JAKARTA, teropongrakyat.co — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyatakan siap memanfaatkan momentum koreksi pasar modal untuk berinvestasi pada saham-saham perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah tersebut muncul di tengah tekanan besar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot tajam pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Berdasarkan data perdagangan yang dikutip Katadata.co.id, IHSG ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 10 saham menguat, sementara 775 saham melemah dan 10 saham lainnya stagnan.
Tekanan pasar terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan opsi penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori emerging market atau pasar negara berkembang menjadi standalone market. Wacana tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia.
Jika penurunan status itu benar-benar terjadi, Indonesia berpotensi kehilangan statusnya sebagai pasar negara berkembang dalam klasifikasi MSCI, yang dapat memengaruhi minat investor institusi global dan aliran investasi asing.
Danantara Nilai Koreksi sebagai Peluang Investasi
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menilai penurunan harga saham saat ini membuka peluang investasi jangka panjang. Menurutnya, koreksi pasar membuat valuasi sejumlah perusahaan, termasuk emiten BUMN, berada pada level yang relatif rendah.
Rosan menegaskan bahwa keputusan investasi Danantara tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan dari transaksi saham dalam jangka pendek, melainkan mempertimbangkan prospek bisnis dan fundamental perusahaan.
“Kami meyakini, melihat, dan menganalisis bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan kita ini sangat baik. Sangat baik, saya tekankan,” kata Rosan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Ia menyebut sejumlah bank pelat merah, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), masih memiliki fundamental yang solid.
Menurut Rosan, valuasi sejumlah saham perbankan tersebut bahkan berada di bawah satu kali price-to-book value (PBV), meskipun penilaian tersebut perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing emiten dan perbandingan dengan perusahaan sejenis.
Selain perbankan, Danantara juga mencermati peluang investasi di sektor infrastruktur dan telekomunikasi.
Faktor Teknis dan Sentimen Pasar Jadi Perhatian
Rosan menilai tekanan pasar saat ini turut dipengaruhi faktor teknikal, rumor, serta sentimen yang tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Karena itu, ia mengimbau pelaku pasar untuk tetap memperhatikan kinerja keuangan, prospek usaha, dan nilai intrinsik perusahaan dalam mengambil keputusan investasi.
Danantara, lanjutnya, melihat koreksi pasar sebagai momentum untuk menempatkan modal pada saham-saham Indonesia dengan orientasi jangka panjang. Ia optimistis perusahaan-perusahaan yang tercatat di BEI masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai bisnisnya pada masa mendatang.
Meski demikian, penurunan harga saham tidak otomatis menjamin keuntungan bagi investor. Risiko pasar, perubahan sentimen global, serta kemungkinan perubahan klasifikasi MSCI tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Kesiapan Danantara untuk berinvestasi di tengah tekanan pasar menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati, terutama terkait strategi pengelolaan investasi negara dan upaya menjaga kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.












