Lima Hari Kerja Seharusnya Tuntas Malah Mandek Berbulan-bulan Prosedur BPN Dilanggar, Ahli Waris Tateli Terpaksa Tempuh Jauh ke Jakarta

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 21:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Teropongrakyat.co – Rabu, 02 September 2026 – Sebuah pelanggaran terhadap standar pelayanan pertanahan diduga terjadi di Kantor BPN Minahasa. Proses balik nama waris yang menurut peraturan Menteri ATR/BPN seharusnya selesai dalam 5 hari kerja sejak berkas dinyatakan lengkap, justru terkatung-katung berbulan-bulan tanpa kepastian. Juliana Rampengan, ahli waris tunggal pemegang Sertifikat Hak Milik (SHM) sah atas nama almarhum Nicolaas Rori di Tateli, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, sejak 17 Juli 2026 mengajukan permohonan peralihan hak karena waris. Namun hingga kini berkas tak kunjung diselesaikan. Merasa tidak ada jalan keluar di daerah, Juliana bersama kuasa hukumnya, John Franken Kolang, S.H., akhirnya membawa aduan ini langsung ke Kementerian ATR/BPN RI dan DPR RI di Jakarta.

Kepala Kantor Pertanahan Minahasa melalui surat nomor HP.03.03/733-71.02/VIII/2026 tanggal 28 Agustus 2026 menyebutkan proses tidak dapat dilanjutkan karena adanya pencegahan dari Henny Johana Kambey yang melampirkan Surat Pemberian/Hibah tanggal 23 Oktober 2021. Padahal Juliana Rampengan menyatakan surat hibah tersebut telah dibatalkan olehnya. Berulang kali pemblokiran dan pencabutan terjadi sejak tahun lalu, membuat berkas ahli waris terus tertahan tanpa keputusan pasti.

Baca Juga:  SK Kepemimpinan Ranting Kayu Manis BPPKB Banten Resmi Diserahkan

“Peraturan jelas mengatakan 5 hari kerja. Sudah lebih dari 47 hari, berkas masih digantung. BPN bukan pengadilan — tidak boleh menahan hak warga hanya karena ada surat hibah yang belum teruji di pengadilan. Jika ada yang keberatan, ajukan gugatan, jangan hambat pelayanan publik yang sudah seharusnya diterima pemohon,” tegas John Franken Kolang, S.H., kuasa hukum Juliana Rampengan.

Lima Hari Kerja Seharusnya Tuntas Malah Mandek Berbulan-bulan Prosedur BPN Dilanggar, Ahli Waris Tateli Terpaksa Tempuh Jauh ke Jakarta - Teropong Rakyat

Juliana Rampengan mengungkapkan kekecewaannya: “Saya tidak meminta yang tidak sah. Saya hanya meminta hak saya sebagai ahli waris diproses sesuai aturan yang berlaku. Sertifikat ada, sah, atas nama suami saya. Mengapa harus menunggu berbulan-bulan hanya karena ada surat yang sudah saya nyatakan batal? Saya datang ke Jakarta karena di daerah seakan tidak ada yang mau mendengar.”

Sumber di lingkungan Kementerian ATR/BPN RI yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan: “Kami mencatat laporan ini. Prinsipnya, BPN tidak boleh menahan berkas hanya karena ada klaim sepihak tanpa putusan pengadilan. Jika ada sengketa, pihak yang berkeberatan diarahkan ke pengadilan. Kantor pertanahan wajib memproses sesuai dokumen sah yang ada. Kami akan meneliti kasus ini lebih lanjut.”

Baca Juga:  Bawaslu Perketat Pengawasan Pilkada 2024, Fokus Pada Titik Rawan

Kantor Pertanahan Minahasa memang telah mengundang kedua belah pihak untuk mediasi pada 14 Agustus 2026, namun hingga kini belum ada kesepakatan. Posisi ini justru menempatkan ahli waris yang memegang SHM sah dalam posisi tertahanberkas tidak ditolak, tapi juga tidak diproses. Padahal berdasarkan Peraturan Menteri ATR/BPN, proses balik nama karena waris seharusnya diselesaikan dalam waktu 5 hari kerja sejak berkas dinyatakan lengkap.

Kini, dengan dilaporkannya kasus ini ke tingkat pusat, diharapkan ada arahan tegas: BPN wajib memproses sesuai bukti sah yang dimiliki pemohon, sementara pihak yang merasa dirugikan menempuh jalur pengadilan. Kepastian hukum atas tanah rakyat tidak boleh digantungkan pada klaim yang belum teruji di pengadilan, dan apalagi melanggar batas waktu pelayanan yang sudah ditetapkan undang-undang.

Sampai berita ini diturunkan awak media masih berupaya memberikan kesempatan hak jawab kepada pihak yang bertikai.

(Red/JS)

Berita Terkait

LPKP Dan Warga Adat Lapor Dugaan Kejahatan Beruntun PT NPR dan Kapolres Barito Utara ke DPR dan Komnas Ham
Sengketa Lahan Berdarah: Pembayaran Lahan Disimpangkan, Rumah Dibakar, dan Nyawa Melayang di Kalteng
Menuju Kursi Ketua PWI Sumut, Austin Tumengkol Temui PWI Pusat
PWI Depok Gaungkan Pelestarian Angklung Lewat Harmoni Angklung
Tubagus Rahmad Sukendar, Tokoh Banten yang Konsisten Mengawal Pemberantasan Korupsi dan Pengawasan Anggaran Negara
Dakwaan CSR Rp1,37 Miliar Diklaim Cacat Hukum, 10 Alasan Eksepsi Nana Sutisna: Penuntut Umum Langgar Aturan Baru KUHAP
Ratusan Warga Antar Walis Erlangga Firera Daftar Bakal Calon Kepala Desa Randudongkal
Dugaan Peredaran Obat Keras di Tanah Abang Kembali Mencuat, Sosok “Dedy” Disorot

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 19:16 WIB

LPKP Dan Warga Adat Lapor Dugaan Kejahatan Beruntun PT NPR dan Kapolres Barito Utara ke DPR dan Komnas Ham

Jumat, 4 September 2026 - 19:14 WIB

Sengketa Lahan Berdarah: Pembayaran Lahan Disimpangkan, Rumah Dibakar, dan Nyawa Melayang di Kalteng

Jumat, 4 September 2026 - 12:04 WIB

Menuju Kursi Ketua PWI Sumut, Austin Tumengkol Temui PWI Pusat

Jumat, 4 September 2026 - 12:00 WIB

PWI Depok Gaungkan Pelestarian Angklung Lewat Harmoni Angklung

Jumat, 4 September 2026 - 08:46 WIB

Tubagus Rahmad Sukendar, Tokoh Banten yang Konsisten Mengawal Pemberantasan Korupsi dan Pengawasan Anggaran Negara

Berita Terbaru

TNI – Polri

Misi Close Air Support AH-64 Apache Warnai SGS 2026

Jumat, 4 Sep 2026 - 23:30 WIB

TNI – Polri

Pasukan Airborne SGS 2026 Laksanakan Operasi Lanjutan Dalam Materi

Jumat, 4 Sep 2026 - 20:24 WIB