Situs Watu Lumpang hingga Linggayoni Dikenalkan ke Siswa, Museum Keliling Telusuri Jejak DAS Metro

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 20:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Malang | Teropongrakyat.co – Sejarah kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Metro dibawa langsung ke ruang kelas SDN Bakalan Krajan 2, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Melalui program Museum Keliling, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mengenalkan jejak situs dan peninggalan sejarah yang masih berada di sekitar lingkungan tempat tinggal para siswa.

Pengenalan sejarah lokal tersebut menjadi penting karena kawasan Bakalan Krajan dan sekitarnya masih memiliki sejumlah tinggalan masa lampau, di antaranya Watu Lumpang dan Situs Linggayoni.

Penanggung Jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, mengatakan pembelajaran sejarah perlu dikaitkan langsung dengan lingkungan tempat tinggal siswa.

Menurutnya, anak-anak perlu mengetahui bahwa wilayah yang mereka tempati saat ini memiliki jejak kehidupan dan kebudayaan sejak masa lampau.

“Karena di sini ada situs seperti Watu Lumpang, ada Situs Linggayoni juga yang di lingkungan sini masih ada di tempat. Jadi kita kenalkan kepada anak-anak supaya tetap mencintai wilayahnya, terutama di DAS Metro,” ujar Rakai.

Menurut dia, kawasan DAS Metro menyimpan jejak sejarah dari berbagai periode. Tinggalan tersebut menjadi bukti bahwa kawasan Malang telah menjadi ruang kehidupan masyarakat sejak masa lampau.

Baca Juga:  Apel Pagi, Wali Kota Serahkan Beberapa Penghargaan dan Lepas Atlet HAORNAS.

“Adik-adik bisa memahami bahwa wilayahnya itu punya nilai khusus pada masa lampau. Jadi peninggalan itu bisa digunakan sebagai simbol sekaligus nilai lokal setempat,” jelasnya.

Jejak Mataram Kuno hingga Singhasari

Dalam kegiatan Museum Keliling, siswa juga diperkenalkan dengan perkembangan kerajaan yang pernah memiliki keterkaitan dengan sejarah kawasan Malang.

Salah satu kerajaan yang diperkenalkan adalah Kanjuruhan, yang keberadaannya antara lain diketahui melalui Prasasti Dinoyo I.

“Kalau dilihat dari Prasasti Dinoyo I, jelas kerajaannya Kanjuruhan,” katanya.

Namun, Rakai menjelaskan tinggalan sejarah yang secara khusus berada di kawasan Sukun dan Bakalan Krajan memiliki keterkaitan dengan periode yang berbeda.

“Untuk peninggalan-peninggalan yang khusus di wilayah Sukun sama Bakalan Krajan itu masa Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Mataram Kuno yang ada,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya mengenalkan sejarah berdasarkan lokasi dan periode peninggalannya agar pemahaman siswa terhadap perjalanan sejarah Malang tidak tercampur.

Selain mengenalkan situs di sekitar sekolah, Museum Keliling juga memperkenalkan Museum Mpu Purwa kepada para siswa.

Berbagai koleksi seperti arca, prasasti dan benda tinggalan budaya diperkenalkan sebagai sumber untuk memahami perjalanan sejarah Kota Malang.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya diperkenalkan pada benda-benda bersejarah yang tersimpan di museum, tetapi juga diajak memahami hubungan koleksi tersebut dengan situs-situs yang masih berada di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Indonesia di Panggung Dunia: Kemenhub Hadir di Simposium Penerbangan dan Maritim Global Singapura

Sejarah Dibawa Keluar dari Museum

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan program Museum Keliling menjadi salah satu upaya untuk membawa pembelajaran sejarah dan kebudayaan lebih dekat kepada siswa.

Anak-anak, menurutnya, perlu diperkenalkan dengan sejarah kerajaan dan kebudayaan lokal sejak dini, terutama tinggalan sejarah yang berada di sekitar lingkungan mereka sendiri.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya diminta menghafal nama kerajaan, tahun atau benda bersejarah.

Pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa warisan budaya merupakan bagian dari identitas daerah yang perlu dihargai dan dijaga.

“Pesan khususnya untuk adik-adik hari ini supaya bisa menghargai nilai lokal yang ada di wilayahnya,” pungkasnya.

Program Museum Keliling di SDN Bakalan Krajan 2 sekaligus menjadi upaya Disdikbud Kota Malang memperkuat pembelajaran sejarah berbasis lingkungan.

Sebab, bagi siswa di kawasan DAS Metro, sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku pelajaran atau ruang museum. Sejumlah jejaknya masih berada tidak jauh dari lingkungan tempat mereka tumbuh.

Berita Terkait

Bangun Generasi Tangguh, BPBD Kota Malang Gelar Simulasi SPAB di SMKN 7 Malang Bersama Walikota Malang
Beras Premium Langka, TPID Kota Malang Sidak Distributor dan Pasar
Longsor Dominasi Bencana di Kota Batu, 115 Kejadian Catatkan 27 Warga Mengungsi
Posyandu Satu Hati Perkuat Kolaborasi Cegah Stunting dan Wujudkan Generasi Emas Kota Batu
Staf Khusus KSP Kunjungi Kabupaten Malang, Dorong Penguatan Tata Kelola Program MBG
Sibaca Ijasikap Pakisaji Perkuat Sinergi, BPBD Dorong Desa Tangguh Bencana
Kandang Ayam di Ngajum Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp1 Miliar
507 Mahasiswa Baru Ikuti Pembukaan PKKMB UNIRA Malang 2026

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 20:14 WIB

Situs Watu Lumpang hingga Linggayoni Dikenalkan ke Siswa, Museum Keliling Telusuri Jejak DAS Metro

Selasa, 8 September 2026 - 20:09 WIB

Bangun Generasi Tangguh, BPBD Kota Malang Gelar Simulasi SPAB di SMKN 7 Malang Bersama Walikota Malang

Selasa, 8 September 2026 - 18:09 WIB

Beras Premium Langka, TPID Kota Malang Sidak Distributor dan Pasar

Selasa, 8 September 2026 - 17:44 WIB

Longsor Dominasi Bencana di Kota Batu, 115 Kejadian Catatkan 27 Warga Mengungsi

Selasa, 8 September 2026 - 16:31 WIB

Posyandu Satu Hati Perkuat Kolaborasi Cegah Stunting dan Wujudkan Generasi Emas Kota Batu

Berita Terbaru

TNI – Polri

Kemampuan Squad LFX Diperdalam Pada Latgabma SGS 2026

Selasa, 8 Sep 2026 - 18:35 WIB