JAKARTA, Teropongrakyat.co— Punya makanan enak belum tentu cukup untuk membuat bisnis kuliner berkembang. Di balik produk yang disukai konsumen, ada tantangan lain yang harus dihadapi pelaku usaha, mulai dari menjaga kualitas, menghitung biaya produksi, memastikan pasokan bahan baku, hingga memperluas jaringan distribusi.
Persoalan ini semakin relevan ketika industri makanan dan minuman Indonesia terus bertumbuh. Berdasarkan data yang dicantumkan dalam materi penyelenggara dan merujuk pada Badan Pusat Statistik (BPS), sektor makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen.
Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas di sektor pangan. Namun, pertumbuhan industri tidak otomatis membuat semua pelaku usaha menikmati peluang yang sama. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah produk yang diminati menjadi bisnis yang mampu bertahan dan berkembang.
Isu inilah yang menjadi salah satu konteks penyelenggaraan KRISTA InterFOOD 2026 di NICE PIK 2 mulai 28 Oktober 2026. Memasuki tahun penyelenggaraan ke-27, pameran yang digelar Krista Exhibitions ini mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman, pemasok bahan baku, produsen teknologi, distributor, importir, hingga pembeli profesional dari berbagai negara.
Tantangan bisnis kuliner bukan cuma soal rasa
Dalam bisnis makanan, cita rasa memang penting. Namun, ketika usaha mulai berkembang, persoalannya menjadi lebih kompleks. Produk harus memiliki kualitas yang konsisten, proses produksi perlu disesuaikan dengan permintaan, dan pengiriman harus mampu menjaga mutu makanan sampai ke tangan pembeli.
Pelaku usaha juga perlu memahami biaya produksi, kebutuhan konsumen, standar keamanan pangan, serta persyaratan yang berlaku ketika ingin memasuki saluran distribusi yang lebih luas.
Artinya, naik kelas bukan sekadar menambah jumlah pesanan atau membuat kemasan lebih menarik. Pelaku usaha perlu membangun sistem bisnis yang mampu menjaga kualitas sekaligus memenuhi permintaan secara berkelanjutan.

Chief Executive Officer Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, mengatakan KRISTA InterFOOD 2026 dirancang untuk mempertemukan inovasi dengan peluang bisnis di sektor makanan dan minuman.
“KRISTA InterFOOD 2026 kami hadirkan sebagai platform strategis untuk mempertemukan inovasi dan peluang bisnis di industri makanan dan minuman,” kata Daud.
Menurut dia, partisipasi pelaku industri dari dalam dan luar negeri, disertai lebih dari 40 program kompetisi, seminar, talkshow, dan business matching, diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi serta memperluas akses pasar.
“Melalui partisipasi pelaku industri nasional dan internasional serta lebih dari 40 program yang mencakup kompetisi berskala internasional, seminar, talkshow, dan business matching, kami mendorong terciptanya kemitraan strategis, perluasan akses pasar, dan peluang investasi berkelanjutan,” ujarnya.
Daud juga menyampaikan optimisme bahwa pameran tersebut dapat mendukung pertumbuhan industri makanan dan minuman Indonesia serta meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.
Bahan baku lokal bisa punya nilai tambah lebih besar
Salah satu peluang yang relevan bagi UMKM adalah mengembangkan bahan baku lokal menjadi produk dengan nilai tambah. Indonesia memiliki beragam sumber daya pangan, tetapi potensi bahan baku perlu diikuti inovasi, proses pengolahan yang tepat, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar.
KRISTA InterFOOD 2026 menghadirkan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026: Intermediate Product Edition, program Kementerian Perindustrian yang berfokus pada pengembangan produk antara berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah pangan.
Produk antara merupakan bahan atau produk yang dapat diolah kembali menjadi produk lain. Pengembangannya berpotensi membuka kesempatan usaha baru, termasuk bagi pelaku industri yang memasok bahan untuk produsen makanan dan minuman lainnya.
Melalui program tersebut, pelaku IKM dapat memperkenalkan produk kepada distributor, pembeli profesional, investor, dan mitra industri. Meski begitu, peluang kerja sama tetap bergantung pada kualitas produk, kapasitas produksi, harga yang kompetitif, dan kemampuan memenuhi standar yang dipersyaratkan pembeli.
Bagi pelaku usaha yang ingin berkembang, hal ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari produk yang sepenuhnya baru. Pengolahan bahan lokal, pengembangan produk antara, dan peningkatan konsistensi mutu juga dapat menjadi jalan untuk menciptakan nilai tambah.
Teknologi dan distribusi ikut menentukan daya saing
Tantangan industri makanan tidak berhenti ketika produk selesai dibuat. Penyimpanan dan pengiriman juga berperan dalam menjaga kualitas, terutama untuk bahan pangan segar dan produk yang mudah rusak.
Karena itu, KRISTA InterFOOD 2026 digelar bersamaan dengan Seafood Show Asia Expo dan ALL Indonesia Cooltech Expo. Pameran produk perikanan tersebut melengkapi agenda teknologi pendinginan dan rantai dingin atau cold chain yang berkaitan dengan penyimpanan serta distribusi produk.
Pengelolaan rantai dingin menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga suhu produk selama proses penyimpanan dan pengiriman. Bagi bisnis yang menangani bahan pangan segar, sistem tersebut berkaitan dengan mutu produk dan upaya mengurangi risiko kerusakan.
Sementara itu, pameran juga menghadirkan beragam kompetisi dan kegiatan pengembangan keterampilan. La Cuisine Cooking Competition 2026 bersama Association of Culinary Professionals Indonesia (ACP Indonesia) akan melibatkan 1.100 chef, sedangkan Global Chef Championship 2026 menghadirkan kompetisi dalam lebih dari 30 kategori masakan tradisional dan internasional.
Sektor kopi turut mendapat ruang melalui kompetisi roasting, cup tasting, kreasi kopi signature, dan manual brew. Ada pula Gelato World Tour 2026 yang berkolaborasi dengan Academy of Pastry and Culinary Arts untuk mendorong kreativitas dalam pengembangan resep dan cita rasa.
Berbagai agenda tersebut memperlihatkan bahwa industri kuliner melibatkan banyak bidang keahlian. Selain koki dan pemilik restoran, sektor ini juga membutuhkan pemasok bahan baku, tenaga produksi, pengelola mutu, penyedia teknologi, hingga mitra distribusi.
Bertemu pembeli saja belum cukup
KRISTA InterFOOD 2026 menempati 11 hall dengan luas area 60.000 meter persegi. Pameran ini menghadirkan 1.100 peserta, termasuk 100 UMKM, dari 16 negara. Penyelenggara menargetkan 95.000 pengunjung profesional dari 30 negara.
Untuk mempertemukan peserta dan calon mitra, penyelenggara menyiapkan program business matching bersama sejumlah asosiasi dan organisasi, termasuk IKABOGA, APRINDO, Thailand Pavilion, serta Asosiasi Pengusaha Frozen Food Indonesia. Ada pula seminar mengenai peluang investasi dan insentif bagi industri makanan Indonesia bersama BKPM dan GAPMMI.
Bagi UMKM, pertemuan semacam ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk dan mencari calon mitra. Namun, hubungan bisnis tidak otomatis terbentuk hanya karena kedua pihak bertemu.
Pelaku usaha tetap perlu menyiapkan informasi produk, struktur harga, kapasitas produksi, jadwal pasokan, serta dokumen pendukung yang dibutuhkan calon pembeli. Kemampuan menindaklanjuti komunikasi juga menentukan apakah pertemuan tersebut berkembang menjadi kerja sama.
Di tengah pertumbuhan industri makanan dan minuman, tantangan terbesar bukan sekadar membuat produk yang disukai konsumen. Pelaku usaha juga perlu memastikan bisnisnya memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menjaga kualitas, memenuhi permintaan, dan bersaing di pasar yang semakin luas.
KRISTA InterFOOD 2026 menjadi salah satu ruang untuk menjajaki peluang tersebut melalui pameran, edukasi, kompetisi, dan pertemuan bisnis. Dampak nyata bagi setiap pelaku usaha nantinya tetap bergantung pada kualitas inovasi, kesiapan bisnis, dan tindak lanjut dari peluang yang diperoleh.
Informasi registrasi tersedia melalui laman resmi penyelenggara di https://register.kristaonline.com/visitor/kristainterfood. Berdasarkan materi penyelenggara, tiket dibanderol Rp250.000 untuk akses empat hari pameran.












