JAKARTA – Teropongrakyat.co – 03 Oktober 2026 – Peringatan Hari Guru Nasional pada 25 November mendatang dan Hari Guru Sedunia pada 5 Oktober, menjadi momentum berharga untuk semakin mendukung peran guru sebagai agen peradaban. Teladan guru justru semakin penting dalam era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan menjadi kunci untuk membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Hal itu diangkat dalam Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman”, Jumat (2/10/2026) malam, yang diadakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI bersama Institut Leimena.
“Guru punya peran yang lebih tinggi dari sekedar agent of learning tapi menjadi agent of civilization, menjadi agen dalam membangun peradaban. Substansi pendidikan itu adalah membangun peradaban, membangun karakter, sehingga yang utama manusia memiliki sikap dan kepribadian, serta memiliki komitmen saling memuliakan antara satu dengan lainnya,” kata Abdul Mu’ti.
Mendikdasmen mengatakan guru adalah figur sentral yang menjadi teladan bagi murid-muridnya. Untuk mendukung peran guru, Kemendikasmen sesuai arahan Presiden RI, berkomitmen membangun budaya sekolah aman dan nyaman. Penyebutan istilah “budaya” dipakai secara sengaja, menunjukkan di dalam sekolah terdapat nilai dan perilaku yang mencerminkan sikap toleran, terbuka, dan penerimaan terhadap mereka yang berbeda.
Menurut Mendikdasmen, guru dapat menciptakan lingkungan sekolah sebagai meeting point dan melting point, yaitu tempat murid dari latar belakang berbeda bertemu dan dibentuk secara edukatif dan alamiah untuk bersikap toleran, terbuka, dan siap bekerja sama. Pendidikan perlu melengkapi peserta didik dengan keterampilan sosial agar mampu berinteraksi dengan mereka yang berbeda, seperti gagasan UNESCO, selaku badan PBB untuk pendidikan, tentang “learning to live together”.
Selain itu, sikap terbuka adalah wujud toleransi otentik yang memiliki lima dimensi; meyakini kebenaran agama sendiri, menyadari perbedaan agama di lingkungannya, penerimaan terhadap perbedaan, sikap toleransi, dan kerja sama antaragama berdasarkan kesamaan nilai, ajaran, dan visi untuk kehidupan aman, damai, dan sejahtera.
“Ini sejalan dengan apa yang selama ini dilakukan LKLB (Literasi Keagamaan Lintas Budaya) dan Kementerian,” kata Mendikdasmen.
Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan di tengah kekhawatiran bahwa banyak pekerjaan akan digantikan kecerdasan buatan, peran guru semakin dibutuhkan sebagai teladan dalam hubungan antarmanusia di tengah masyarakat majemuk. UNESCO dalam Digital Learning Week tahun 2025 di Paris, Prancis, menyimpulkan salah satu peran guru yang tidak akan tergantikan oleh AI adalah dalam hal hubungan antarmanusia.
“Dimensi hubungan antar manusia ini menjadi semakin penting di tengah kemajuan AI, karena pengetahuan yang bertambah pesat tidak berarti dengan sendirinya hubungan antarmanusia juga akan bertambah baik dengan pesat,” kata Matius.
Menurutnya, hubungan antarmanusia tidak dapat diserahkan kepada teknologi, melainkan harus dialami dan diwujudkan dalam relasi manusia dengan manusia, bukan manusia dengan mesin. Peran guru semakin penting untuk mengatasi stereotip negatif dan ketakutan terhadap orang yang berbeda latar belakang agama, kepercayaan, dan budaya. “Karena kita memang bukan mendidik robot, tapi manusia,” ujar Matius.
LKLB Percepat BSAN
Matius menambahkan Institut Leimena mendukung BSAN karena konsep itu meletakkan guru dan sekolah dalam ekosistem lebih luas. Disadari, keberhasilan guru dalam mendidik tidak lepas dari dukungan dan kerja sama masyarakat dan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Pendekatan LKLB diupayakan ikut mempercepat tercapainya BSAN, salah satunya telah terealisasi dalam peluncuran BSAN kerja sama Pemerintah Provinsi Maluku dan Institut Leimena pada awal 2026. Dalam lima tahun, Program LKLB sudah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik dari 38 provinsi di Indonesia.
Chief of Education, UNESCO Jakarta, Santosh Khatri, mengatakan alih-alih melemahkan, AI seharusnya memperkuat peran dan kompetensi guru. AI bisa mengurangi beban administratif guru dan mendukung perencanaan pendidikan, sehingga seharusnya guru lebih fokus kepada keahlian manusia.
Khatri mengakui AI telah mengubah hubungan guru, peserta didik, dan pengetahuan itu sendiri. UNESCO menyusun kerangka kompetensi AI bagi guru mencakup lima bidang yaitu pola pikir berpusat pada manusia, penggunaan AI yang beretika, dasar-dasar dan aplikasi AI, pedagogi AI, dan AI untuk pengembangan profesional.
“Kita harus senantiasa mengingat bahwa teknologi tidak dapat mengganti guru. Bahkan ketika seorang murid tidak mengatakan apa pun, guru yang mengamati perilaku muridnya dapat memahami apa yang terjadi di keluarga dan lingkungan tempat anak itu berasal,” ujarnya.
Di sisi lain, Khatri mengingatkan laporan global UNESCO tentang guru, menyatakan dunia kekurangan 44 juta guru sampai 2030 untuk dapat mencapai pendidikan universal. Di kawasan ASEAN saja, dibutuhkan sekitar 4,5 juta guru. “Ini membutuhkan tidak hanya perekrutan guru, tapi juga menciptakan kondisi agar guru termotivasi dan didukung dalam profesinya,” tandasnya.
Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI, Rusprita Putri Utami, mengatakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) adalah keseluruhan nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku untuk menciptakan dan menjaga lingkungan belajar yang kondusif. Pemerintah sudah mengeluarkan regulasi yaitu Permendikdasmen Nomor 6/2026 tentang BSAN dan Kepmendikdasmen Nomor 17/2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan BSAN.
“BSAN fondasi dari pembelajaran itu sendiri karena ketika murid merasa dihargai, memiliki relasi yang baik dengan teman-temannya dan guru, kemudian berani bertanya, berpendapat, bahkan berani untuk melakukan kesalahan. Ini menjadi ruang belajar lebih kuat untuk mendukung prestasi akademiknya,” kata Rusprita.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus pada Ditjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen RI, Arif Jamali Muis, mengatakan BSAN tidak dibentuk oleh aturan atau program, namun melalui pengalaman murid setiap hari dimana sekolah menjadi ruang untuk bertumbuh, berinteraksi, dan membentuk karakter.
“Setiap guru perlu memiliki sentuhan ‘BK’ (bimbingan konseling), ketika berinteraksi dengan murid, mulai dari mengenali potensi, membantu mengelola emosi, menumbuhkan daya lenting, menjaga kebiasaan positif, komunikasi empatik, berkolaborasi, dan menata situasi belajar aman dan nyaman,” kata Arif.
Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal Semarang sekaligus alumni Program LKLB, Yonathan Djalimun, mengatakan pelatihan LKLB lebih dari sekadar teori dan kompetensi, namun menjadi ruang perjumpaan nyata dengan sesama yang berbeda keyakinan. Ia menyadari sebagai institusi pendidikan berbasis agama, maka tantangannya adalah peserta didik cenderung homogen sehingga minimnya ruang interaksi alamiah dengan perbedaan.
“Untuk mengatasi itu kami fokus penerapan pada kegiatan kokurikuler berbasis pengalaman, yaitu dengan berkolaborasi dengan madrasah melakukan kunjungan antarsiswa, dimana guru-guru dari sekolah kami dan madrasah itu adalah alumni LKLB,” kata Yonathan.
Meriam Alug-Macalangcom, mantan konsultan kurikulum di Kementerian Pendidikan Dasar, Tinggi, dan Teknis Wilayah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao, dan Muh. Suaib Tahir, Sekretaris Jenderal, Pengurus Besar Darud Da’wah wal Irsyad, memaparkan pengalaman dalam membangun pendidikan di wilayah bekas konflik dan upaya untuk membentuk guru-guru yang toleran.
Red



























































