Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
Teropong Rakyat Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Tropong PLUS Masuk
T+
Terkini
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Teropong Rakyat. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTPanggung Para WakilKomentar: 0
Kebebasan bungkam

Panggung Para Wakil

Teropong Rakyat, 29 Agustus 2025, 22:20 WIB · 2 menit bacaBaca di App
Huruf
Foto: Dokumentasi

Oleh : Rocky Abdul Karim

Dunia ini seperti panggung. Di atasnya, para pejabat menari-nari dengan penuh semangat, seolah pertunjukan itu hanya milik mereka. Musik dimainkan, sorak sorai disetel, namun penonton di kursi kayu belakang hanya bisa mengelus dada.

Negara sedang tidak baik-baik saja. Jalan-jalan dipenuhi lubang, perut rakyat makin keroncongan, suara tangis anak-anak bersahut-sahutan dengan berita harga bahan pokok yang melambung. Namun, di panggung itu, mereka tertawa. Mereka berpesta dengan santapan hasil keringat rakyat, dengan anggaran yang dikemas rapi dalam kotak-kotak janji.

Baca Juga:  Milad KE-1 Paguyuban RW 06 Kebon Bawang: Merajut Kebersamaan, Menguatkan Persaudaraan

“Lihatlah, betapa meriahnya pertunjukan kami,” kata seorang pejabat di atas panggung sambil menebar senyum, seakan lupa bahwa rakyat memilih mereka bukan melalui lotre, melainkan lewat kepercayaan.

Namun apa arti kepercayaan, bila ia dijadikan mainan?

Apa arti suara rakyat, bila hanya menjadi tepuk tangan yang direkam untuk legitimasi panggung?

Di sudut panggung, seorang anak kecil berdiri. Matanya kosong, bajunya kumal. Ia menatap para penari itu, bertanya dalam hati:

Kapan pertunjukan ini berhenti?

Kapan panggung ini berganti dengan kenyataan yang lebih adil?

Namun, panggung tetap ramai. Musik terus berdentum. Para pejabat menari semakin liar, seolah tak peduli bila kursi-kursi penonton mulai kosong satu per satu. Rakyat memilih meninggalkan pertunjukan, karena yang tersisa hanyalah ironi: mereka yang dipilih untuk mewakili, justru lupa siapa yang memberi peran itu.

Baca Juga:  Topeng Malangan Kedungmonggo: Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tanah Pakisaji

Dan ketika tirai panggung akhirnya ditutup, yang terdengar hanyalah bisikan getir dari rakyat:
“Negara sedang tidak baik-baik saja, tapi kalian memilih untuk menari di atas luka.”


www.teropongrakyat.co

Baca tentangKebebasan bungkam
Lihat Cerpen Selengkapnya→
Artikel Terkait Cerpen
Breaking NewsKanal lain
TNI – PolriKanal lain