Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Advertisement
Teropong Rakyat Official AppGRATIS • Berita terkini Install
Gabung Tropong PLUS Masuk
T+
Terkini
Pasang iklan di sini

Jangkau pembaca Teropong Rakyat. Hubungi admin untuk tarif dan ketentuan iklan.

Bagikan:fXWTDari Tokoh Anime, Murid Belajar Mengenal Diri dan Memahami EmosiKomentar: 0

Dari Tokoh Anime, Murid Belajar Mengenal Diri dan Memahami Emosi

Teropong Rakyat, 12 Oktober 2026, 21:38 WIB · 3 menit bacaBaca di App
Huruf
Foto: Dokumentasi

SURABAYA, teropongrakyat.co –  Mengenal diri dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: apa yang disukai, hal baik apa yang pernah dilakukan, dan pribadi seperti apa yang ingin dibentuk. Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari materi *The Art of Being Me* dalam kegiatan *Mental Health in School* bagi murid kelas VII SMP Al Hikmah Surabaya, Senin (12/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di perpustakaan sekolah itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Prasetyo Alif Soeprawiro, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari UPN “Veteran” Jawa Timur, hadir sebagai narasumber dengan membawa tiga pokok pembahasan, yakni mengenali diri, memahami perasaan, dan berani bertumbuh.

Materi menggunakan karakter Senku dari *Dr. Stone*, Frieren dari *Frieren: Beyond Journey’s End*, serta Tanjiro dari *Demon Slayer* sebagai pengantar. Ketiganya menjadi jembatan untuk membicarakan kekuatan diri, proses memahami hubungan, serta keberanian belajar dengan tetap memegang prinsip.

Senku memberikan gambaran tentang seseorang yang menggunakan pengetahuan sains untuk berkontribusi bersama orang lain. Perjalanan Frieren membuka pembahasan mengenai waktu yang diperlukan untuk memahami manusia dan hubungan. Sementara itu, kepedulian Tanjiro menjadi pengantar untuk membahas pilihan tindakan dan pentingnya menerima bimbingan.

Baca Juga:  Kementrian BUMN di Bawah Kepemimpinan Erick Thohir Berharap Dapat Bersinergi Wujudkan Menuju Visi Indonesia Emas 2045

Melalui pengaitan tersebut, murid diajak melihat bahwa kemampuan dan perjalanan setiap orang tidak harus sama. Nilai ujian, penampilan, maupun komentar teman tidak cukup untuk menggambarkan seluruh diri seseorang.

Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan refleksi melalui empat bagian: minatku, kekuatanku, prinsipku, dan prosesku. Lembar kegiatan mengajak murid menuliskan kegiatan yang disukai, tindakan baik yang pernah dilakukan, pribadi yang ingin dibentuk, serta hal yang sedang dipelajari.

Contoh yang digunakan dekat dengan kehidupan sekolah, seperti menemani teman yang duduk sendirian, berusaha menjadi orang yang dapat dipercaya, dan belajar menyapa teman baru. Dengan demikian, kekuatan diri diperkenalkan melalui tindakan sehari-hari, bukan hanya prestasi atau penghargaan.

Pada bagian memahami perasaan, materi mengenalkan enam emosi dasar: senang, sedih, takut, marah, jijik, dan terkejut. Murid mendapat tugas memilih emosi dan melengkapi kalimat tentang waktu serta kejadian yang berkaitan dengan perasaan tersebut.

Baca Juga:  Aliansi Jakarta Utara Menggugat, Somasi Gubernur DKI dan PT Pelindo

Pesan yang ditekankan adalah bahwa emosi dapat diakui, sementara cara mengekspresikannya perlu dipilih. Marah, misalnya, dapat disampaikan tanpa memukul atau menyakiti. Ketika menghadapi kesulitan, murid juga diarahkan untuk mencari dukungan dari orang dewasa yang aman dan dipercaya.

Sebagai penutup, lembar refleksi memuat komitmen satu langkah kecil untuk dilatih. Pilihannya mencakup mengambil jeda ketika kesal, bercerita saat membutuhkan bantuan, atau mencoba kembali hal baik yang sedang dikembangkan. Kolom mengetahui orang tua atau wali turut disediakan agar lembar tersebut dapat menjadi pembuka percakapan di rumah.

Melalui kegiatan ini, pengenalan kesehatan mental dihadirkan dalam bahasa yang dekat dengan keseharian murid. Pesan yang dibawa adalah bahwa mengenal diri merupakan proses yang terus berjalan, dan meminta bantuan menjadi bagian dari keberanian untuk bertumbuh.

Penulis: PAS

Lihat Nasional Selengkapnya→
Artikel Terkait Nasional
Breaking NewsKanal lain
TNI – PolriKanal lain