Se-Abad Chairil Anwar

- Jurnalis

Senin, 31 Maret 2025 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Edukasi, – Teropongrakyat.co || Kita perlu rayakan 100 tahun Chairil Anwar. Penyair Indonesia yang luar biasa ini lahir pada 1922, tahun yang juga disebut sebagai awal “modernisme”, perubahan besar dalam sastra di dunia — perubahan yang dua dasawarsa kemudian membentuk watak karya sastrawan kelahiran Medan ini.

Kata “modernisme” — yang dipakai para kritikus dan sejarawan seni di Eropa, dipungut penelaah lain di mana-mana — memang bisa membingungkan. Makna kata itu berkaitan, tapi juga bertentangan, dengan apa yang disebut “modernitas”.

Dunia yang dirasuki modernitas adalah dunia di mana zaman bergerak dan perubahan meningkat cepat. Marx mengumpamakannya dengan dramatis: inilah zaman ketika apa saja yang mantap, mapan, dan mandeg jadi cair, meleleh, dan menguap lenyap ke udara, “Alles Ständische und Stehende verdampft”. Tradisi, keyakinan agama, lembaga keluarga dan tatanan sosial, retak dan guncang”.

Di Indonesia, kita ingat, sejak beberapa dasawarsa sebelum Chairil, sebuah masa datang ketika adat dan tradisi mulai dirasakan mengekang — keadaan yang diungkapkan dengan nada protes dalam surat-surat Kartini dan novel Siti Nurbaya.

Pada saat yang sama, modernitas tak sepenuhnya identik dengan jalan terbuka. Seorang penulis sejarah pemikiran pernah menulis: “Menjadi modern adalah menjalani hidup yang penuh paradoks dan kontradiksi”.

Di satu pihak, manusia lepas dari ikatan primordial. Ia jadi penjelajah. Tapi di lain pihak, hidupnya dibentuk kesadaran tentang waktu yang terbatas dan reguler. Pagi bukan lagi fajar menyingsing, melainkan “pukul 5”. Perjalanan bukan lagi “lama”, melainkan, “sepuluh jam”. Masa depan bisa diukur dan dirancang. Kota, negara, dan perusahaan-perusahaan dibentuk; penduduk dikelola dengan administrasi dan birokrasi. Semua harus efisien.

Mungkin sebagai reaksi terhadap formula yang kaku itu, semangat “modernisme” menggeliat, lepas dari tuntutan “modernitas”. Terutama di dunia kreatif.

Baca Juga:  Lomba Penataan Lingkungan: Dari Rawa Badak Selatan Untuk Indonesia Yang Lebih Hijau 

Dalam dunia sastra dan seni, arus “modernisme” melahirkan karya yang bisa muncul dan berakhir secara tak terduga-duga. Ketika Picasso melukis wajah perempuan menangis, yang ia tampilkan raut muka yang bak kulit pohon yang kasar berlipat-lipat. Di tahun 1922, sajak T.S. Eliot, The Waste Land, dimulai dengan frase yang aneh: April is the cruellest month….sebuah kesimpulan yang berlawanan dengan konsensus orang Eropa berabad-abad, bahwa April tak kejam; ia awal musim bunga yang manis setelah dingin mencengkam bumi.

Pada 1922 pula, novel James Joyce,

« Ulysess », menghadirkan peristiwa banal sehari-hari seperti peristiwa yang luar biasa; realitas (juga yang paling tak istimewa, juga yang jorok) dihayati secara intens, kocak, dan membuat kita betah. Dalam « Ulysses » tak nampak tatanan dengan garis lurus: Injil diacu bersama mithos, percakapan yang sadar diterobos dengan yang tak sadar, prosa yang datar diselingi partitur musik. Ruang tak berdinding. Waktu tak dikungkung kalkulasi.

Dengan demikian itulah modernisme melawan modernitas.

Chairil berada dalam semangat “modernis” itu. Terkenal ia memakai kiasan “binatang jalang” untuk pilihan nasib: ia makhluk yang tak dikerangkeng, Terkenal juga ia ingin terbang dalam “non-stop flight”, tanpa mendarat. Dalam sajak « Di Masjid, » Tuhan berhadapan dengan “diri yang tak bisa diperkuda”. Dalam sajak « 1943 », semua urutan logis patah, yang stabil rubuh, tak ada makna, sumber, dan hegemoni yang hanya satu dan asli.

Maka Chairil sering dilihat sebagai “asing.” Tapi ia tak peduli. Seperti T.S. Eliot yang menyelipkan tiba-tiba frase Upanishad dalam « the Waste Land » — sebuah sajak berbahasa Inggris yang menghadirkan suasana London — Chairil juga menggunakan perumpamaan “Ahasveros”, dari dongeng keagamaan Kristen; “Thermopylae” dari sejarah heroisme Yunani Kuno; “Huesca” dari Perang Saudara Spanyol. Tanpa penjelasan. Pembaca diasumsikan seperti diri penyair: “ahli waris kebudayaan dunia”.

Baca Juga:  Rumah Di Papanggo Jakarta Utara Dilalap Api, Tidak Ada Korban Jiwa

Beberapa tahun setelah Chairil wafat, Ajip Rosidi mengecamnya. Dalam sebuah tulisan tahun 1960, sastrawan asal Jatiwangi ini mengritik generasi Pujangga Baru dan generasi Chairil. “Meskipun mereka masih makan nasi dan ikan asin,” tulis Ajip, “secara rohaniah tanah air mereka adalah Belanda dan Eropah.”

Dengan kata lain: Chairil tak bertanah air di sini —dan karyanya cacat. Ajip mengecamnya sebagai “tenggelam” dalam kebudayaan ‘internasional’ yang tanpa akar…

Yang dilupakan Ajip: akar kebudayaan bercabang dan luwes. Kebudayaan selalu mengisap bermacam sumber: wayang dan kroncong pada dasarnya blasteran, dan kita, juga Ajip, tak berkeberatan.

Sementara itu, di akhir abad ke-19, di awal ke-20, sebelum Chairil, sudah hidup seniman yang “tenggelam dalam kebudayaan internasional”. Mereka penggerak teater berbahasa Melayu yang berproduksi di alun-alun kota di Jawa bagi khalayak ramai,

Seperti dikisahkan dengan menarik dan mendalam oleh Matthew Isac Cohen dalam « Komedie Stamboel

« (2006), mereka, para aktor, sutradara, dan penulis lakon Komedie Stamboel, yang dipimpin seorang Indo, mementaskan cerita seru dari Timur dan Barat (termasuk « Hamlet ») untuk penggemarnya. Di sana, teater blasteran ini melintasi batas etnis dan kedaerahan. Ia membentuk sebuah komunitas, sebuah “nasion”, yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.  Pendek kata, sebuah energi kreatif yang bergairah menjumpai dunia yang asing. Jika kita memperingati Se-abad lebihChairil Anwar, bagi saya itu buat mengingat energi kreatif orang Indonesia yang berani untuk “tak murni asli”.

Penulis : Ruhan

Editor : Romli S.IP

Sumber Berita: https://teropongrakyat.co/GM

Berita Terkait

Anak Tiri Diduga Habisi Nyawa Ibu di Binong, Pelaku Positif Narkoba
Brimob Polda Metro Jaya Gagalkan Rencana Tawuran di Jakarta Timur, Senjata Rakitan Diamankan
Polda Metro Jaya Membongkar Clandestine Lab Narkotika Jenis Tembakau Sintetis
Dorong Kesejahteraan Petani, HMTN-MP Perkenalkan Program Terintegrasi di Subang
PkM Dosen Universitas Pamulang Dorong Desa Sukaraja Menuju Desa Mandiri Berbasis Digital
Kebakaran Rumah di Randudongkal Pemalang, Diduga Akibat Korsleting Listrik
57 Detik yang Mengubah Segalanya, Mengenang Tragedi Gempa Yogyakarta 2006
POLSEK Bogor Timur Diduga Langgar Peraturan KAPOLRI: BERIKAN RUANG MEDIASI UNTUK DEPT COLLECTOR

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 09:18 WIB

Anak Tiri Diduga Habisi Nyawa Ibu di Binong, Pelaku Positif Narkoba

Minggu, 19 April 2026 - 17:35 WIB

Brimob Polda Metro Jaya Gagalkan Rencana Tawuran di Jakarta Timur, Senjata Rakitan Diamankan

Minggu, 19 April 2026 - 13:18 WIB

Polda Metro Jaya Membongkar Clandestine Lab Narkotika Jenis Tembakau Sintetis

Minggu, 19 April 2026 - 08:57 WIB

Dorong Kesejahteraan Petani, HMTN-MP Perkenalkan Program Terintegrasi di Subang

Sabtu, 18 April 2026 - 02:25 WIB

PkM Dosen Universitas Pamulang Dorong Desa Sukaraja Menuju Desa Mandiri Berbasis Digital

Berita Terbaru

Breaking News

Anak Tiri Diduga Habisi Nyawa Ibu di Binong, Pelaku Positif Narkoba

Senin, 20 Apr 2026 - 09:18 WIB