JAKARTA – Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 menghadirkan pesan yang lebih luas dari sekadar tren busana. Melalui talkshow bertajuk “The BFF Mom: Bonding Beyond Motherhood”, ajang fesyen nasional ini mengangkat pentingnya peran keluarga dalam membangun kepercayaan diri dan kemandirian anak, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan yang digelar di Creative Stage, Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (1/8), menghadirkan akademisi dan aktivis sosial Dya Loretta, bersama Amirsyah Gani dari Layak School serta Nisa Rahmat dari Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi). Acara kemudian ditutup dengan Fashion Show by Anak Spesial, yang menampilkan anak-anak berkebutuhan khusus di atas panggung Indonesia Fashion Week.
Dalam paparannya, Dya Loretta menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk berkembang dan memperoleh kesempatan tanpa diskriminasi. Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama yang menentukan bagaimana anak mengenali potensi dan membangun rasa percaya diri.
Dya juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia. Ia mengaku dukungan keluarga yang memberinya ruang belajar sesuai minat menjadi faktor penting yang membentuk perjalanan hidupnya hingga kini aktif sebagai akademisi, peneliti, entrepreneur, penulis, dan pegiat pendidikan inklusif.
“Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Yang mereka butuhkan adalah kepercayaan, pendampingan, dan kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya,” ujar Dya.
Ia menambahkan bahwa terapi terbaik bagi anak sering kali dimulai dari rumah melalui kasih sayang, komunikasi yang positif, dan penerimaan dari orang tua. Bagi Dya, anak berkebutuhan khusus tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan lingkungan yang mampu mendukung mereka menunjukkan kemampuan terbaik.
Komitmen tersebut juga diwujudkannya melalui perannya sebagai Pembina Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi). Melalui komunitas tersebut, Dya aktif memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pola asuh inklusif, membangun kepercayaan diri anak, serta pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat.
Selain aktif sebagai dosen dan peneliti di Universitas Mercu Buana, Dya juga mengembangkan sejumlah lembaga pelatihan yang berfokus pada literasi digital, komunikasi, pemasaran, dan pengembangan sumber daya manusia. Ia turut terlibat dalam berbagai organisasi sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Fashion Show by Anak Spesial menjadi simbol bahwa industri fesyen dapat menjadi ruang inklusif bagi semua kalangan. Penampilan para anak berkebutuhan khusus di atas panggung menunjukkan bahwa fesyen bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga sarana berekspresi, membangun keberanian, dan meningkatkan rasa percaya diri.
Melalui rangkaian acara tersebut, Indonesia Fashion Week 2026 ingin memperkuat pesan bahwa inklusivitas harus dimulai dari lingkungan keluarga dan terus diperluas ke sekolah, komunitas, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan dukungan yang tepat, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkarya, dan meraih masa depan yang lebih baik.



























































