Depok – Teropongrakyat.co – Dinas Pendidikan Kota Depok mengapresiasi dan memfasilitasi kegiatan seni dan budaya anak-anak Kota Depok, dalam rangka pengembangan kreativitas, emosi, kepercayaan diri, dan kemampuan sosial mereka.
Bekerja sama dengan PSBKD (Perkumpulan Seniman Batak Kota Depok), Dinas Pendidikan Kota Depok mendukung kegiatan Paduan Suara Anak Depok yang diasuh oleh PSBKD.
PSBKD adalah salah satu komunitas budaya yang memperkaya keragaman Kota Depok. Keberadaannya menunjukkan bahwa Depok adalah tempat di mana berbagai kelompok etnis, termasuk Batak, dapat hidup, berkarya, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan budaya kota.
Sementara itu Junaidi, Pelatih dan Dirigen Paduan Suara Anak Depok, mengatakan Paduan Suara Anak Depok ini belum lama terbentuk, masih sangat baru, dan anak-anak ini berasa dari berbagai gereja dan agama lain.
“Ini anak-anak yang dibentuk oleh Perkumpulan Seniman Batak Kota Depok (PSBKD), sebagai wadah anak-anak bersama dan mengarah, menciptakan toleransi sejak dini. Inilah sesungguhnya tolerasi bersama,” ujarnya saat tampil bernyanyi di Perayaan Natal bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Setempat (PGIS) Kota Depok pada Sabtu sore (17/1/26) di di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Kamboja.
“Kita bersyukur ini sudah dibentuk dengan baik, dari anak-anak yang juga banyak ikut lomba Idol ataupun vokal solo kemarin (3-4 September 2025-red). Alumni dari situ dipersatukan, apapun suku, agamanya menjadi sebuah paduan suara.
“Dan kita berharap pak Frans Samosir (anggota DPRD Kota Depok), pak Samuel Samuel Bonardo Situmorang (anggota DPRD Kota Depok) sebagai Pembina Paduan Suara Anak Depok, dan juga pak Binton Nadapdap (anggota DPRD Depok), anak-anak ini boleh dilibatkan dalam setiap kegiatan Kota. Latihannya di Dinas Pendidikan, kita dapat fasilitas sebagai home base. Pelatih pak Junaidi, ibu Adel, pak Belfrid, pak Simson, dan pak Tunggul.
Camat Sukmajaya Christine Tobing mengaku terharu dan bangga dengan penampilan Paduan Suara Anak Depok (40 anak) yang sangat indah (Lagu Manuk Dadali), mengundang tepuk tangan riuh dari lebih dari 2100 jemaat yang hadir.
Christine mengapresiasi PGIS Kota Depok yang melibatkan Paduan Suara Anak Depok (PSAD), yang terdiri dari anak-anak SD dan SMP, termasuk yang beragama Islam. Menurutnya, kehadiran mereka menunjukkan semangat toleransi yang nyata.
“Anak-anak Muslim bisa masuk ke gereja dan bernyanyi bersama dengan membawakan lagu nasional. Ini contoh sikap toleransi yang baik dan perlu terus diperbanyak, tanpa mengurangi keimanan masing-masing,” ungkapnya saat diwawancara media.
Christine menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar jargon, melainkan harus diwujudkan melalui kebijakan dan sikap nyata.
Ia mencontohkan langkah Wali Kota Depok, Supian Suri, yang memberikan amanah kepadanya sebagai camat meski berlatar belakang perempuan, beragama Kristen, dan berasal dari suku Batak.
“Jika semua elemen memahami bahwa jabatan camat dijalankan berdasarkan tugas pokok dan fungsi, serta kompetensi, maka tidak ada alasan untuk mempertentangkan latar belakang agama atau suku,” ujar Christine.
Ia menekankan bahwa toleransi bukan berarti mayoritas harus selalu mengalah atau minoritas harus selalu dimenangkan.
Menurutnya, toleransi adalah soal saling menghormati dalam koridor aturan yang berlaku.
“Toleransi itu bukan mayoritas mengalah dan minoritas dimenangkan. Bukan begitu. Semua harus berjalan sesuai aturan,” tegasnya.
Christine juga menyinggung pendirian rumah ibadah agar tetap mengikuti ketentuan dan peraturan perundang-undangan. Ia menilai, pemahaman yang benar terhadap regulasi akan mencegah kesalahpahaman antarumat beragama.
“Kalau semua sesuai aturan, tidak ada minoritas yang ditekan dan tidak ada mayoritas yang semena-mena. Semua akan hidup damai,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak umat beragama untuk aktif berkomunikasi dan berbaur dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia menyoroti minimnya keterlibatan warga non Muslim dalam sejumlah kegiatan sosial, seperti PKK.
“Umat Nasrani jangan hanya mengurung diri. Mari berbaur dalam kegiatan sosial kemasyarakatan agar kasih dan persaudaraan bisa tumbuh dengan sendirinya, sekaligus memudahkan akses informasi terkait program-program pemerintah,” jelasnya.
Ia pun mengajak para pejabat publik agar tidak bersikap “alergi” terhadap rumah ibadah agama lain. Menurutnya, saling menghargai justru akan memperkuat persatuan dan kedamaian di tengah masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Umum PGIS Depok, Mangaranap Sinaga, menegaskan bahwa toleransi seharusnya dimulai dari keteladanan para pemimpin daerah. Ia menyoroti masih adanya persoalan kebebasan beribadah, termasuk sulitnya pendirian rumah ibadah di sejumlah wilayah Kota Depok.
Menurutnya, hal tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah demi terwujudnya toleransi yang sejati.
Beberapa tokoh lintas agama dan anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Depok turut hadir Perayaan Natal bersama PGIS Kota Depok.
Tokoh lintas agama yang hadir adalah KH Badrudin, KH Ahmad Kholadi (anggota FKUB), Darius Lekalawo (Ketua Ikatan Sarjana Katolik Kota Depok), dan Habib Reza Achmad.
Mewakili para para Guru Agama, Ustad, Habib, KH Kholadi sangat mengapresiasi undangan oleh Ketua PGIS Kota Depok, Pdt. Romy S. Palit, dan Sekretaris Umum PGIS Mangaranap Sinaga.
“Semoga ini terus menjadi jalinan hubungan antara kita bersama para tokoh-tokoh agama di Kota Depok. Ini cerminan bahwa Kota Depok adalah kota yang toleran. Itu harapan kita bersama.
“Ada pesan dari FKUB bahwa ada beberapa hal yang kita tinggalkan di tahun 2025 di mana ada beberapa gereja yang mengalami hambatan untuk mendirikan bangunan rumah ibadah yang sampai ini belum selesai.
Reporter: Maria L.M.


























































