Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim: Merawat Sanad Ilmu, Adab, dan Khidmah Nahdliyin

- Jurnalis

Senin, 20 Juli 2026 - 19:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Malang |Teropongrakyat – Madrasah yang besar tidak selalu lahir dari bangunan yang megah. Ada yang tumbuh dari kepatuhan seorang santri kepada gurunya, disiram oleh keikhlasan masyarakat, lalu bertahan karena doa-doa yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah.”

Dawuh yang Mengubah Jalan Hidup

Pagi baru saja menyapa Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Angin pegunungan berembus pelan membawa kesejukan. Di halaman MI KH. Romly Tamim, anak-anak berseragam hijau putih berlarian menuju kelas. Sebagian berhenti sejenak mencium tangan guru sebelum memasuki ruang belajar.

Pemandangan itu tampak biasa.

Namun, di balik rutinitas sederhana tersebut tersimpan sejarah panjang yang dimulai lebih dari enam dekade silam—sejarah tentang kepatuhan seorang santri kepada gurunya, tentang gotong royong masyarakat, dan tentang keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan membangun peradaban.

Untuk menelusuri kisah itu, saya menemui H. Muhammad Samsudduha, S.Sos., sosok yang akrab disapa Abah Duha. Selama tujuh belas tahun, dari 2008 hingga 2025, beliau memimpin MI KH. Romly Tamim. Meski kini estafet kepemimpinan telah berpindah, hampir setiap hari beliau masih datang ke madrasah.

Saya bertanya sambil berseloroh,

“Abah, sudah tidak menjadi kepala madrasah, kok masih sering datang ke sini?”

Beliau tersenyum.

“Lha wong ini rumah saya yang kedua. Kalau tidak ke sini, rasanya seperti santri pulang tanpa sowan.”

Jawaban itu sederhana, tetapi mengandung makna mendalam. Ada orang yang mengabdi karena jabatan, tetapi ada pula yang mengabdi karena cinta.

Ketika saya meminta beliau menceritakan asal-usul madrasah ini, Abah Duha tidak langsung menjelaskan tentang gedung atau jumlah murid.

Beliau justru berkata,

“Kalau ingin memahami sejarah MI KH. Romly Tamim, jangan mulai dari bangunannya. Mulailah dari dawuh seorang kiai.”

Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim: Merawat Sanad Ilmu, Adab, dan Khidmah Nahdliyin - Teropong Rakyat

Kalimat itu membawa kami kembali ke sekitar tahun 1960.

Saat itu, seorang pemuda Desa Belung bernama Ahmad Tarfa’u sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang. Suatu ketika ia sowan kepada Almaghfurlah KH. Romly Tamim. Tujuannya sederhana, meminta restu untuk mengabdikan diri sebagai penghulu di Surabaya.

Namun jawaban sang guru justru mengubah seluruh jalan hidupnya.

“Tidak usah menjadi penghulu. Pulanglah ke Belung. Dirikan madrasah.”

Dawuh itu juga diamini oleh Mbah Sahlan Krian, yang saat itu turut hadir.

Saya bertanya kepada Abah Duha,

“Apakah Ahmad Tarfa’u tidak merasa berat meninggalkan cita-citanya?”

Beliau menggeleng pelan.

“Begitulah adab santri zaman dahulu. Dawuh guru tidak diperdebatkan, tetapi dijalankan. Ahmad Tarfa’u pulang dengan semangat sami’na wa atha’na. Beliau juga mendapat restu dari ayahandanya, KH. Tiyamin Ruslan. Dari sanalah cikal bakal MI KH. Romly Tamim dimulai.”

Baca Juga:  Pemkot Batu Luncurkan Program SEBAYA, Ajak Ayah Aktif Dampingi Anak di Hari Pertama Sekolah

Di sinilah saya menemukan ruh pendidikan Nahdlatul Ulama.

Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama adab. Sebelum seorang santri diminta menjadi pandai, ia terlebih dahulu diajarkan bagaimana menghormati guru, menjaga amanah, dan mengabdikan ilmunya bagi kemaslahatan.

Madrasah yang Lahir di Ruang-Ruang Sederhana

Untuk memastikan kisah tersebut, saya menemui Ust. Abu Bakar Ashidiq, S.Pd.I., guru senior yang mulai mengajar sejak 1985.

Beliau tersenyum ketika mengenang cerita para pendahulu.

“Kalau sekarang murid berebut bangku yang nyaman, dulu mereka berebut tempat di atas tikar.”

Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim: Merawat Sanad Ilmu, Adab, dan Khidmah Nahdliyin - Teropong Rakyat

Kami tertawa bersama.

Di balik candaan itu tersimpan kenyataan bahwa pada masa awal berdiri, MI KH. Romly Tamim belum memiliki gedung.

Pembelajaran berlangsung secara lesehan dan berpindah-pindah.

Tahun pertama di rumah Mbok Tun.

Tahun kedua di rumah KH. Tiyamin Ruslan.

Tahun ketiga di rumah Ibu Salamah, yang bangunannya masih berdiri hingga kini.

“Yang dibangun pertama bukan gedungnya,” kata Ust. Abu Bakar. “Yang dibangun adalah keyakinan masyarakat bahwa pendidikan adalah jalan memuliakan manusia.”

Kalimat itu menggambarkan dengan tepat ruh pendidikan Ma’arif NU: membangun manusia lebih dahulu sebelum membangun bangunan.

Ahmad Tarfa’u pun tidak berjalan sendirian. Ia dibantu oleh Ust. Abdul Jalil dari Nyelok, Jombang, dan Ust. Asy’ari dari Pare, Kediri. Bersama-sama mereka merintis pendidikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tengah keterbatasan.

Gotong Royong Membangun Peradaban

Semakin bertambahnya murid melahirkan kebutuhan akan gedung permanen.

Masyarakat pun bergerak.

Para ulama memimpin doa dan memberi arah perjuangan.

Para aghniya menginfakkan harta.

Para tokoh masyarakat menggerakkan tenaga.

Warga Nahdliyin bergotong royong tanpa pamrih.

Kepanitiaan pembangunan dibentuk dengan melibatkan KH. Abdulrohim, KH. Tamin Ruslan, H. Rusdy, Abdul Wahab, serta masyarakat Belung.

Di atas tanah wakaf dari Hajah Kayah, berdirilah gedung madrasah yang kemudian diresmikan pada 22 Mei 1964, bertepatan dengan 10 Muharram 1385 Hijriah.

Yang diresmikan hari itu memang sebuah bangunan.

Namun yang sebenarnya lahir adalah harapan bagi masa depan pendidikan masyarakat Belung.

Dari Madrasah Menjadi Pusat Kehidupan Masyarakat

Seiring perjalanan waktu, MI KH. Romly Tamim tidak hanya menjadi tempat belajar.

Madrasah ini menjadi ruang tumbuh bagi berbagai aktivitas masyarakat.

Baca Juga:  Polsek Kelapa Gading Gelar Police Goes To School di SMK Jakarta Raya, Tekankan Pencegahan Kekerasan dan Disiplin Pelajar

Di sinilah RAT/K Muslimat NU Belung berkembang.

Di sinilah masyarakat bermusyawarah sebelum Desa Belung memiliki balai desa.

Di sinilah embrio MTs Al-Ittihad Belung dan MA Al-Ittihad Belung pernah berproses.

Madrasah juga menjadi pusat kegiatan KGTK Muslimat NU, KPG Ma’arif NU, hingga pembinaan pendidikan oleh Departemen Agama.

Perannya melampaui fungsi sekolah.

Ia menjadi simpul kehidupan sosial, keagamaan, dan pendidikan masyarakat Nahdliyin.

Estafet Amanah

Sejarah panjang MI KH. Romly Tamim adalah sejarah estafet amanah.

Tongkat kepemimpinan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dimulai oleh Ahmad Tarfa’u (1960–1963), kemudian Martain Karim (1963–1967), Djajadi (1967–1972), Abdullah Faqih (1972–1974), Nur Salim (1974–1975), Muhammad Abd. Aziz (1975–1976), Moh. Nur Salim (1976–1979), Fathurrohman (1979–1980), Muslimin (1980–1982), Moh. Machi M. Nur (1982–2002), Muchajat, A.Ma. (2002–2008), H. Muhammad Samsudduha, S.Sos. (2008–2025), hingga kini dipimpin oleh Muhammad Hamdan Rosyidi, S.Pd.I. sejak 2025.

Pergantian nama-nama itu bukan sekadar pergantian jabatan.

Melainkan kesinambungan amanah yang menjaga ruh perjuangan para pendiri.

Menjaga Ruh, Menatap Masa Depan

Kepada saya, Kepala Madrasah Muhammad Hamdan Rosyidi, S.Pd.I. menegaskan bahwa perjalanan MI KH. Romly Tamim bukan sekadar rentang waktu, melainkan ikhtiar menjaga amanah para pendiri.

Visi madrasah tetap berpijak pada tiga pilar utama: iman, ilmu, dan akhlakul karimah.

“Di tengah perubahan zaman,” ujarnya, “tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi memastikan bahwa ilmu tetap melahirkan manusia yang beriman, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.”

Epilog: Warisan yang Tak Pernah Usang

Sebelum saya berpamitan, saya mengajukan satu pertanyaan terakhir kepada Ust. Abu Bakar Ashidiq.

“Kalau suatu hari nanti gedung ini semakin megah, apa yang tidak boleh berubah?”

Beliau memandang halaman sekolah beberapa saat, lalu menjawab pelan.

“Gedung boleh bertambah tinggi. Teknologi boleh semakin canggih. Tetapi jangan sampai adab murid kepada gurunya semakin rendah.”

Kalimat itu menjadi penutup yang sempurna bagi perjalanan sejarah ini.

Ketika saya meninggalkan MI KH. Romly Tamim, suara anak-anak yang melantunkan doa terdengar dari ruang kelas. Saat itulah saya memahami bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia hidup dalam nilai yang terus diwariskan.

MI KH. Romly Tamim lahir dari sebuah dawuh. Tumbuh oleh gotong royong. Bertahan karena khidmah. Dan hingga hari ini, tetap berdiri sebagai penjaga sanad ilmu, adab, dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di Desa Belung.

Berita Terkait

Koramil Bantur Tanamkan Wawasan Kebangsaan, Edukasi Bahaya Narkoba dan Bullying kepada 300 Pelajar
Koramil Bantur Tanamkan Disiplin dan Cinta Tanah Air kepada 600 Pelajar Lewat LBB, Bahaya Narkoba, dan Wasbang
Wali Kota Batu Hadiri Ujian Terbuka Disertasi Idham Arsyad di Universitas Brawijaya
Pemkot Batu Dukung Kirab Wisuda Poltekad Kenalkan Tradisi Akademik kepada Masyarakat
SDN 2 Donowarih dan SMPN 2 Karangploso Satu Atap Gandeng Pusdik Arhanud TNI AD, Tanamkan Karakter, Disiplin, dan Cinta Tanah Air pada Peserta MPLS
1.275 Mahasiswa FIA UB Jalani KKN Tematik di Kota Batu, Wali Kota Nurochman Dorong Kolaborasi Bangun Daerah
SMAN 2 Kota Malang Dukung Gernas RANA, Perkuat Komitmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman
Kabupaten Malang Jadi Tuan Rumah Pembukaan MPLS Nasional 2026, Mendikdasmen Tegaskan Sekolah Harus Bebas Perundungan

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 19:14 WIB

Menelusuri Jejak MI KH. Romly Tamim: Merawat Sanad Ilmu, Adab, dan Khidmah Nahdliyin

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:06 WIB

Koramil Bantur Tanamkan Wawasan Kebangsaan, Edukasi Bahaya Narkoba dan Bullying kepada 300 Pelajar

Kamis, 16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Koramil Bantur Tanamkan Disiplin dan Cinta Tanah Air kepada 600 Pelajar Lewat LBB, Bahaya Narkoba, dan Wasbang

Selasa, 14 Juli 2026 - 20:22 WIB

Wali Kota Batu Hadiri Ujian Terbuka Disertasi Idham Arsyad di Universitas Brawijaya

Selasa, 14 Juli 2026 - 19:35 WIB

Pemkot Batu Dukung Kirab Wisuda Poltekad Kenalkan Tradisi Akademik kepada Masyarakat

Berita Terbaru