JAKARTA – Teropongrakyat.co – 22 Oktober 2026 – Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) merupakan warisan pelayanan yang harus dipertahankan dan menjadi tanggung jawab bersama agar diteruskan ke generasi berikutnya. Hal itu disampaikan Dicky Suwarta, Ketua Umum Sinode GGP dalam pembukaan Sidang Raya ke XVI GGP di Tangerang, Banten (21/10).
Dia menyampaikan bahwa GGP dapat bertahan karena masih ada anak-anak Tuhan yang bersedia mengambil tanggungjawab meneruskan pelayanan yang telah dirintis oleh para pendiri GGP.
“Sebagai Gereja Pentakosta, tahun ini sudah berusia 103 tahun dan enam bulan lagi berusia 104 tahun,” katanya.
Menurutnya dihadapan sekitar 800-an pendeta Dicky menegaskan bahwa GGP dapat bertahan hingga lebih satu abad disebabkan tiga alasan yakni; asas pengajaran yang terbukukan dengan baik, kebersamaan yang kuat antar pengurus dari pusat hingga ke daerah dan antar sidang jemaat, dan hamba-hamba Tuhan yang memahami konstitusi organisasi.
Adapun maksud dari tiga alasan tersebut antaranya Azaz pengajaran yang tidak tergoyahkan, di mana zaman boleh berubah dan organisasi boleh berkembang, tetapi azas pengajaran harus tetap teguh sebagai fondasi dan identitas GGP.
Kemudian terkait kebersamaan tanpa saling melukai bermakna dalam menghadapi tantangan dan perbedaan, kita boleh berbeda pandangan, tetapi harus tetap mengedepankan kasih, menjaga kebersamaan, dan tidak saling melukai.
Dan ketiga Tahu jalan pulang artinya kembali ke konsitusi di mana sejauh dan selelah apa pun perjalanan kita.
Konstitusi GGP adalah jalan pulang, dan Sidang Raya adalah pintunya. Identitas baru mungkin membentuk rumah baru, tetapi bukan berarti menjadi pintu pulang GGP.
Dalam sambutannya, Dicky mengajak peserta SR ke XVI GGP agar bersidang secara tertib karena kelancaran persidangan bagian dari kesuksesan bersama.
Selain itu, suksesnya pelaksanaan SR, lanjutnya, merupakan tanggung jawab bersama seluruh jajaran pimpinan penguru Sinode GGP di tingkat pusat dan daerah.
Sementara itu, Anton Tarigan, Ketua PGLII mengajak seluruh peserta SR ke XVI GGP dapat mendahulukan kepentingan bersama agar mendapatkan hasil yang luar biasa dalam menuai jiwa-jiwa baru di Indonesia.
“Mari arahkan pandangan kita untuk penuaian menyambut kedatangan Tuhan Yesus,” katanya.
Menurut dia, pertumbuhan kekristenan kisaran 1,1% dari seluruh populasi masyarakat di Indonesia.
Persentase pertumbuhan itu, katanya, mengindikasikan adanya pelambatan dalam penuaian jiwa-jiwa baru yang datang ke gereja.
“Kiranya GGP menyumbang tuaian jiwa-jiwa menyambut kedatangan Tuhan,” katanya.
Pada pembukaan SR itu, sejumlah undangan tampak hadir yakni, Lenta Enni Simbolon, Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jason Balompapueng, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Anton Tarigan, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili (PGLII), Benny Halim, Ketua PGI Wilayah Banten, dan Hemden Harapan Nainggolan, Ketua Pembimas Kristen DKI Jakarta.
Narso, Ketua Panitia SR ke XVI GGP menyampaikan perhelatan SR bukan tentang apa yang telah dikerjakan pada masa lalu, tapi tentang panggilan yang melampui capaian yang dimiliki mememasuki pelayanan yang disediakan Tuhan.
SR ke XVI GGP mengambil tema dalam Yosua 3:4 “…Maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.”
Sekadar diketahui, GGP berdiri pada 12 April 1923 di Cepu, Jawa Tengah. Pelopor gereja ini Johannes Gerhard Thiessen, misionaris utusan dari Misi Gerakan Pentakosta Belanda (Pinksterbeweging) yang datang ke Indonesia pada 1901.
Dalam Sidang raya tersebut dibuka dengan ibadah yang disampaikan pendeta Jason Balompapueng ketua umum PGPI dilanjutkan dengan pemukulan gong.
Red/JS/IM












