BANTEN – Teropongrakyat.co – 02 November 2026 – Di tengah semangat Indonesia Maju, Sekber Wartawan Indonesia (SWI) tak hanya bergerak di ruang redaksi dan konferensi pers. Organisasi ini pun turut menyambungkan dunia jurnalistik dengan pusat‑pusat pembentukan karakter dan ekonomi umat, salah satunya Pondok Pesantren Al‑Atqiya.
Ketua Umum SWI, H. Iskandar, S.Sos melakukan kunjungan ke Ponpes Al‑Atqiya untuk membicarakan kemungkinan kolaborasi dalam penguatan ekonomi santri dan masyarakat pesantren. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Pimpinan Ponpes Al‑Atqiya KH Ochev Assonhaji, BA serta Akang Ocep Kadomas. Turut hadir Wakil Sekretaris Jenderal SWI, Sugianto.
Bagi H. Iskandar, S.Sos pesantren bukan semata tempat belajar agama. Pesantren adalah lahan subur yang mampu melahirkan generasi yang berakhlak sekaligus berdaya saing ekonomi.
“Kami melihat santri bukan hanya penerima ajaran, tetapi juga pelaku ekonomi masa depan. Kalau pesantren makmur, umat makmur; kalau umat makmur, Indonesia Maju bukan sekadar slogan,” ujar H. Iskandar.
Ia menegaskan bahwa peran SWI di sini bukan mengelola usaha pesantren, melainkan menjadi jembatan komunikasi, advokasi, dan promosi agar potensi pesantren lebih dikenal oleh pasar, pemerintah, lembaga pembiayaan, serta masyarakat luas.
“Kami wartawan punya tugas menceritakan kisah keberhasilan pesantren. Kami juga menyuarakan tantangan yang mereka hadapi: akses modal, pemasaran, pelatihan manajemen, hingga penguatan branding produk pesantren,” lanjutnya.
KH Ochev Assonhaji, BA menyambut baik langkah ini. Menurutnya, pesantren telah lama mengembangkan tradisi mandiri melalui pertanian, kerajinan, warung, pengolahan hasil bumi, serta pendidikan kewirausahaan. Namun banyak yang belum terangkat secara luas karena kurang terhubung dengan media dan ekosistem ekonomi nasional.
“Kami ingin santri tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga pandai mengelola amanah. Mandiri itu bagian dari akhlak,” tutur KH Ochev.
Akang Ocep Kadomas menambahkan bahwa kolaborasi ini diharapkan menjadi gerbang bagi santri untuk belajar berkomunikasi, memasarkan produk, serta memahami dinamika ekonomi modern tanpa meninggalkan nilai‑nilai pesantren.
Sugianto, Wakil Sekjen SWI, menyatakan bahwa kunjungan ini menjadi awal dialog. SWI berencana melibatkan jaringan wartawan untuk mengangkat kisah pesantren mandiri, menyelenggarakan pelatihan komunikasi bagi pengelola pesantren, serta mendukung penyusunan narasi yang jujur dan beretika.
“Kami tidak ingin sekadar foto bersama. Kami ingin ada jejak nyata: pesantren dikenal lebih luas, santri makin berdaya, dan jurnalistik makin dekat dengan akar umat,” ujar Sugianto.
Indonesia Maju tak lahir hanya dari pusat‑pusat kota besar. Ia tumbuh juga dari halaman pesantren, dari tangan santri yang tekun, dari kolaborasi umat yang saling menguatkan.
Ketum SWI menegaskan bahwa SWI akan terus menjadi mitra pesantren dalam membangun narasi kemandirian bangsa — narasi yang berbasis akhlak, kerja keras, dan tanggung jawab.
Red/JS












