MALANG | Teropongrakyat.co – Antrean kendaraan mengular hingga ke bahu jalan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jumat (9/10/2026). Menipisnya stok Pertalite membuat pengendara harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain demi mendapatkan bahan bakar.
Situasi ini terjadi setelah sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan Pertalite. Konsumen yang gagal mengisi BBM di satu lokasi berbondong-bondong mencari SPBU lain yang masih memiliki persediaan. Akibatnya, antrean kendaraan menumpuk di titik-titik yang masih melayani pengisian.
Persoalan pasokan menjadi sorotan setelah sejumlah pengawas SPBU mengungkap adanya perubahan volume pengiriman. Meski distribusi disebut masih berjalan, persediaan Pertalite dinilai lebih cepat terkuras ketika permintaan meningkat.
Pengawas Operasional SPBU Pakisaji 02, Ahmad Junaedi, mengatakan pengiriman Pertalite ke SPBU tempatnya bertugas tetap berlangsung tiga kali dalam sepekan. Namun, tingginya permintaan membuat ketersediaan stok tidak selalu terjamin.
“Pengiriman bahan bakar normal. Namun, kalau permintaan meningkat dan antrean panjang, kami tidak bisa menjamin stok akan terus tersedia. Ada kalanya habis, tetapi setiap hari tetap ada pengiriman,” ujar Ahmad.
Kondisi lebih mencolok disampaikan pengawas SPBU Pakisaji 01, Arya Putra. Dia menyebut volume pasokan yang biasanya mencapai 16 ton kini disebut hanya delapan ton dalam sehari.
“Biasanya pasokan 16 ton, sekarang hanya delapan ton dalam sehari. Ini mengakibatkan stok Pertalite lebih cepat habis,” kata Arya.
Pengurangan pasokan tersebut, menurut Arya, membuat persediaan lebih cepat habis. Ketika satu SPBU kehabisan stok, konsumen berpindah ke SPBU lain sehingga beban permintaan terkonsentrasi di lokasi yang masih memiliki Pertalite.
Situasi serupa terjadi di SPBU Pepen 54.651.54. Supervisor SPBU, Abil, mengatakan pihaknya masih menunggu pengiriman Pertalite. Pola pasokan yang biasanya diterima dalam satu pengiriman kini disebut berubah menjadi dua tahap.
“Biasanya 16 ton dalam satu pengiriman, sekarang dikirim dua kali secara bertahap. Kalau antrean panjang seperti ini, stok memang bisa cepat habis,” ungkapnya.
Sementara itu, SPBU Pepen 2 dengan nomor 54.651.55 juga dilaporkan kehabisan stok Pertalite. Kondisi di beberapa titik tersebut membuat pengendara harus mencari alternatif lokasi pengisian, sementara antrean terus menjadi persoalan bagi konsumen.
Anggara menyebut, susahnya mencari BBM Pertalite cukup membawa dampak dirinya untuk bisa beraktivitas. Karena selama ini, rutinitas kerja yang dijalani bergantung dengan menggunakan kendaraan bermotor.
“Kerja pakai motor, kalau Pertalitenya langka terus bagaimana,” keluhnya.
Tingginya minat terhadap Pertalite juga diduga berkaitan dengan selisih harga Pertamax yang lebih mahal. Bagi sebagian pengendara, beralih ke BBM nonsubsidi bukan pilihan yang mudah, sehingga permintaan Pertalite tetap tinggi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan volume pasokan di tengah kebutuhan masyarakat. Apalagi, Pertalite menjadi salah satu BBM yang banyak digunakan untuk menunjang mobilitas harian.
Masyarakat membutuhkan kepastian ketersediaan BBM agar tidak harus menghabiskan waktu dengan berpindah-pindah SPBU. Karena itu, penjelasan resmi mengenai volume pasokan, pola pengiriman, dan langkah menjaga kelancaran distribusi diperlukan untuk menjawab kondisi yang terjadi di lapangan.
Hingga berita ini disusun, para pengawas SPBU yang dikonfirmasi menyebut masih menunggu atau menerima pasokan dengan pola pengiriman berbeda. Belum ada keterangan resmi dari pihak pemasok mengenai penyebab perubahan volume pasokan tersebut.












