Foto :Sultan Ma’aruf Amin Ahliwaris Kesultanan Jailolo sedang memasang Cincin dan Dr. Rahman Sabon Nama Ketua Umum PDKN sedang mengalungkan Selendang tenun khas Kepulauan Solor Watan Lema/ Kerajaan Adonara/Sunda Kecil.
Tangsel, Teropongrakyat. Co— Di tengah suasana menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Minggu 16 Agustus 2026, Sultan Kesultanan Jailolo Maluku Utara mengunjungi Ketua Umum Partai Daulat Kerajaan Nusantara (PDKN) Rahman Sabon Nama di kediamannya, Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
Pertemuan yang awalnya membahas Aset Kolateral Dinasti Nusantara milik Kesultanan Jailolo itu mendadak diselimuti duka. Kabar gempa dahsyat di Flores datang dengan korban 53 jiwa meninggal dunia serta kerusakan harta benda warga.
Atas nama Raja, Sultan, dan Pemangku Adat Nusantara Indonesia, keduanya menyampaikan belasungkawa mendalam dan keprihatinan atas musibah yang menimpa masyarakat Flores.
*Soroti Kedaulatan SDA dan Nasib Rakyat*
Dalam diskusi tersebut keduanya menyoroti penyelenggaraan negara yang dinilai semakin jauh dari semangat UUD 1945 dan Pancasila 18 Agustus 1945.
Kedaulatan Sumber Daya Alam dinilai terabaikan. Kekayaan alam yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat justru dikuasai segelintir elit dan korporasi asing. Akibatnya rakyat terbebani pajak berlapis dan ketergantungan utang luar negeri semakin tinggi.
*PDKN Tolak Geothermal Mataloko, Ngada*
Sebagai tokoh nasional asal NTT, Rahman Sabon Nama secara tegas mendesak Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi dan membatalkan penetapan Wilayah Kerja Panas Bumi Mataloko oleh Menteri ESDM di Kabupaten Ngada.
Alasan penolakan PDKN:
1. *Lahan terbatas*: Flores memiliki lahan pertanian dan pemukiman yang sempit
2. *Risiko lingkungan*: Aktivitas geothermal rawan mencemari mata air
3. *Tanah adat*: Terancam diambil alih perusahaan dan mengabaikan hak masyarakat adat
4. *Tidak sesuai konteks*: Bertentangan dengan kondisi geografis, sosial budaya, dan ekologis Pulau Flores
5. *Nilai sejarah*: Di Mataloko telah berdiri Seminari sejak lama
Rahman juga menghimbau Pimpinan Konferensi Waligereja Indonesia untuk segera bersurat kepada Presiden. Ini untuk mendukung sikap penolakan yang telah disampaikan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.
*Erathkan Persaudaraan Nusantara*
Sebagai simbol persaudaraan, Rahman mengalungkan tenun khas Kepulauan Solor Watan Lema / Kerajaan Adonara kepada YM Sultan Maruf Amin, ahli waris Kesultanan Jailolo, putra Veteran Pejuang Raja Kerajaan Jailolo YM Karim Bin Batal Malamo.
YM Sultan Maruf Amin kemudian memberikan cincin batu permata khas Halmahera sebagai balasan. Pertukaran ini menjadi tanda eratnya hubungan antara Kesultanan Jailolo dengan keturunan Raja-Raja Kerajaan Adonara / Sunda Kecil.
Keduanya sepakat untuk terus memperkuat tali persaudaraan antar Kerajaan Nusantara dengan menjunjung adat, budaya, hukum, dan budi pekerti sebagai teladan masyarakat.**

























































