MALANG | Teropongrakyat.co — Pemerintah Kota Malang memperkuat pengembangan literasi melalui standarisasi perpustakaan sekolah, perluasan perpustakaan kelurahan, serta penyediaan akses bahan bacaan berbasis digital. Upaya ini menjadi bagian dari program Ngalam Pinter untuk membangun masyarakat yang berpengetahuan, kritis, kreatif, dan inovatif.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat memberikan sambutan dalam Pekan Literasi Kota Malang 2026 bertema “Perspektif Wali Kota Malang terhadap Kemajuan Literasi dalam Program Ngalam Pinter”, yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang di kantor Dispussipda, Jalan Besar Ijen Nomor 30A, Kota Malang.
Wahyu menegaskan, literasi tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi berperan membentuk pola pikir kritis, mengembangkan kreativitas dan inovasi, serta membangun kemampuan masyarakat dalam menyikapi perkembangan zaman secara bijak.
“Di sinilah literasi berperan penting. Bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun pola pikir kritis, kreativitas, inovasi, dan kebijaksanaan dalam menghadapi perkembangan,” demikian inti pesan Wahyu dalam sambutannya.
Menurutnya, penguatan literasi harus berjalan beriringan dengan perluasan akses pendidikan dan kemudahan memperoleh bahan bacaan. Karena itu, program Ngalam Pinter terus didorong melalui berbagai langkah nyata, termasuk peningkatan kualitas perpustakaan dan pengembangan layanan literasi yang dapat dijangkau masyarakat.
396 Perpustakaan Sekolah Jalani Standarisasi
Salah satu capaian yang disampaikan Wahyu adalah pelaksanaan standarisasi perpustakaan sekolah di Kota Malang. Dari total 404 perpustakaan SD dan SMP, sebanyak 396 perpustakaan disebut telah melaksanakan standarisasi.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 98 persen. Capaian ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Malang memperkuat kualitas layanan perpustakaan di lingkungan pendidikan.
Selain standarisasi, sebanyak 23 perpustakaan SD dan SMP telah meraih akreditasi A. Peningkatan kualitas pengelolaan tersebut diharapkan mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik dan memperkuat kebiasaan membaca di kalangan pelajar.
Pemkot Malang juga memperluas layanan literasi hingga tingkat kelurahan. Pada 2025, sebanyak 20 perpustakaan kelurahan dirintis. Kemudian pada 2026, pemerintah kembali merintis 15 perpustakaan kelurahan baru untuk memperoleh dukungan hibah dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Langkah ini diarahkan agar masyarakat semakin mudah mendapatkan bahan bacaan bermutu, termasuk warga yang tinggal jauh dari fasilitas perpustakaan umum.
Perluas Akses Bacaan melalui Layanan Digital
Pengembangan literasi juga dilakukan melalui sejumlah fasilitas yang mendekatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat. Di antaranya pojok baca digital di Taman Trunojoyo, layanan perpustakaan di Malang Creative Center (MCC), serta pojok baca di Mal Pelayanan Publik.
Selain layanan fisik, Pemkot Malang turut menghadirkan aplikasi perpustakaan digital yang dalam sambutan disebut sebagai Malang Pintar. Kehadiran layanan tersebut diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan melalui pemanfaatan teknologi.
Wahyu juga menyoroti transformasi perpustakaan umum Kota Malang di kawasan Ijen. Pembenahan fasilitas diarahkan untuk menghadirkan ruang publik yang nyaman, tertib, dan menarik sehingga perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang belajar, berdiskusi, berkreasi, dan berkegiatan.
Pekan Literasi Jadi Ruang Apresiasi
Sementara itu, Kepala Dispussipda Kota Malang, Yayuk Hermiati, menjelaskan bahwa Pekan Literasi Kota Malang 2026 diselenggarakan untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, kreatif, inovatif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi pelajar, pengelola perpustakaan, komunitas, dan insan literasi yang berkontribusi dalam pengembangan budaya baca, pendidikan, serta kreativitas masyarakat.
Rangkaian kegiatan meliputi lomba bertutur, lomba perpustakaan kelurahan, lomba video konten, serta bimbingan teknis kepenulisan. Hasil kegiatan kepenulisan juga diarahkan menjadi karya yang dibukukan sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan dan mengembangkan pengetahuan.
Yayuk menyebut, kegiatan tersebut melibatkan unsur pemerintah, lembaga pendidikan, pengelola perpustakaan, komunitas literasi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan aktivitas masyarakat.
Melalui Pekan Literasi Kota Malang 2026, Dispussipda mendorong agar pengembangan literasi tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama yang memperluas akses bacaan, meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, dan membangun kebiasaan membaca secara berkelanjutan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan masyarakat Kota Malang yang berpengetahuan, produktif, kreatif, dan berkarakter melalui program Ngalam Pinter.












