Kabupaten Bekasi, TeropongRakyat.co – Aktivitas parkir liar dumtruk kembali meresahkan warga di Jalan Marunda Makmur, Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Dalam sebuah video yang beredar, terlihat beberapa dumtruk terparkir di bahu jalan hingga tiga baris, tepat di depan ruas Tol Tarumajaya, sehingga mempersempit badan jalan secara drastis. Sabtu, (17/01/2026).
Menurut keterangan warga, kondisi ini terjadi setiap hari, terutama pada pagi hari saat jam sibuk aktivitas masyarakat. Akibatnya, kemacetan tak terhindarkan dan membahayakan pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua yang terpaksa melintas di celah sempit di antara truk-truk besar tersebut.
Ironisnya, dumtruk-dumtruk itu diketahui berasal dari garasi yang berada tepat di depan lokasi, yang diduga sudah melebihi kapasitas (overload). Bahkan, satu unit dumtruk terlihat parkir hingga memakan badan jalan di depan ruas Tol Tarumajaya, sebuah pelanggaran yang jelas-jelas mengganggu ketertiban lalu lintas dan keselamatan publik.
Warga pun mempertanyakan ke mana peran Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi, Satpol PP, serta aparat kepolisian setempat. Pasalnya, parkir liar berskala besar ini bukan terjadi sehari dua hari, melainkan sudah berlangsung lama seolah dibiarkan tanpa penindakan tegas.
Selain itu, Pemerintah Desa Segara Makmur dan Kecamatan Tarumajaya juga dinilai lalai dalam melakukan pengawasan wilayah. Aktivitas usaha yang menggunakan fasilitas umum sebagai lahan parkir jelas melanggar aturan, namun hingga kini tidak terlihat adanya langkah konkret dari pemerintah setempat.
Situasi ini memunculkan dugaan adanya pembiaran sistematis atau lemahnya pengawasan dari Pemkab Bekasi terhadap aktivitas kendaraan berat di jalur vital tersebut. Warga mendesak Bupati Bekasi dan instansi terkait untuk turun langsung ke lokasi, melakukan penertiban, serta mengevaluasi izin dan operasional garasi dumtruk yang dinilai merugikan masyarakat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka jangan heran bila kemacetan, kecelakaan, dan keresahan warga di Tarumajaya akan terus berulang, sementara pemerintah hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri.


























































