Konflik Memanas, Thailand dan Kamboja di Ambang Perang Terbuka: Ini Sejarah dan Penyebabnya

- Jurnalis

Senin, 28 Juli 2025 - 07:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, teropongrakyat.co – Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali membara, memunculkan kekhawatiran dunia atas potensi pecahnya konflik militer terbuka di Asia Tenggara. Bentrokan bersenjata yang terjadi di perbatasan kedua negara dalam sepekan terakhir telah menimbulkan korban jiwa, termasuk warga sipil, dan menyulut kecaman dari berbagai pihak internasional.

Dilaporkan oleh Al Jazeera, pertempuran sengit mencuat di kawasan perbatasan Provinsi Surin (Thailand) dan Provinsi Oddar Meanchey (Kamboja), tempat yang telah lama menjadi titik konflik perebutan wilayah. Bentrokan bersenjata, pengeboman, dan artileri berat dilaporkan digunakan oleh kedua belah pihak.

Kementerian Kesehatan Thailand melaporkan sedikitnya 13 warga sipil dan 1 tentara tewas, serta 32 warga sipil dan 14 tentara lainnya terluka. Ribuan warga sipil dari dua negara terpaksa dievakuasi. Tempat perlindungan bom darurat dibangun dengan beton, karung pasir, bahkan ban mobil bekas untuk mengantisipasi serangan lanjutan.

Apa Penyebab Thailand dan Kamboja Berseteru?

Konflik Thailand-Kamboja bukanlah konflik baru. Akar permasalahan utamanya terletak pada sengketa wilayah perbatasan, khususnya di sekitar Kuil Preah Vihear, sebuah situs warisan budaya yang terletak di perbatasan antara kedua negara.

Kuil Preah Vihear dan Sengketa Berkepanjangan

Kuil Preah Vihear adalah kuil Hindu bersejarah yang dibangun pada abad ke-11. Pada tahun 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa kuil tersebut berada di wilayah Kamboja. Namun, keputusan ini tidak menyelesaikan semua persoalan, karena wilayah di sekitar kuil, termasuk akses jalan dan area penyangga, tetap dipersengketakan hingga hari ini.

Baca Juga:  Ada Apa di Balik Penembakan Nelayan oleh TNI AL di Tanjung Jabung

Pada 2008, ketika UNESCO menetapkan Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia yang dikelola oleh Kamboja, protes keras datang dari Thailand. Sejak saat itu, ketegangan terus berlangsung dan bentrokan militer sporadis sering terjadi, terutama selama masa kampanye politik di kedua negara.

Tuduhan Kejahatan Perang dan Respons PBB

Menteri Kesehatan Thailand, Thepsuthin Somsak, menuding tindakan militer Kamboja sebagai bentuk kejahatan perang. Ia menyebut serangan artileri berat menyasar pemukiman sipil dan menyebabkan korban jiwa dari kalangan anak-anak dan lansia.

Menanggapi situasi ini, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menuduh Thailand melanggar hukum internasional dan menuntut intervensi segera dari Dewan Keamanan PBB. Dalam pernyataannya, Hun Manet menyebut bahwa “agresi militer Thailand mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan ASEAN.”

Korban dan Dampak Kemanusiaan

Konflik ini telah memaksa lebih dari 35.000 warga Thailand dan Kamboja meninggalkan rumah mereka. Laporan dari Palang Merah Internasional menyebutkan bahwa kebutuhan akan makanan, air bersih, dan obat-obatan mendesak sangat tinggi di kamp-kamp pengungsi yang dibangun secara darurat di dekat garis perbatasan.

Baca Juga:  Breaking News! Amerika Resmi Boombardir Iran! Trump Umumkan Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran: Tiga Lokasi Dihantam, Fordow Alami Kerusakan Terparah

Organisasi Hak Asasi Manusia Internasional (Human Rights Watch) mengecam penggunaan senjata berat di dekat area permukiman dan mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional.

Sejarah Panjang yang Belum Usai

Dosen hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Wibowo Susanto, menjelaskan bahwa konflik ini sangat kompleks dan bersifat historis.

“Konflik Thailand-Kamboja bukan sekadar tentang batas wilayah. Ini menyangkut identitas nasional, klaim sejarah, dan politik dalam negeri masing-masing. Selama tidak ada komitmen politik untuk duduk bersama dengan mediasi yang kuat, maka konflik semacam ini akan terus berulang,” ujarnya

Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang kembali meletus pada Juli 2025 adalah puncak dari ketegangan panjang yang belum menemukan solusi permanen.

Di tengah derita warga sipil dan meningkatnya korban jiwa, dunia internasional dihadapkan pada tantangan diplomatik besar untuk meredakan konflik dan menjaga stabilitas kawasan.

Masyarakat internasional kini menanti langkah nyata dari ASEAN, PBB, dan kedua pemimpin negara untuk menyudahi konflik yang mengancam perdamaian regional ini.


Redaksi: teropongrakyat.co
Editor: Rocky
Sumber: Al Jazeera

Berita Terkait

Isu Invasi AS ke Greenland Dinilai Bisa Guncang Soliditas NATO
10 Fakta Mengejutkan tentang Nuuk, Salah Satunya Ibu Kota Terkecil di Dunia
Rusia Sebut Ancaman AS Caplok Greenland Luar Biasa, Moskow Klaim Terus Pantau Situasi
Pemerintah Hentikan Grok di Indonesia, Konten Deepfake Seksual Jadi Sorotan
Last Call Kapal ‘Tanto Salam’ dan First Call ‘Tanto Saudara’ Jadi Sorotan Perayaan Pergantian Tahun di Pelabuhan Tanjung Priok
Bukti Konsistensi Kinerja: NPCT1 Raih Tonggak 10 Juta TEUs Sejak Beroperasi
Pantai Bondi, Ikon Australia yang Menjadi Pusat Kehidupan dan Magnet Wisata Dunia

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 21:46 WIB

Isu Invasi AS ke Greenland Dinilai Bisa Guncang Soliditas NATO

Senin, 19 Januari 2026 - 07:52 WIB

10 Fakta Mengejutkan tentang Nuuk, Salah Satunya Ibu Kota Terkecil di Dunia

Minggu, 18 Januari 2026 - 12:26 WIB

Rusia Sebut Ancaman AS Caplok Greenland Luar Biasa, Moskow Klaim Terus Pantau Situasi

Senin, 12 Januari 2026 - 22:14 WIB

Pemerintah Hentikan Grok di Indonesia, Konten Deepfake Seksual Jadi Sorotan

Kamis, 1 Januari 2026 - 17:42 WIB

Last Call Kapal ‘Tanto Salam’ dan First Call ‘Tanto Saudara’ Jadi Sorotan Perayaan Pergantian Tahun di Pelabuhan Tanjung Priok

Berita Terbaru