JAKARTA – Teropongrakyat.co – 29 September 2026 – Di tengah situasi yang semakin memanas, perekonomian yang tertekan, dan perbedaan yang kerap dipisahkan, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) justru hadir membawa pesan yang berbeda: bukan mengulurkan tangan meminta, melainkan membukakan hati menawarkan diri untuk bangsa.
Dalam audiensi resmi dengan Direktur Urusan Agama Kementerian Agama RI, Luxen James Mayor., S.Sos., M.A.P., di Lantai 1 Gedung Kemenag RI, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2026), rombongan dipimpin Dr. Antonius Nathan, S.H., Th.M. selaku Ketua Panitia Pelaksana.
Turut hadir:
– Luther Kembaren Sembiring — Sekretaris Panitia
– Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC., CPL — Ketua PEWARNA Indonesia DKI Jakarta
– Y. Suwidodo — Sekretaris Daerah PEWARNA Indonesia DKI Jakarta sekaligus Wakil Sekretaris Panitia
– Ps. Herru Widjaja selaku Dewan Penasihat PEWARNA Indinesia DKI Jakarta.
Salam dan kabar disampaikan atas nama Ketua Umum PEWARNA Indonesia, Yusuf Mujiono, yang berhalangan hadir karena kegiatan bersama PGPI di Bogor, Jawa Barat.
Di awal pertemuan, Dr. Antonius Nathan menegaskan sikap yang jarang didengar:
“Orang biasanya datang ke sini meminta sumbangan atau bantuan. Kami tidak. Kami datang untuk memberitahukan apa yang sedang kami kerjakan — agar Bapak mengetahui, mendukung, dan merestui. Bagi kami, jajaran Kementerian Agama adalah orang tua kami, dan kami ingin berbagi kabar tentang anak-anak yang sedang berbakti.”
Salah satu program andalan, Apresiasi PEWARNA Indonesia (API), telah digelar lebih dari 78 kali — termasuk di Gedung Nusantara, kompleks DPR/MPR. Kini, izin penggunaan gedung tersebut kembali diupayakan untuk penyelenggaraan tahun ini.
API tidak menyoroti tokoh yang sudah kerap tampil di layar kaca. Justru sebaliknya — program ini mengangkat mereka yang berjuang dalam kesunyian:
– Guru yang mengabdi di daerah terpencil tanpa sorotan
– Pelaut yang menjaga perairan namun tak pernah dipotret
– Warga perbatasan yang diam-diam menjaga NKRI
– Tokoh sejarah yang makamnya bahkan kurang terawat
“Kami tidak bisa memberi emas atau penghargaan mewah. Tapi kami bisa memberitakan: mereka ada, mereka berbakti, dan mereka layak dihormati. Itulah cara kami berterima kasih,” ujar Dr. Nathan.
Program besar berikutnya: Doa PEWARNA Indonesia Jelajah Budaya Jawa–Bali, digelar secara estafet di tujuh provinsi pada November 2026. Bukan menyatukan cara beribadah, melainkan menyatukan niat:
“Setiap berdoa dengan caranya sendiri, tapi arahnya sama: keselamatan Indonesia. Kalau hanya berdoa saja, kurang seru. Maka kami padukan dengan pagelaran budaya — agar anak muda mencintai tanah air melalui warisan leluhur.”
Filosofinya sederhana namun kokoh: siapa yang mencintai budayanya, tak akan merusak negaranya.
PEWARNA Indonesia menyoroti peran yang tak biasa bagi organisasi pers: menjadi jembatan damai, bukan penambah keributan.
“Di Rajeg, Tangerang, saat ketegangan memuncak, kami tidak menambah api. Kami hadir, berkomunikasi, meredakan, mencari jalan damai. Narasi yang belum terverifikasi justru bisa membakar kembali api yang sebenarnya sudah mereda. Kami memilih verifikasi, keseimbangan, dan kedamaian,”
Mendengar seluruh pemaparan, Direktur Agama Kementerian Agama RI, Luxen James Mayor, menyambut hangat inisiatif PEWARNA Indonesia:
“Saya sangat mengapresiasi langkah yang Bapak/Ibu ambil. Banyak yang datang meminta, tetapi Bapak/Ibu datang menawarkan — menawarkan gagasan, tenaga, dan kepedulian. Itulah semangat kebangsaan yang kita butuhkan saat ini.”
Terkait rencana kegiatan, Direktur Agama memberikan dukungan penuh:
– Mendukung penyelenggaraan Doa Lintas Agama dan Jelajah Budaya di tujuh provinsi
– Menyetujui penerbitan surat rekomendasi ganda — dari jabatannya dan dari Dirjen — agar tersampaikan ke Pembimas Kristen serta Pemerintah Daerah
– Bersedia hadir dan memberikan sambutan pada acara puncak
– Mendorong agar pendekatan damai dan jurnalisme yang menyejukkan terus dikembangkan di tengah masyarakat
“Kerukunan tidak terjaga hanya dengan peraturan, melainkan dengan kehadiran dan dialog seperti yang Bapak/Ibu lakukan. Teruslah menjadi jembatan. Kami dari Kementerian Agama siap mendampingi dan mendukung,” tegas Luxen James Mayor.
PEWARNA Indonesia memohon rekomendasi resmi agar kegiatan ini dapat dikoordinasikan dengan Pembimas Kristen serta Pemerintah Daerah di tujuh provinsi sasaran — Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Surat rekomendasi disusun ganda agar tersampaikan secara merata ke seluruh jajaran.
“Kami tidak ingin berjalan sendiri-sendiri. Kami ingin ini menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan yang diketahui dan didukung bersama.”
Pertemuan juga menyentuh hal yang sering diabaikan: pelestarian situs sejarah. PEWARNA Indonesia telah merawat makam tokoh bersejarah di Jepara yang sebelumnya terabaikan — bukti bahwa menghormati masa lalu adalah fondasi masa depan. Diangkat pula teladan tokoh masa lalu yang mengajak ribuan orang bukan dengan kekerasan, melainkan melalui diskusi, kebersamaan, dan pengajaran.
Semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali: persatuan bukan karena kita sama, tapi karena kita saling menghormati perbedaan.
“Bukan sekadar memberitakan. Kami ingin ikut membuka ruang dialog.”
Dengan dukungan resmi dari Direktur Agama Kementerian Agama RI, langkah PEWARNA Indonesia kini bukan lagi sekadar rencana — melainkan gerakan yang diakui, didukung, dan diharapkan dapat menyatukan lebih banyak hati di seluruh negeri.
Red/JS



























































