tinggal di kawasan Sanan, Kota Malang, Suyono memutuskan pindah ke Malang. Setahun kemudian, tepatnya pada 1990, ia menikahi gadis pujaannya, Winarsih, yang kemudian setia mendampingi perjuangannya membangun usaha dan keluarga.
Dari pernikahan itu, Suyono dan Winarsih dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama telah berkeluarga dan memberikan dua cucu bagi mereka, sedangkan anak kedua dan ketiga masih menempuh pendidikan sebagai mahasiswa.
Setelah menikah, Suyono mulai membuka usaha bakso di kawasan Jalan Jombang menuju IKIP Malang. Seiring berkembangnya usaha, pada 1993 ia pindah berjualan ke Karangbesuki. Di sana, sekitar 1995 hingga 1998, usahanya yang saat itu bernama Bakso Barokah semakin dikenal dan memiliki banyak pelanggan.
Keinginan memiliki rumah sendiri mulai tumbuh. Namun harga tanah di sekitar kawasan kampus terlalu mahal. Akhirnya pada 1995 ia membeli sebidang tanah di kawasan Kepuh, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Di atas tanah itulah ia kemudian membangun rumah yang selesai pada 1998.
Tahun 1998 menjadi masa yang sangat berat bagi masyarakat Indonesia karena krisis moneter. Harga daging yang sebelumnya sekitar Rp7.000 per kilogram melonjak hingga lebih dari Rp50.000. Di tengah situasi sulit tersebut, Suyono tidak menyerah. Justru dari peristiwa itu lahirlah ide yang unik. Ia mengganti nama usahanya menjadi Bakso Krimon, singkatan dari “Krisis Moneter”, sebagai pengingat bahwa usaha tersebut mampu bertahan melewati masa-masa sulit.
Nama Bakso Krimon ternyata mudah diingat masyarakat dan semakin dikenal luas. Hingga kini, Suyono masih setia melayani pelanggan di lokasi usahanya yang berada di sebelah utara TK ABA 23 Malang, tepat di tepi sungai, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Selain berjualan di tempat, Bakso Krimon juga tetap hadir dengan cara berkeliling ke kampung-kampung, mempertahankan tradisi yang telah dijalani selama puluhan tahun.
Lebih dari empat dekade berjualan bakso, perjalanan hidup Suyono menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Berbekal kejujuran, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, ia berhasil membangun usaha yang tidak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah kuliner Kota Malang.


























































